Kotbah
Minggu, 21 April 2013
Perempuan:
Allah Mempercayai Dan Mengutusnya
Markus
16:9-11 & Yohanes 20:11-18
Bapak,
ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, hari ini tanggal
21 April diperingati sebagai hari Kartini. Untuk mengenang segala jasa dan
perjuangannya, bersama-sama kita berdiri dan menyanyikan lagu “Ibu Kita
Kartini”. “Ibu kita Kartini, putri
sejati, putri Indonesia harum namanya. Ibu kita Kartini pendekar bangsa,
pendekar kaumnya untuk merdeka. Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia.
Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia”.
Apa yang kita ingat dari sosok Kartini? Pahlawan
perempuan, emansipasi wanita, kesetaraan gender, buku Habis Gelap Terbitlah Terang, kota kelahiran di Jepara, suaminya
bernama Raden Adipati Djoyodiningkrat berasal dari Rembang.
Pada masa kecilnya, Kartini mendapatkan perlakuan yang
sama seperti para perempuan pada zaman itu. Setelah lulus Sekolah Dasar ia
tidak diperbolehkan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Bersama
sang ibu, Kartini kecil dididik untuk bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak,
menyeterika, mencuci, berkebun, menjahit dan menyulam.
Merasakan hidup sebagai perempuan yang dibeda-bedakan
dari laki-laki, Kartini bertekad mengubah sikap & cara pandang yang ada
pada saat itu. Mulailah Kartini rajin membaca buku dan media cetak baik lokal
maupun internasional.
Suatu kali Kartini menulis surat agar diberikan beasiswa
studi ke Belanda. Tapi sayang, setelah beasiswa itu disetujui Kartini dinikahkan
orang tuanya dengan Adipati Djoyodiningkrat. Bersama dengan suaminya, Kartini
mendirikan beberapa Sekolah khusus perempuan. Yang diberi nama “Sekolah
Kartini”. Sayangnya, saat melahirkan anak yang pertama, Kartini meninggal
dunia. Sepeninggal Kartini, seorang teman yang berasal dari Belanda
mengumpulkan tulisan-tulisan Kartini, disatukan menjadi sebuah buku yang diberi
Judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Bapak, ibu dan
saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
sosok Kartini dan pemikiran-pemikirannya menginspirasi banyak perempuan di
Indonesia. Bahwa perempuan tidak kalah dari laki-laki. Perempuan mempunyai
kedudukan yang sejajar dengan laki-laki.
Penulis Alkitab Perjanjian Baru, khususnya Injil dan
lebih khusus lagi, peristiwa seputar kebangkitan dan penampakan Yesus juga menempatkan
sosok perempuan sebagai aktor utama. Tidak lagi para lelaki, tetapi para
perempuan. Saat Yesus masih hidup dan berkarya di tengah-tengah dunia, aktor
utamanya memang para murid laki-laki. Akan tetapi saat peristiwa salib,
kematian, kebangkitan, penampakan dan kenaikan Yesus ke sorga, sosok perempuan
lah yang acapkali disebut-sebut oleh ke empat Injil.
Termasuk di dua
bacaan kita pagi ini, sosok perempuan yang bernama Maria Magdalena menjadi
aktor utamanya. Markus 16:9, mengingatkan kita semua tentang siapa sosok Maria
Magdalena sebelum menjadi murid Yesus. Ia adalah seorang perempuan yang pernah
dirasuki tujuh setan. Setelah Yesus menyembuhkannya, Maria menjadi pelayan
Yesus yang sangat setia. Lukas 8:1-3 mencatat bahwa Maria dan perempuan
lainnya menggunakan seluruh kekayaan
mereka untuk melayani Yesus beserta rombongannya.
Kesetiaan Maria Magdalena kepada Yesus tidak hanya
dilakukannya saat sang guru masih berkarya, masih gagah perkasa. Melainkan saat
sang guru tanpa daya di paku di atas kayu salib, Maria tetap setia berada di
dekat salib Yesus, sementara murid-murid Yesus laki-laki kocar-kacir entah
kemana (Lih. Yohanes 19:25). Bahkan
kesetiaan Maria Magdalena tetap kukuh meski sang guru telah tiada. Semua Injil
mencatat, pagi-pagi buta Maria Magdalena bersama para perempuan yang lain
datang ke kubur Yesus. Tidak dengan tangan kosong melainkan semalam-malaman
mereka begadang dan menyiapkan rempah-rempah serta minyak untuk mengurapi mayat
Yesus. Jelas, Maria Magdalena dan para perempuan lainnya memiliki kesetiaan
yang dahsyat, jauh dibandingkan para murid Yesus yang adalah para lelaki.
Selain kesetiaan, Maria Magdalena memiliki keberanian
yang luar biasa sebagai seorang perempuan. Biasanya, sosok perempuan di cap
“penakut”. Takut gelap, takut sepi, takut di rumah sendirian, takut jalan
sendiri, dsbnya. Tetapi dari kisah yang kita baca bersama, Maria adalah sosok
perempuan pemberani. Yohanes 20:10, ayat sebelumnya mencatat, “lalu pulanglah
kedua murid itu ke rumah”. Lalu ayat 11 katakan, “Tetapi Maria berdiri dekat
kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur”.
Murid-murid yang lain telah pergi tetapi Maria justru tinggal bahkan masuk ke
dalam kubur itu, seorang diri. Betapa beraninya Maria.
Bahkan di dalam kubur itu, ia berjumpa dengan dua sosok
orang yang tidak dikenal. Maria tentu sadar, dua orang itu bukanlah murid-murid
Yesus yang lain. Mereka berpakaian putih dan anehnya lagi mereka duduk di
tempat mayat Yesus dibaringkan. Mari kita bayangkan, seandainya kita ada di
posisi Maria, apa yang kita perbuat? Pasti kita akan teriak dan lari. Apalagi,
ada sosok lain yang tiba-tiba hadir di sana.
Bapak, ibu dan
saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
bukan tanpa alasan Tuhan Yesus Kristus memilih Maria Magdalena menjadi saksi
pertama kebangkitan dan penampakan-Nya. Maria Magdalena adalah sosok perempuan
yang punya kesetiaan dan keberanian melebihi murid-murid Yesus yang lain. Kesempatan
berharga melihat rupa Yesus yang bangkit dari dekat diberikan kepada Maria
karena ia sosok perempuan yang luar biasa. Tuhan Yesus mempercayai dan mengutus
Maria Magdalena karena memang ia layak dipercaya dan tepat menjadi utusan.
Ada di antara kita yang mungkin bertanya, kenapa pada
saat itu harus perempuan yang menjadi saksi kebangkitan Yesus? Bukankah,
kesaksian para perempuan pada masa itu tidak dipercaya? Seandainya, Petrus,
Yohanes dan Yakobuslah yang dipakai Yesus menjadi saksi kebangkitan-Nya pasti
ceritanya lain. Kisah kebangkitan Yesus pasti lebih cepat menyebar karena
Petrus, Yohanes dan Yakobus lebih dipercaya dibanding para perempuan. Apakah
benar demikian? Seandainya bukan perempuan yang dipakai Yesus menjadi saksi,
melainkan laki-laki, apakah berita kebangkitan Yesus dapat didengar oleh
murid-murid yang lain? Belum tentu! Pilihan Tuhan tidak pernah salah. Dan Tuhan
memilih, bukan tanpa alasan. Tuhan melihat kesetiaan dan keberaniaan Maria
Magdalena dan para perempuan lainnya, tidak dimiliki murid-murid Yesus
laki-laki.
Bapak, ibu dan
saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
melalui teladan Kartini dan Maria Magdalena, kita semua diingatkan, tidak hanya
para perempuan melainkan juga para lelaki, bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang
solider, yang berbela rasa, terhadap kaum perempuan. Tuhan tidak pernah
membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Semuanya sama di hadapan Tuhan.
Kalau Kartini menjadi inspirasi kebangkitan para
perempuan di Indonesia untuk berkarya di tengah kehidupan masyarakat, bangsa
dan negara. Biarlah Maria Magdalena pun menjadi inspirasi para perempuan untuk
mau dipakai Tuhan menjadi alat-menjadi utusan-menjadi para pelayannya. Para
perempuan yang penuh semangat, kesetiaan dan keberaniaan dalam segala situasi.
Suka maupun duka. Pahit ataupun manis. Dapat dipercaya dan diutus Tuhan menjadi
saksi kemuliaan Tuhan di tengah-tengah dunia.
Buktinya sudah ada, bazar penggalangan dana Wilayah Utara
yang dikoordinir oleh ibu-ibu hasilnya luar biasa melimpah. Meski awalnya ada
banyak keragu-raguan, gimana nanti kalau hujan, kalau yang beli sedikit, tetapi
karena semangat, kesetiaan, keberaniaan dan terlebih karena pertolongan Tuhan,
ibu-ibu dipercaya dan dipakai Tuhan hingga hasilnya luar biasa. Meski dari pagi
hingga malam belum mandi. Tetap ada senyum sumringah.
Khusus bagi para lelaki, sosok Kartini dan juga Maria
Magdalena kiranya boleh semakin menyadarkan kita bahwa Allah pun mengasihi,
mempercayai dan mengutus para perempuan. Kita para lelaki harusnya bisa semakin
solider, semakin mengasihi, mempercayai, menjadikan perempuan sebagai kawan
sekerja-partner dalam segala aspek kehidupan kita. Baik dalam relasi
suami-isteri, tempatkanlah isteri anda sebagai partner, sahabat, kawan sekerja,
bahkan penolong. Dalam relasi antara orang tua dan anak, jangan lagi membeda-bedakan
kasih sayang antara anak perempuan dan laki-laki. Dalam kehidupan bermasyarakat
jangan ada yang berpendapat bahwa perempuan belum layak menjadi pemimpin. Dalam
kehidupan bergereja, jangan ada pandangan bahwa perempuan belum layak menjadi
majelis, penatua atau diaken.
Sekali lagi, Tuhan melihat kesetiaan dan keberanian Maria
Magdalena, sehingga Tuhan percaya dan mengutus-Nya. Mari para perempuan
milikilah kesetian dan keberanian agar dipercaya dan diutus Tuhan. Tuhan Yesus
Memberkati, Amin.
Kotbah Minggu, 24
Maret 2013
SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA?
1 Raja-Raja 17:7-15 & Lukas 10:25-37
“Siapakah sesamaku manusia?”
Saya memberi waktu 1 menit kepada bapak, ibu dan saudara sekalian untuk
mengucapkan kalimat pertanyaan ini dalam hati panjenengan masing-masing. Sudah?
Sekarang saya meminta Pak/Bu/Mas/Mbk................., mengucapkan kalimat tadi
dengan bersuara, kemudian menjawabnya, sesuai dengan apa yang ada dipikiran
panjenengan. Harus menjawab langsung dengan spontan, tidak boleh ada jeda.
Bapak,
ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, menurut
catatan di beberapa kamus bahasa Indonesia kata “sesama” mengandung arti sama, kembar, pas, patut, sebanding, sesuai. Dari
arti kata sesama tersebut, muncul kesan bahwa yang disebut sesama adalah mereka
yang sama, kembar, pas, sebanding, sesuai. Kalau disebut sesama manusia itu
berarti manusia-manusia yang sama, manusia-manusia yang sebanding,
manusia-manusia yang sesuai, manusia-manusia yang pas. Sebaliknya bukanlah
manusia-manusia yang berbeda, manusia-manusia yang saling bertolak belakang.
Kalau kita perdalam lagi,
dari arti kata sesama yang kita ketahui tadi, kita akan dengan mudah memberi
contoh, o..berarti yang dimaksud sesama manusia adalah orang-orang yang sama
agamanya, orang-orang yang sama suku bangsanya, orang-orang yang sama status
sosialnya, yang sama hobinya, yang sama pekerjaannya, yang sama pendidikannya,
yang sama gerejanya, yang sama jenis kelaminnya. Berarti mereka yang berbeda
agama bukan sesama kita, mereka yang berbeda suku bangsa bukan sesama kita,
mereka yang berbeda status sosial bukan sesama kita, mereka yang berbeda jenis
kelamin bukan sesama kita, mereka yang berbeda gereja bukan sesama kita.
Kasian sekali
keluarga-keluarga yang orang tuanya bergereja di GKJ sementara anak-anaknya di
gereja lain. Berarti orang tua harus berkata, “hai anakku, karena gerejamu
bukan GKJ, kamu bukan sesamaku!”. Lebih kasian lagi panjenengan yang sudah
menikah. Sang suami bisa dengan lantang berkata kepada isterinya, “karena kamu
perempuan dan aku laki-laki berarti kamu bukan sesamaku!” Tidak kalah berani,
isteri juga menyahut, “siapa yang mau jadi sesamamu!, GR!”
Bisa kita bayangkan apa
jadinya dunia ini jika semua orang berkata, “sesamaku manusia hanyalah
orang-orang yang sama denganku!”. Dunia akan kacau balau. Tidak ada kedamaian,
tidak ada ketenteraman. Yang ada hanyalah perselisihan, pertengkaran,
percekcokan. Negara yang satu menyerang negara yang lain. Suku bangsa yang satu
menjajah suku bangsa yang lain. Agama yang satu meniadakan agama yang lain.
Gereja yang satu menghina gereja yang lain.
Bapak, ibu dan saudaraku
yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, terlepas dari arti kata “sesama” di
dalam kamus bahasa Indonesia, pagi ini melalui kisah orang Samaria yang murah
hati kita akan belajar bersama tentang pertanyaan “siapakah sesamaku manusia”
menurut Tuhan Yesus. Sebuah pertanyaan yang datang dari seorang Ahli Taurat
yang ingin menjebak Yesus.
Kisah orang Samaria yang
murah hati adalah sebuah kisah yang sangat mengharu-biru. Kisahnya sangat
dramatis, ibarat kalau di sinetronkan ratingnya pasti akan tinggi. Alkisah ada
seorang yang tengah menempuh perjalanan dari Yerusalem menuju Yerikho, ia
dirampok, seluruh harta bendanya habis ludes tak bersisa, ditambah ia dipukuli
hingga mau mati. Selang beberapa waktu, lewatlah seorang imam. Kita semua tahu
imam adalah golongan pemuka agama Yahudi. Seluruh waktunya dipakai beribadah,
berdoa dan membaca kitab-kitab Taurat. Dengan tegas dikatakan, “imam itu
melihat orang itu”. Tapi sayang hanya sekadar melihat lalu ia melewatinya.
Juga lewat di jalan itu
seorang Lewi, mereka ini adalah salah satu suku Israel yang dikhususkan untuk
menjadi seorang imam, bisa dikatakan seorang Lewi adalah calon imam. Mereka
dikenal juga sebagai orang-orang yang taat beragama. Tidak ada bedanya dengan
sang imam, ia melewati orang itu.
Kemudian datanglah seorang
Samaria. Di kalangan orang Yahudi orang-orang Samaria adalah kelompok
masyarakat kelas dua. Karena mereka bukan keturunan orang Yahudi asli. Campuran
orang Yahudi dan non Yahudi. Kalau dalam bahasa sekarang mereka bukan genuine tetapi kw. Selain itu, ibadah orang Samaria dianggap salah/sesat oleh
orang-orang Yahudi. Sebaliknya orang-orang Samaria pun memiliki cara pandang
yang negatif terhadap orang-orang Yahudi. Mereka mengklaim diri sebagai bagian
dari bangsa Israel asli. Selain itu mereka menganggap bahwa orang-orang Yahudi justru
sudah tercemar hidup keagamaannya. Sejak zaman imam Eli.
Terlepas dari segala
perseteruan yang sudah mengakar kuat antara orang Yahudi dan orang Samaria,
melihat ada orang tergeletak hampir mati di tengah jalan orang Samaria itu
tergerak hatinya oleh rasa belas kasihan. Di ayat 34-35 dikatakan, ia menghampiri
orang yang terluka itu, dibalut luka-lukanya, disiramnya dengan minyak dan
anggur, bukan untuk dibakar tetapi supaya lukanya tidak mengalami infeksi. Ia
menaikkan orang itu ke atas keledainya lalu membawanya ke tempat penginapan dan
merawatnya.
Sedikit kita berimajinasi,
orang Samaria ini benar-benar merawat, menemani orang itu semalam-malaman.
Mungkin harus begadang, tidak tidur. Hingga keesokan harinya ia menyerahkan dua
dinar kepada pemilik penginapan itu, sambil berkata: “rawatlah dia dan jika kaubelanjakan
lebih dari ini aku akan menggantinya waktu aku kembali”.
Bapak, ibu dan saudaraku
yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, saya coba menghitung-hitung, ternyata
saya menemukan ada sembilan kata kerja aktif dalam ayat 34-35 untuk
memperlihatkan tindakan kongkrit orang Samaria itu. Mendatangi, membalut luka,
menyiram dengan minyak, menyiram dengan anggur, menaikkan ke atas keledai,
membawa, merawat, membayar dan berpesan. Sebuah tindakan yang lengkap,
sempurna, kalau istilah bahasa pastoral itu disebut pendampingan yang holistik, menyeluruh, totalitas. Tentu bukan hal
yang mudah.
Sebenarnya hanya berpikir untuk berhenti,
menengok keadaaan orang yang tergeletak di tengah jalan saja bukan hal yang
mudah, penuh resiko. Jalan dari Yerusalem ke Yeriko kurang lebih sepanjang 27
kilometer, jalan itu tidak seperti jalan-jalan di Bekasi yang ramai bahkan
macet. Melainkan jalan yang sepi, gelap dan sangat rawan. Bisa saja orang
Samaria ganti dirampok bahkan dibunuh.
Mungkin pernah ada di antara
kita diperhadapkan pada situasi dan kondisi yang mirip seperti orang Samaria.
Ada orang kecelakaan di pinggir jalan, belum ada yang menolong. Kita mau
menolong, tapi maju mundur, gimana nanti kalau terlambat kerja, gimana nanti
kalau justru dituduh yang nabrak, gimana nanti kalau harus bawa ke rumah sakit,
gimana nanti kalau harus berurusan dengan pihak yang berwajib, gimana nanti dan
gimana nanti. Akhirnya kita lebih memilih untuk tidak menolong. Ini baru mau
menolong. Sudah berpikir sangat panjang. Apalagi harus menolong, merawat
mendampingi hingga tuntas. Bukan hal yang mudah. Tetapi semua itu dilakukan
oleh orang Samaria.
Bapak, ibu dan saudaraku
yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, di ayat 36, Yesus bertanya kepada ahli
Taurat yang bermaksud menjebaknya, “siapakah di antara ketiga orang ini menurut
pendapatmu adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
Lalu orang itu menjawab, “orang yang telah menunjukkan belas kasihan
kepadanya”. Kata Yesus kepadanya, “pergilah dan perbuatlah demikian”.
Di akhir kisah ini, jelas
sekali bahwa Yesus katakan bahwa yang menjadi sesamamu bukan hanya mereka yang
sama denganmu, bukan hanya mereka yang sesuku, sebangsa, segolongan denganmu,
tetapi mereka yang “tergerak hatinya oleh belas kasihan dan yang menunjukkan
belas kasihan”. Yang menjadi sesama adalah orang yang mau memberi tempat di
dalam hatinya untuk orang lain. Tidak dibatasi dia Yahudi atau dia Samaria. Dia
imam, orang Lewi atau rakyat biasa.
Orang Samaria itu telah
berperan sebagai sesama manusia bagi orang Yahudi yang hampir mati di tengah
jalan. Bagi orang Samaria, sesama manusia adalah orang yang membutuhkan
pertolongannya, tidak peduli apa bangsanya, apa agamanya. Dan ini sebenarnya
jiwa solidaritas Kristus tentang sesama manusia. Kristus mau melayani sesama
manusia melampaui sekat-sekat, batasan-batasan suku bangsa, agama, budaya,
status sosial, pekerjaan, pendidikan, gereja, keluarga, dsbnya. Yang Ia tahu
bahwa Ia hadir, menawarkan kelegaan kepada siapapun juga yang letih, lesu dan
berbeban berat. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28).
Bapak,
ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
jiwa solidaritas Kristus juga ditunjukkan ibu janda Sarfat (1 Raja-Raja
17:7-15). Dalam keterbatasannya, ia tetap mau menerima dan membagi minuman dan makanannya
kepada Elia. Orang asing yang tidak ia kenal sama sekali. Awalnya Elia hanya
meminta minum, tetapi ternyata ia juga meminta roti. Ibarat unen-unen jawa, “diwenehi ati ngrogoh rempelo”. Bisa
saja ibu janda Sarfat kesal dan marah dengan sikap Elia. Akan tetapi ia tidak
melakukannya. Ibu janda Sarfat justru membuatkan roti untuk Elia meski itu
adalah cadangan makanan terakhir untuk dia dan anaknya. Kisah berakhir happy ending, Allah mencukupkan tepung
dan minyak ibu janda sarfat itu.
Bapak,
ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
untuk mengakhiri kotbah ini, mari kita kembali melihat kisah orang Samaria yang
baik hati. Ada berapa peran dalam cerita tersebut. Pertama, orang yang jadi
korban perampokan. Kedua, imam. Ketiga, orang Lewi. Keempat, orang Samaria.
Sudah? Hanya empat? Tidak ada yang lain?. Saya menemukan ada 6. Yang kelima
adalah pemilik penginapan. Tidak disebutkan pemilik penginapan itu orang
Samaria atau orang Yahudi. Bayangkan seandainya pemilik penginapan orang
Yahudi, ia pasti berkata, “engkau orang Samaria, pasti orang yang kamu bawa ini
juga orang sebangsamu, aku tidak mau menerimanya, kalian bukan sesamaku!”.
Yang Keenam adalah keledai.
Mari kita berimajinasi, seandainya keledai bisa berkata, mungkin ia akan
berkata, “kalian manusia dan aku keledai, kalian bukan sesamaku”. Jika keledai
ngambek, kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada orang yang hampir mati
tadi? Mungkin benar-benar akan mati. Tapi seandainya, keledai itu berkata
kepada saya, saya akan menjawab: “hai keledai, jangan lupa, kita sama-sama ciptaan
Tuhan!” Selamat Merenungkan Firman-Nya. Tuhan Yesus Memberkati.
Kotbah Minggu,
21 Oktober 2012
Menjadi Juru
Damai Di Tengah Keluarga
Mazmur 72:1-6
& Matius 5:9
Mazmur 72 adalah semacam doa yang berisi
pesan-pesan moral sekaligus harapan kepada seorang raja yang baru dilantik.
Doa-doa tersebut biasanya dibacakan di tengah upacara pelantikan seorang raja. Dan
disebutkan bahwa Raja Salomo lah yang menulis doa-doa tersebut. Pertanyaannya
adalah apa tujuan Salomo menulis doa-doa tersebut?
Saya menemukan ada dua hal, mengapa
Salomo menuliskan doa-doa yang berisi tentang harapan kepada raja baru. Pertama, jelas, Salomo ingin supaya raja
yang baru benar-benar mau dan mampu menjadi raja yang adil dan bijaksana.
Mengasihi orang-orang yang tertindas. Menolong orang-orang miskin. Mengusahakan
damai sejahtera bagi rakyatnya. Menegakkan nilai-nilai kebenaran. Dan itu
dilakukan oleh raja baru, tidak hanya sementara, atau pas di awal-awal ia
memerintah, tidak hanya sekedar hangat-hangat
tai ayam melainkan seterusnya, selama-lamanya. Pengalaman Salomo sebagai
raja, membuatnya ingin berbagi pesan kepada raja yang baru. Agar kelak siapapun
yang menjadi raja, akan mengemban tanggung jawab tersebut dengan penuh
pengabdian.
Kedua, Salomo berbagi
pengalaman hidup sebagai raja sekaligus anak raja. Kita tahu betul Salomo
pernah menjadi putera mahkota, anak Raja Daud. Ia pernah merasakan suka-dukanya
menjadi putera raja, pewaris takhta kerajaan Daud. Salomo tentu pernah
merasakan didikan yang berat, ala-anak raja, pembatasan-pembatasan dalam
bergaul dan kemungkinan besar itu akhirnya menimbulkan gesekan-gesekan relasi
antara Salomo dan sang ayah, Daud. Besar kemungkinan, Salomo juga menghadapi
tekanan, gangguan dari anak-anak Daud yang lain. Jelas karena persoalan takhta
kerajaan yang akan diwariskan kepada Salomo.
Sementara di lain waktu & situasi,
Salomo berperan sebagai raja. Raja yang memiliki banyak isteri dan anak. Ketika
kita melihat akhir kisah keluarga Salomo, sungguh menyedihkan, relasi antara
orang tua dan anak, juga antara saudara sekandung sangat buruk. Bahkan
anak-anak Salomo saling membunuh satu dengan yang lain. Karena saling berebut
kekuasaan. Dan akhirnya membuat kerajaan Israel menjadi pecah. Beranjak dari
pengalaman hidupnya inilah, Salomo ingin membaginya kepada raja-raja yang baru.
Mazmur 72:1 katakan “Ya Allah, berikanlah hukumMu kepada raja dan keadilanMu kepada putera
raja”. Di ayat ini, Salomo memohon kepada Allah tidak hanya untuk raja yang
baru tetapi juga untuk putera raja. Sebab, melalui pengalaman hidupnya, Salomo
benar-benar belajar bahwa suasana di dalam keluarga sangat mempengaruhi kinerja
seorang raja. Jika kondisi di tengah keluarga ada kedamaian, ada cinta kasih
antara orang tua anak, maka raja tersebut dapat memerintah dengan baik.
Sebaliknya jika relasi antara raja dan putera mahkota “tidak berjalan dengan
baik”, misalnya sang putera mahkota berniat jahat menggulingkan tahkta kerajaan
sang ayah, atau ketika antar putera raja saling berebut kekuasaan, maka dapat
dipastikan kepemimpinan sang raja akan terganggu. Dan jelas yang menjadi korban
adalah rakyat kecil. Salomo paham betul pengalaman di keluarganya yang penuh
dengan intrik, seharusnya tidak boleh terjadi lagi, di keluarga-keluarga raja
yang baru.
Salomo berharap sungguh ada kedamaian,
cinta kasih di tengah keluarga kerajaan. Karena keluarga kerajaan menjadi
sorotan sekaligus contoh keluarga-keluarga yang lain. Bayangkan, apa yang
terjadi jika keluarga kerajaan yang menjadi contoh justru berantakan, bagaiman dengan
keluarga-keluarga rakyat biasa.
Bapak, ibu dan saudaraku terkasih dalam
Tuhan, pesan moral dan harapan yang disampaikan Salomo kepada raja yang baru
kala itu, masih sangat relevan, pas bagi kita semua, di masa sekarang ini.
Salomo berpesan kepada “raja baru” agar ia mau dan mampu mengusahakan “damai
sejahtera” tidak hanya sementara waktu melainkan selamanya, dan damai itu tidak
hanya di tengah kerajaan tetapi diawali dari kehidupan keluarga sang raja baru.
Menjadi Juru damai di tengah keluarga. Gampang-gampang
susah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “juru” memiliki arti orang yang pandai di suatu pekerjaan, yang
memerlukan latihan, kecakapan dan kecermatan (keterampilan). “Juru damai”
berarti orang yang pandai, cakap, terampil mencipta-mengusahakan perdamaian,
dan kepandaian, kecakapannya itu melalui proses berlatih.
Dikaitkan dengan menjadi juru damai di
tengah keluarga, yang pertama, tidak
ada perintah yang menyebutkan bahwa yang harus menjadi juru damai dalam
keluarga adalah orang tua atau anak, melainkan setiap anggota keluarga diutus
menjadi juru damai, mengusahakan damai di tengah keluarga. Ayah tidak boleh
merasa gengsi, jaim, merasa harga dirinya jatuh ketika harus meminta maaf
kepada isteri atau bahkan anak. Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf
kepada isteri dan anak. Demikian halnya dengan sang isteri kepada suami dan
anak kepada ayah.
Kedua, untuk bisa
menjadi juru damai di tengah keluarga memang memerlukan proses berlatih yang
tidak mudah. Tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Harus berani mencoba.
Ketiga, istilah yang
seringkali kita pakai untuk menyebut kata “damai” adalah syalom. Dan kata “syalom” sendiri memilik makna yang sangat luas.
Jangan sampai dipahami hanya sekadar kata sapaan, “syalom!” Syalom berarti keutuhan (tidak terpecah-pecah). Ada
kesatuan & persatuan. Syalom berarti kerukunan/keharmonisan.
Tidak saling bertengkar, tidak saling berselisih. Syalom berarti, kecukupan berkat/rezeki. Cukup sandang,
pangan, papan, dan lain-lainnya. Syalom berarti, terhindar dari kecelakaan alias selamat.
. Yang jadi pertanyaannya adalah sudah adakah syalom di tengah keluarga
bapak, ibu dan saudara? Kalau ada suami dan isteri tidak mau bertegur sapa,
berangkat ke gereja sendiri-sendiri. Istilah jawanya,
“neng-nengan—meneng-menengan” berarti di kelurga tersebut belum ada syalom!
Karena belum ada kerukunan!
Kalau saat ini, ada keluarga-keluarga
yang sudah sekian bulan, sekian tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun tidak
berhubungan lagi dengan keluarga besar di kampung halaman, akibat persoalan
yang tak kunjung selesai, saling membenci dan mendendam, itu berarti di
keluarga panjenengan belum ada syalom.
Kalau ada keluarga-keluarga, yang merasa
tidak pernah puas, tidak pernah cukup akan berkat-berkat dari Tuhan yang sudah
panjenengan terima, merasa kurang dan kurang, tidak pernah bisa bersyukur atas
laki-laki yang menjadi suami, atau perempuan yang menjadi isteri panjenengan.
Juga sebagai anak, saudara selalu menuntut dan menuntut, tidak pernah melihat
kebaikan orang tua. Berarti di tengah keluarga panjenengan belum ada syalom,
belum ada kecukupan, berkat, belum ada keselamatan.
Saat ini merupakan Minggu-Minggu di Bulan
Keluarga, kita diingatkan untuk selalu belajar dan berusaha menjadi juru damai
di tengah keluarga kita. Mengusahakan kerukunan dan kesatuan dalam keluarga.
Dan selalu bersyukur atas berkat, rezeki, kesehatan yang diberikan Tuhan bagi bapak,
ibu dan saudara.
Di akhir kotbah ini, saya mau mengajak
bapak, ibu dan saudara semua untuk menyaksikan tayangan singkat, tentang kasih sejati seorang ayah kepada anak
laki-lakinya. Meski sang anak, begitu “menyakiti” hati sang ayah, akan tetapi
kasih sejati sang ayah tetap ditunjukkannya kepada sang anak. Mari kita
saksikan bersama.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih,
kalau saat ini, panjenengan hadir di gereja ini bersama dengan keluarga
panjenengan, jabatlah tangannya, berikan peluk dan cium, kemudian katakan, “aku mengasihimu, kamu berarti bagiku”.
Tuhan Yesus Memberkati, Amin.
GKJ Kanaan, 21 Oktober 2012
MENJINAKKAN
KEINGINAN MENUMBUHKAN KEJUJURAN
Markus 10:35-45
“Ada gula ada semut” peribahasa ini cocok
untuk menggambarkan relasi para murid dengan sang guru Yesus Kristus pada waktu
itu. Yesus ibarat gula manis yang dikejar-kejar, dikerubutin oleh semut-semut
yaitu para murid.
Karena memang saat itu Yesus sosok yang
tenar, yang punya kuasa dan ber-kharisma bahkan yang luar biasa Yesus menyampaikan
pengajaran yang berbeda dari guru-guru lainnya, Ia memberitakan tentang
kerajaan Allah. Meski yang dimaksud Yesus tentang kerajaan Allah berbeda dengan
apa yang dipahami para murid waktu itu. Sebab para murid berpikir bahwa Yesus
adalah sosok Mesias, raja baru yang akan memulihkan kerajaan Israel yang telah
hancur. Harapan-harapan tersebut sungguh dirasakan oleh banyak orang. Mereka terkagum-kagum
akan kehidupan Yesus. Banyak orang ingin dekat dengan Yesus. Banyak orang ingin
menjadi pengikut Yesus. Namun tidak semua mendapat “kesempatan” berharga seperti
para murid Yesus, di antaranya Yakobus dan Yohanes.
Seperti kebanyakan orang, Yakobus dan
Yohanes ternyata punya keinginan tersembunyi menjadi murid Yesus. Di ayat 35-37
jelas, tanpa tedeng aling-aling
Yakobus dan Yohanes meminta kepada sang guru, Yesus, yang kemungkinan juga
masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan mereka, “Guru kami harap supaya
Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami. Perkenankanlah kami duduk
dalam kemuliaanMu kelak, yang seorang lagi di sebelah kananMu dan yang seorang
lagi di sebelah kiriMu“. Dengan kata lain, mereka ingin menjadi orang
kepercayaan Yesus. Orang kedua dan ketiga setelah Yesus. Kalau saat ini, ibarat
jadi wakil presiden dan menteri di pemerintahan Yesus.
Kalau kita cermati dengan baik,
permintaan Yakobus dan Yohanes sebenarnya mengandung ketidakjujuran,
ketidaktulusan, ketidakmurnian motivasi dalam mengikut Yesus. Ibarat peribahasa
katakan, ada udang dibalik batu. Yakobus
dan Yohanes menjadi murid Yesus dengan tujuan “mendapatkan kekuasaan” di “kerajaan
Yesus” versi mereka.
Menyikapi permintaan Yakobus dan
Yohanes, sikap Yesus sangat bijak! Dengan terbuka Ia menjelaskan duduk
persoalannya kepada para murid. Yesus tahu betul para murid tidak jujur bahkan
mereka memiliki motifasi lain dalam mengikutNya. Meski tahu semua itu, Yesus
tidak buru-buru marah tetapi ia justru menjelaskan dengan sabar kepada para
murid. Yesus menunjukkan kesalahan para murid dan mencoba menjelaskan
“kebenaran” yang sesungguhnya kepada para murid. Yesus dengan sangat bijak mencoba
mengurai dan menjelaskan secara terbuka kepada Yakobus dan Yohanes.
Di ayat 38 Yesus berkata, “Kamu tidak
tahu apa yang kamu minta!” Ada 3 hal yang tidak dimengerti Yakobus dan Yohanes
tentang permintaan mereka. Pertama, persoalan
tentang “meminum cawan dan menerima baptisan”, disini Yesus mencoba menjelaskan
kepada Yakobus dan Yohanes bahwa cawan itu bicara tentang penderitaan Yesus di
kayu salib sementara baptisan yang diterima Yesus berkata tentang tugas
panggilan Yesus sebagai Anak Allah, ia diutus langsung dari Allah. Para murid
akan meminum cawan dan menerima baptisan, artinya akan ikut memikul salib,
menderita dan akan dibaptis tetapi tidak akan pernah sama seperti yang dialami/
diterima Yesus.
Kedua, Yesus bicara
tentang siapa yang layak duduk di sebelah kanan dan kiriNya, yaitu diberikan kepada orang-orang yang layak
menerimanya, tidak seperti yang dipikirkan para murid, dengan mudahnya mereka meminta
kepada Yesus, memakai aji mumpung,
sebagai murid dan kerabat dekat Yesus.
Ketiga, pemerintahan
yang dimaksud Yesus berbeda dengan pemerintahan di dunia. Sekali lagi Yesus
tidak bicara tentang kerajaan Israel di dunia, melainkan bicara tentang
pemerintahan Allah kelak. Suasana pemerintahan Yesus juga sangat berbeda dari
pemerintahan dunia. Para penguasa di dunia memerintah dengan tangan besi dan
kekerasan sementara Yesus datang bukan megharap untuk dilayani melainkan untuk
melayani. Bahkan Yesus rela berkorban menjadi tebusan bagi banyak orang.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih
dalam Tuhan Yesus Kristus, kisah Yesus bersama dengan murid-muridnya, secara
langsung memang tidak berbicara tentang potret sebuah keluarga inti seperti
yang selama ini kita pikirkan (ayah, ibu, anak, kakek-nenek). Tetapi ketika
kita mencoba melihat secara mendalam, sosok Yesus di kalangan para murid, tidak
hanya berperan sebagai guru rohani, melainkan berperan juga sebagai orang tua.
Relasi Yesus dengan para murid seperti orang tua dan anak. Yesus ayah sekaligus
ibu bagi murid-muridnya. Yesus membangun relasi kekeluargaan dengan
murid-muridnya.
Lihatlah, bagaimana Yesus sangat bijak
dan begitu sabar menjawab permintaan Yakobus dan Yohanes. Bisa saja Yesus langsung
marah besar, apalagi Dia pemimpin, guru yang punya kuasa atas murid-muridnya.
Namun, Yesus tidak buru-buru marah. Ia penuh pengertian, mencoba menjelaskan
duduk permasalahannya. Ia tahu para murid salah, namun ia tidak buru-buru
marah, tetapi juga tidak mendiamkannya saja. Yesus menegur dengan memberi
penjelasan. Bukan hanya teguran atau kemarahan semata, tetapi marah dengan
tujuan yang jelas dan benar. Marah demi kebaikan para murid.
Tema Minggu ini mengingatkan,
“Jinakkanlah Keinginan dan Tumbuhkanlah Kejujuran”. Dalam konteks kehidupan
keluarga, kerapkali “keinginan” dan “ketidakjujuran” menjadi permasalahan rumit
yang harus diatasi oleh setiap anggota keluarga. Khususnya keinginan untuk
dihargai/dihormati berdasarkan statusnya di dalam keluarga. Dan juga
ketidakterbukaan, komunikasi yang terhambat antar anggota keluarga.
Misalnya, seorang ayah, terkadang
statusnya dalam keluarga, membuatnya ingin menjadi orang yang paling dihormati
dalam keluarga. Tentu dalam hal ini ingin dihormati oleh isteri dan anak-anaknya.
Dan ketika faktanya, ia tidak mendapatkan penghormatan dari anak-anak/ isterinya,
ia menjadi seorang ayah yang pemarah, suka main tangan, main pukul, dengan
tujuan agar anak-anak dan isterinya takut dan menghormati statusnya sebagai
seorang ayah.
Seorang isteri terlalu banyak menuntut
kepada suami, karena merasa bahwa posisinya sebagai seorang isteri yang memang
wajib mendapatkan nafkah yang cukup bahkan lebih dari sang suami. Dan
seandainya, tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan, akhirnya timbul tuntutan,
hinaan, sikap marah, dari sang isteri kepada suami. Akhirnya, lama kelamaan
suami merasa tertekan dengan segala tuntutan sang isteri, kemudian melakukan
segala cara, termasuk cara-cara yang melanggar hukum, yang penting bisa memnuhi
kebutuhan sang isteri.
Seorang anak ingin mendapat perhatian
dan kasih sayang dari kedua orang tuanya, akan tetapi ketika fakta berkata
lain, orang tua sibuk dengan urusannya masing-masing, ayah selalu berangkat
pagi dan pulang tengah malam, sang ibu sibuk dengan komunitas arisannya. Sang
anak akhirnya memilih untuk hidup sesuka hatinya. Menikmati dunia pergaulan
yang buruk.
Dan celakanya, ketika masing-masing
anggota keluarga menyimpan “luka hati, menyimpan kemarahan” terhadap anggota
keluarga yang lain. Tidak ada keterbukaan, semuanya dipendam, komunikasi
terhambat. Masing-masing tidak mau jujur akan apa yang dirasakan, bahkan
menutup diri terhadap yang lain. Luka-luka hati tersebut semakin lama akan
semakin bertumpuk-tumpuk. Ibarat balon
yang terus-menerus ditiup. Suatu ketika akan meledak. Begitu pun dengan relasi
antar anggota keluarga.
Seandainya setiap keluarga mau memandang
dan belajar dari Yesus, bagaimana ia membangun relasi kekeluargaan dengan para
murid. Yesus memang tidak menikah, ia tidak memiliki pendamping hidup, apalagi
memiliki anak, akan tetapi cara dan sikap Yesus mengasihi para murid adalah
sikap seorang ayah sekaligus ibu terhadap anak-anaknya. Seandainya setiap orang
tua, mau belajar lebih sabar, tidak mudah marah, tidak mudah emosi, tidak
gengsi, mau merendahkan diri kepada anak-anaknya, meminta maaf ketika ia salah
terhadap anak, memberi apresiasi (pujian) kepada anak, tetapi juga jujur mau
terbuka kepada anak, menegur dan mengingatkan anak ketika mereka salah. Tidak
memendam masalah berlarut-larut sebaliknya cepat-cepat dibicarakan sekaligus diselesaikan.
Yang
terakhir dari teladan hidup Yesus, Ia tidak hanya sekedar guru, tidak hanya
sekedar orang tua, melainkan Mesias--- anak Allah, tetapi Ia dengan tegas
berkata, “Anak manusia datang ke dunia bukan untuk dilayani melainkan untuk
melayani bahkan mau berkorban menjadi tebusan bagi banyak orang”. Seandainya
setiap anggota keluarga, memakai pola pikir dan teladan hidup Yesus ini, segala
keangkuhan, gengsi kaitannya dengan status dalam keluarga, akan bisa
dihilangkan.
Menjadi anggota keluarga yang tidak hanya
mau dilayani, melainkan mau melayani. Ayah tidak perlu merasa kewibawaannya
jatuh karena harus meminta maaf kepada isteri dan anak-anak. Ayah tidak perlu
merasa harga dirinya jatuh kalau harus mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan kalau
harus belajar dari anak. Isteri tidak selalu menuntut macam-macam, tapi mencoba
mengerti kondisi pekerjaan sang suami. Dan para anak tidak selalu minta
diperhatikan, tetapi belajar melayani dan membantu ayah-ibu. Tidak hanya ingin
dikasih kado pas ulang tahun, tetapi belajar memberi kado, surprise untuk orang tua pada saat mereka ulang tahun.
Mari setiap kita, sebagai anggota
keluarga mencoba belajar untuk melayani bahkan mau berkorban untuk anggota
keluarga yang lain. Tidak perlu jaim,
tidak perlu gengsi, tidak perlu melihat sebagai apa kita di dalam keluarga.
Yesus mau merendahkan dirinya untuk melayani semua orang. Siapa kita? Yang
begitu sombong dan merasa hebat. Masing-masing kita, di bulan keluarga ini,
diutus untuk menjadi pelayan kepada setiap anggota keluarga kita. Semampu kita!
Sebisa kita!
Di akhir kotbah ini, saya mengajak
bapak, ibu dan saudara menyaksikan 1
video singkat tentang, “Kasih
Seorang Ayah kepada sang anak, yang tanpa batas”.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih
dalam Tuhan, saya mengajak bapak, ibu dan saudara yang saat ini bersama dengan
anggota keluarganya, ayah, ibu dan anak
untuk memberi salam, peluk dan cium, katakan, “aku mengasihimu, aku mau
melayanimu”. Tuhan Yesus Memberkati, Amin.
Bekerjasama
Menggunakan Karunia Berbeda
Yakobus 5:13-20
& Markus 9:38-50
Beranjak dari Yakobus 5:13-20, Almarhum Pdt. Eka Darmaputera dalam bukunya menuliskan
bahwa pada zaman dulu, sekarang maupun yang akan datang, ada 3 karunia dasar yang
diberikan Allah kepada gereja, dan itu tidak boleh hilang dari kehidupan
bergereja, bahkan harus dijaga dan dikembangkan.
1.
Praying Church
(Gereja yang BERDOA)
Kita sering dengar doa disebut sebagai nafas hidup orang percaya. Berarti tanpa
doa orang Kristen akan mati secara rohani. Demikian juga dengan persekutuannya.
Ada lagi yang berkata, “doa itu pilar
sebuah gereja”. Kalau pilarnya roboh, seluruh bangunan juga akan ikut roboh. Karena
doa sebagai penyangga, kekuatan rohani sebuah gereja. Betapa pentingnya peran
doa dalam kehidupan bergereja.
Di sebuah bahan sarasehan beberapa tahun
yang lalu, saya ingat betul, ada satu pertanyaan yang menggelitik, tertulis
“kegiatan-kegiatan di GKJ Bekasi lebih banyak rapatnya atau doanya?” Sangat
disayangkan, kalau jumlah kegiatan yang berkaitan dengan doa sangat minim,
ditambah lagi jumlah jemaat yang hadir juga sangat sedikit, apalagi kalau di
keluarga masing-masing juga belum ada persekutuan doa keluarga. Kalau
kondisinya seperti itu, harus kita akui secara jujur bahwa selama ini gereja
kita belum menjadi gereja yang sungguh-sungguh berdoa.
Jangan sampai tekun doanya pas ada
keinginan-ada pergumulan saja. Pas ngurus surat IMB yang tidak kelar-kelar, pada
waktu itu. Setelah sekarang semuanya beres, lalu mulai luntur semangatnya,
mulai kendor ketekunannya. Gereja tanpa berdoa akan mati secara rohani. Gereja
akan kehilangan daya, kekuatan kasihNya. Gereja tanpa kehidupan doa yang kuat
akan mengalami kekeringan rohani, kebosanan, kejenuhan, kelelahan, bahkan bisa
sampai mengalami dis orientasi pelayanan, dsbnya.
2.
Singing Church
(Gereja yang BERNYANYI)
Sejak awal, di jemaat Kristen perdana, bernyanyi
(memuji Tuhan) menjadi ciri khas sebuah persekutuan orang-orang percaya. Yang mau
tidak mau, memang membedakan orang-orang Kristen dengan umat beragama lain.
Kapanpun, dimanapun, susah senang, suka-duka, orang Kristen bernyanyi. Di
pernikahan, kelahiran, ulang tahun, maupun di peristiwa kedukaan. Orang Kristen
selalu bernyanyi. Meskipun akhir-akhir ini, saudara kita umat bergama lain
mulai ikut bernyanyi. Kita juga tahu, bahwa nyanyian sebenarnya adalah doa.
Syair-syair nyanyian rohani berisi doa-doa yang kita naikkan kepada Allah.
Nyanyian ibarat olie-pelumas yang mempersatukan, mempererat, mencairkan relasi
yang kaku menjadi relasi yang hangat, yang dekat di antara orang-orang percaya.
Pertanyaannya ialah kira-kira Wilayah
Utara sudah layak disebut sebagai gereja yang bernyanyi? Layak, sampun!
Buktinya setiap hari Minggu nyanyi, ngidung, setiap persekutuan (PD, PA) pasti
nyanyi, banyak jemaat yang ikut Paduan Suara, setiap Minggu rutin ngisi, di
kelompok-kelompok juga ada Vokal Grupnya masing-masing. Keroncong AGAPEnya
semakin luar biasa. Iringan musik akustik dari Komisi Pemuda sudah jalan, sudah
mulai ikut ambil bagian dalam Ibadah Minggu. Semuanya sudah ada. Apalagi nggih
yang belum? Sudah baik. Tinggal ditingkatkan lagi kualitasnya. Juga
kuantitasnya. Jumlah yang ikut Paduan Suara harus semakin banyak. Song leader
sudah ada, tapi jumlahnya terbatas. Seharusnya semakin banyak warga jemaat yang
tergerak untuk mau jadi song leader. Pianis/ Organis sudah ada, tetapi
jumlahnya sangat terbatas. Semestinya kalau kita rindu gereja kita menjadi
gereja yang terus bernyanyi, setiap kita berlomba-lomba untuk belajar alat
musik keyboard, gitar supaya bisa jadi pengiring musik dalam ibadah Minggu.
3.
Healing Church
(Geraja yang MENYEMBUHKAN)
Pada masa penjajahan, gereja-gereja
Belanda yang masuk ke Indonesia biasanya fokus dalam bidang pelayanan
“kesehatan”. Banyak yang akhirnya mendirikan rumah sakit-rumah sakit Kristen.
Tetapi sayang, pada masa sekarang ini, banyak rumah sakit-rumah sakit Kristen
yang tutup atau ada yang tetap buka tetapi mengalami dis orientasi, tujuan utamanya tidak lagi untuk menolong orang
sakit yang tak mampu, melainkan murni bisnis.
Yang menarik adalah di Yakobus 5:15
dikatakan “dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu, dan Tuhan akan membangunkan dia, dan
jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya
akan diampuni”. Yakobus 5:19-20, “saudara-saudara jika ada di antara kamu
yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik,
ketahuilah bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang
sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak
dosa”.
Gereja yang menyembuhkan di sini tidak
hanya diartikan kesembuhan secara fisik (sakit secara jasmani) tetapi juga
kesembuhan rohani (orang yang mengalami sakit spiritual, contohnya: warga
jemaat yang mulai undur dari persekutuan, yang hidupnya mulai melenceng dari
Firman Tuhan). Di sinilah gereja dituntut untuk benar-benar berfungsi sebagai
penyembuh, penolong.
Pelaku Perubahan
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih
dalam Tuhan, lalu persoalan selanjutnya adalah siapa yang harus bertanggung jawab sekaligus berjuang mengembangkan 3 karunia
yang diberikan Allah kepada gereja? Diberikan contoh, di Yakobus 5:14,
dikatakan “kalau ada seorang di antara kamu yang sakit baiklah ia memanggil
para penatua jemaat! Supaya mereka mendoakan dia!”. Kalau kita membacanya
sepotong-sepotong bisa jadi kita berkata: “yang bertanggung jawab untuk
mengembangkan ketiga karunia tadi adalah Penatua! Untung tidak disebutkan itu
tugasnya Vikaris, Pendeta atau Diaken. Tapi itu kalau kita membaca alkitabnya sepotong-potong.
Coba kita lihat di ayat 16, dikatakan: “karena itu hendaklah kamu saling
mengaku dosamu dan saling mendoakan,
supaya kamu sembuh”. Lalu di ayat 17, diberi contoh yaitu Elia disebutkan “Elia
adalah manusia biasa seperti kita.....”.
Ini berarti yang punya kewajiban/tugas
untuk mengembangkan karunia Berdoa, Bernyanyi dan Menyembuhkan tidak hanya
penatua, diaken, pendeta melainkan tugas kita bersama. Seluruh warga jemaat!
Tidak terkecuali!
Meskipun demikian, yang penting untuk
dimengerti bersama, baik para pemimpin gereja dan warga gereja, pertama seorang pemimpin gereja,
penatua, diaken, pendeta secara kasat mata itu dipilih oleh warga jemaat, namun
secara rohani (spiritual) para pemimpin gereja itu dipilih oleh Tuhan. Sehingga
harusnya ini menjadikan seseorang yang dipilih menjadi penatua, diaken, pendeta
harus melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Karena sekali lagi kita
melayani tidak hanya untuk warga gereja melainkan yang utama kita pertanggung
jawabkan kepada Allah. Perlu untuk bersama-sama menggumuli panggilan kita
sebagai pelayan Tuhan. Sebagai penatua, diaken, pendeta apakah saya sudah
menjalankan fungsi saya dengan baik atau belum.
Hal yang kedua, ketika kita tahu betul bahwa para pemimpin gereja, penatua,
diaken, pendeta itu tidak hanya kita yang memilih tetapi juga Allah. Itu seharusnya
membuat kita, warga jemaat menghargai, menghormati, mau bekerjasama, men-suport,
menolong para pemimpin gereja, penatua, diaken, pendeta. Jangan cuma
mengkritik, maido. Tetapi didukung, disengkuyung sareng-sareng. Minimal ikut
mendoakan pelayanan mereka. Jangan sampai karena dulu pas pilihan majelis,
panjengan tidak memilih anggota majelis yang terpilih sekarang lalu panjenengan
tidak mau bekerjasama. Itu keliru!
Inilah yang disebut sebagai “dialog
peran” (kerjasama antar seluruh bagian dalam sebuah gereja). Antara pemimpin
gereja (penatua, diaken dan pendeta) dan warga jemaat. Ada sinergi yang baik
meski memiliki peran, fungsi yang berbeda-beda secara struktural. Tentu dalam
kaitan untuk mewujudkan dan mengembangkan karunia-karunia dasar yang dimiliki
gereja.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih,
kalau bacaan yang pertama Yakobus 5:13-20 berbicara tentang sinergi/ kerjasama
di dalam lingkup gereja. Bacaan kedua, Markus
9: 38-50, berbicara tentang kerjasama antara orang-orang Kristen dengan
orang-orang Non Kristen.
Pada waktu itu para murid nampak
terganggu bahkan mungkin marah, ketika melihat orang yang bukan pengikut Yesus
ikut-ikutan mengusir setan dalam nama Yesus. Para murid “wadul”/ mengadu kepada Yesus. Tentu para murid berpandangan bahwa
selain pengikut Yesus tidak ada yang boleh memiliki karunia untuk mengusir
setan. Bagi para murid karunia semacam itu hanya untuk para pengikut Yesus.
Akan tetapi yang mengherankan, Yesus menjawab: “Jangan kamu cegah dia! Sebab
tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi namaku, dapat seketika itu
juga mengumpat aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita!”
Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu
adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya!”
Di sini Tuhan Yesus mau menyadarkan para
murid bahwa di luar pengikut Kristus ada juga orang-orang yang sebenarnya
menghidupi teladan-ajaran-ajaran Kristus. Dan lebih dari itu orang-orang tersebut
mungkin saja memiliki karunia-karunia, talenta-talenta, kemampuan-kemampuan
seperti yang dimiliki para pengikut Yesus. Dengan kata lain, Yesus mau merombak
cara berpikir para murid, yang sangat ekslusif, yang berpikir bahwa karunia,
kemampuan, berkat-berkat dari Allah itu hanya diberikan kepada murid Yesus.
Bahkan di ayat-ayat selanjutnya Tuhan Yesus berkata dengan sangat keras kepada
para murid, agar para murid tidak jatuh pada cara berpikir yang sangat
menyesatkan.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih
dalam Tuhan, kalau kita mau jujur, acapkali kita orang-orang Kristen masih
sulit untuk terbuka baik dalam cara berpikir, cara berelasi khususnya kepada
saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan dari kita. Pola pikir ekslusif,
yang berpikir bahwa berkat-berkat, karunia-karunia, kemampuan-kemampuan itu
hanya untuk orang Kristen saja, sementara orang berbeda keyakinan tidak
mendapat berkat dari Tuhan. Bahkan akhirnya, sikap ekslusif itu mendorong kita
untuk tidak mau bekerjasama bahkan bermusuhan dengan umat beragama lain. Ini
sungguh disayangkan.
Bayangkan jika semua manusia di dunia
ini berpikir yang sama, kita berbeda maka kita tidak bisa bekerjasama, kita
berbeda berarti kita harus bermusuhan. Apa jadinya dunia ini. Tidak mustahil
propaganda atas nama agama, isu-isu SARA semakin santer terdengar. Semakin
banyak pendeta yang berlomba-lomba membakar Al-quran, semakin banyak
orang-orang Kristen yang membuat film-film yang menghina umat Muslim.
Sebaliknya semakin menggebu-gebu saudara kita umat Muslim memperjuangkan
berdirinya negara Islam di Indonesia, memperjuangkan berlakunya Hukum syariat
di setiap provinsi, gencar gereja-gereja disegel, ditutup.
Beberapa hari yang lalu, tidak hanya
umat Muslim, kalau boleh dibilang, inter
faith (lintas iman, Kristen, Katolik, Konghucu, Budha, Hindu) mengenang
1000 hari meninggalnya seorang tokoh nasional yang sewaktu masih hidup, dengan
keras menyuarakan “nilai-nilai kemajemukan, pluralitas, keberagaman, kesatuan
dan persatuan” yaitu Almarhum Gusdur.
Saya pernah membaca satu tulisanya dalam sebuah buku, beliau katakan: “orang
yang anti dengan perbedaan, kemajemukan, keberagaman, berarti orang tersebut
mengingkari karya Tuhan”. Perbedaan ada bukan karena manusia, tetapi Tuhan yang
menciptakan. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda tetapi Tuhan tidak pernah
membeda-bedakan manusia”
Dengan demikian, gereja masa kini
seharusnya menjadi ujung tombak, dalam mengusahakan kehidupan yang rukun,
harmonis, bersinergi bahkan mau bekerjasama antar umat beragama. Memutar Film “GKJ Djoyodiningkratan & Masjid;
Film Kerukunan Antar Umat Beragama”.
Pesan Tuhan Yesus dalam Markus 9:50
“Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar dengan apakah kamu
mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu
hidup berdamai yang seorang dengan yang lain! Orang Kristen, Gereja semestinya
menjadi duta-duta perdamaian, menggalang kerjasama dengan semua pihak dan
membuka diri akan keberagaman. Tuhan Yesus Memberkati.
Minggu, 23 September 2012
BERTUMBUH DALAM
KEDEWASAAN
Yakobus
3:13-4:3, 7-8a & Markus 9:30-37
Mari kita perhatikan dengan seksama
Injil Markus 9:30-37. “Menurut bapak, ibu dan saudara apakah para murid Yesus
sudah layak disebut sebagai orang dewasa atau sebaliknya mereka masih
kekanak-kanakan?” Saya berani katakan dengan tegas, berdasarkan perikop yang
kita baca, para murid Yesus belum layak disebut sebagai orang dewasa, bahkan
cenderung kekanak-kanakan! Mengapa?
Saya menemukan ada 3 hal, yang
memperlihatkan bahwa murid-murid Yesus masih kekanak-kanakan! Yang pertama, di ayat 32 dikatakan “Mereka
tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakan kepadaNya”. Di sepanjang
jalan, melewati daerah Galilea, Yesus mengajar para murid tentang penderitaan
yang akan dialami oleh Anak Manusia. Bahkan Yesus sengaja memilih jalan yang
pas, yang cocok, bisa kita bayangkan itu sebuah jalan yang sepi, jalan rahasia
supaya para murid bisa mendengarkan dan mengerti pengajaran Yesus dengan baik.
Namun sayang seribu sayang, para murid bahkan tidak mengerti sama sekali apa
yang diajarkan Yesus. Dan semakin disayangkan, meski tidak tahu apa yang
diajarkan oleh sang Guru para murid tidak berani bertanya.
Masih bisa dimaklumi kalau para murid
belum mudeng, mungkin apa yang
disampaikan Yesus suatu pengajaran yang berat-seperti bahasa di PPAG- terlalu
akademik. Tetapi tidak bisa dimaklumi lagi, ketika mereka tidak mudeng tetapi tidak berani bertanya.
Orang yang dewasa adalah orang yang berani bertanya ketika ia tidak tahu.
Sementara kalau anak kecil biasanya, meski tidak tahu mereka tidak berani
bertanya. Orang yang dewasa berani mengajukan pertanyaan semata-mata karena
keinginannya-niatnya untuk terus belajar akan hal-hal baru yang belum ia
ketahui. Orang yang dewasa selalu haus akan hal-hal yang baru.
Kita bisa membandingkan metode belajar
saat masih SD dengan Perguruan Tinggi. Di SD guru menjelaskan murid
mendengarkan. Kalau tidak diminta bertanya para murid diam saja. Bahkan diminta
bertanya pun mereka tetap diam saja. Metode mengajar seperti ini disebut metode
bank. Para murid seperti bank dan
guru-gurunya ibarat para penabung. Sementara di Perguruan Tinggi tentu berbeda,
biasanya dosen menjelaskan sebentar, kemudian masuk ke dalam diskusi. Kalau di
SD guru salah mengajar para murid diam saja. Kalau di perguruan tinggi dosen keseleo sedikit mahasiswa sudah pada
protes.
Bukti kedua bahwa para murid masih sangat kekanak-kanakan kita bisa lihat
di ayat 33 dan 34, sesampainya di tempat tujuan, Yesus bertanya kepada para
murid: “apa yang kalian perbincangan di tengah jalan tadi?”. Bayangan saya, di
sepanjang jalan, Yesus “kebribenen”-Ia
sangat terganggu dengan celotehan para murid. Sangat masuk akal, karena
jelas-jelas dikatakan, para murid bertengkar memperdebatkan siapa yang terbesar
di antara mereka. Namun anehnya, ketika Yesus bertanya kepada mereka, tidak ada
satu pun yang menjawab pertanyaan Yesus. Para murid diam seribu bahasa, mendadak terkena penyakit bisu alias tidak bisa
bicara!
Orang yang dewasa pasti berani terbuka,
jujur ketika ada masalah. Orang yang dewasa tidak membiarkan masalah
berlarut-larut atau menutup-nutupi masalah tetapi segera mencari jalan keluar.
Seorang anak kecil memecahkan pot bunga milik ibunya. Ketika sang ibu bertanya,
ia akan berkata: tidak tahu. Berbeda dengan orang dewasa, di jalan yang cukup
sepi, tiba-tiba mobilnya “menyerempet” sepeda motor. Sebenarnya ada 2 pilihan, bisa
tancap gas dan meninggalkan korban, atau ia bertanggung jawab dan menolong
korban. Kalau orang yang dewasa, 100 persen saya jamin, akan turun dan menolong
sang korban. Menyelesaikan masalah bukan lari dari maslah.
Sebenarnya ada masalah yang cukup berat
di antara para murid, khususnya terkait relasi satu dengan yang lain. Tapi
sayang para murid tidak berani jujur mengaku kalau mereka sedang bermasalah.
Bukti kekanak-kanakan para murid yaitu dengan membiarkan masalah
berlarut-larut.
Bukti yang ketiga, mengapa para murid layak disebut kekanak-kanakan adalah
terkait dengan tujuan hidup mereka. Para murid sibuk mempertengkarkan siapa
yang terbesar di antara mereka, karena dalam pemikiran mereka menjadi yang
pertama, yang paling dikasihi oleh Yesus tentu akan menerima berkat, ketenaran
yang sama dengan Yesus. Secara, Yesus
bak artis terkenal pada saat itu. Saat Yesus tenar, otomatis para murid juga
akan ikut tenar.
Pdt. Andar Ismail menulis, salah satu
ciri orang yang dewasa adalah mau menerima keberadaan orang lain serta
mengarahkan hidupnya untuk kepentingan banyak orang. Dengan kata lain hidup
bukan untuk kepentingan diri sendiri melainkan untuk menjadi berkat bagi orang
lain. Anak kecil masih susah untuk berbagi makanan-minuman, harus diajari,
bahkan kadang kala mereka menangis, marah kalau makanan-minuman-mainan mereka
dipinjam sebentar oleh temannya. Seorang yang dewasa, tentu punya inisiatif,
tidak perlu diingatkan, untuk berbagi berkat kepada orang-orang yang sangat
membutuhkan.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih
dalam Tuhan, para murid memang masih sangat kekanak-kanakan, berbeda dengan
Sang Guru-Yesus Kristus. Sosok manusia sejati yang dewasa. Motto hidupNya,
“jika seorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir
dari semuanya dan pelayan dari semuanya”. Bertolak belakang dengan para murid,
Yesus bukan berjuang untuk menjadi yang pertama tetapi justru menjadi yang
terakhir. Tidak berjuang agar semua orang melayaniNya, melainkan Ia ingin
menjadi pelayan bagi semua orang. Hidup yang berorientasi ke luar bukan ke
dalam diri. Tidak berharap menerima tetapi justru ingin selalu memberi. Bahkan
keberadaan seorang anak kecil yang tidak diperhitungkan oleh masyarakat, dihargai
oleh Yesus Kristus. Sapaan, pelukan dan gendongan Yesus kepada seorang anak
kecil, hendak mengingatkan para murid untuk mau diutus menjadi berkat bagi
semua orang. Khususnya kepada orang-orang yang terpinggirkan, yang dikucilkan,
yang di pandang sebelah mata oleh masyarakat.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih
dalam Tuhan, 3 ukuran kedewasaan tadi sebenarnya tidak hanya dipakai untuk
mengukur kedewasaan seseorang (personal), tetapi tepat juga dipakai untuk
mengukur tingkat kedewasaan sebuah gereja/jemaat. Apakah gereja (jemaat) kita
sudah benar-benar dewasa atau masih kekanak-kanakan.
Yang pertama,
apakah selama ini gereja kita berani untuk terus bertanya? Berani bertanya
berarti berani untuk terus belajar sesuatu yang baru. Belajar mengeksplorasi
diri, belajar mengupgrade kompetensi, baik itu sumber daya manusianya (anggota
majelis, komisi-komisi, pengurus kelompok difasilitasi untuk belajar dan
belajar), juga program-programnya (hati-hati kalau sebuah gereja, tiap tahun
program kegiatannya sama hanya copy paste dari tahun yang sebelumnya).
Gereja yang berhenti belajar, berhenti berinovasi,
berhenti bereksperimen itu tanda-tanda gereja yang “mandeg/stagnan-tidak
bertumbuh”. Juga sebuah gereja yang sudah merasa mampu, merasa besar, merasa
hebat, merasa mapan itu justru sangat berbahaya. Dan itulah tantangannya. Sebuah
gereja harus terus berani bertanya dan bertanya, apa yang bisa dilakukan oleh
gereja agar semakin menjadi berkat bagi umat, bagi lingkungan sekitar, bahkan
bagi dunia. Hati-hati kalau ada sebuah gereja yang anti dengan hal-hal yang
baru. Itu tanda-tanda gereja yang tidak bertumbuh!
Yang kedua,
gereja yang nampak adem ayem itu justru perlu dipertanyakan. Apakah benar adem
ayem, rukun tenterem? Jangan-jangan ibarat peribahasa, “diam-diam menghanyutkan”. Sebenarnya ada banyak persoalan tetapi
merasa tidak ada persoalan. Moto hidup gereja tersebut: “waktu akan
menyelesaikan setiap persoalan”. Ibarat dari luar kelihatan adem ayem tetapi
sebenarnya sangat panas. Ada banyak luka, sakit hati, kebencian, perselisihan
antar anggota jemaat. Tangan memang berjabat tangan, bibir memang tersenyum
tetapi hati tak bisa dibohongi. Ada rasa benci, dendam yang belum
terselesaikan. Sangat berbahaya, kalau semua persoalan akhirnya
menumpuk-numpuk, ibarat bom waktu,
kapan saja bisa meletus dan berakibat fatal.
Gereja yang bertumbuh dewasa adalah
gereja yang peka terhadap setiap persoalan/masalah, sekecil apapun persoalan
tersebut. Gereja yang bertumbuh dewasa tidak hanya memakai pendekatan
formalistik-legalistik melainkan belajar mengatasi setiap persoalan dengan
bijak, pertimbangan yang mendalam, tentu yang utama, berlandaskan kasih Kristus
yang tanpa batas.
Yang ketiga,
gereja yang hanya usreg ke dalam dan
tidak pernah ikut ambil bagian pada persoalan-persoalan di luar gereja, berarti
gereja tersebut belum bertumbuh dewasa. Masih berpikir untuk dirinya sendiri. Alasan
yang seringkali dipakai: “Lha bagaimana mau berpikir untuk keluar sementara di
dalam masih banyak persoalan yang belum terselesaikan. Membenahi ke dalam dulu
baru ke luar”. Pertanyaannya adalah “kapan selesai membenahi persoalan di dalam
gereja?” Persoalan di dalam gereja sangat penting dan harus dipikirkan, tetapi
jangan sampai, membuat gereja tidak ambil bagian dalam persoalan-persoalan
masyarakat sekitar. Gereja harus berani ke luar dan menjadi berkat bagi
masyarakat.
Bacaan yang kedua, Yakobus 3:13-4:3,
7-8a berbicara tentang ciri-ciri orang yang bijak dan berbudi. Dalam sejarah
Yunani, orang yang bijak dan berbudi disebut sebagai Filsuf atau filosof
artinya orang yang mencintai kebijaksanaan. Dan jelas, filsuf adalah seorang
yang dewasa. Ciri-ciri sikap hidup orang yang dewasa adalah lemah lembut (bukan lebay atau KW), murni (tulus-tidak ada udang dibalik
batu), pendamai (bukan biang
kerok-biang keributan), peramah
(bukan pemarah), penurut (bukan
pembangkang), penuh belas kasihan
(tidak egois), tidak memihak (ada di
tengah-tengah, tidak pilih kasih), tidak
munafik (berintegritas).
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih, secara
pribadi, sebagai murid Kristus, apakah kita benar-benar sudah dewasa? Atau
masih kekanak-kanakan? Sudahkah kita memiliki sikap kelemahlembutan, ketulusan,
mencintai perdamaian, peramah, penurut, penuh belas kasihan, tidak memihak dan
tidak munafik? Sebagai sebuah jemaat
Kristen, apakah kira-kita kita sudah layak disebut dewasa? “Belum mas. Kan memang kita belum mandiri, masih tahun 2014”.
Kedewasaan
bukan suatu benda yang tiba-tiba jatuh dari langit, kedewasaan
bergereja adalah sebuah proses belajar yang membutuhkan waktu, kemauan, niat,
kesungguhan hati. Berani bertanya, berani mencoba hal-hal yang baru, jangan
takut berinovasi, hadapi masalah jangan sembunyi dari masalah, selesaikan
dengan hati yang bijak setiap konflik ada. Dan mari kita belajar melihat ke
luar dan menjadi berkat bagi dunia. Selamat bertumbuh menjadi dewasa! Tuhan Yesus Memberkati! Amin.
Bersama kita nyanyikan “Bertumbuh Dalam Kasih” dengan
berdiri!
Minggu, 7 Oktober 2012
Persiapan
Perjamuan Kudus
MENGHADIRKAN
KRISTUS
MELALUI INTEGRITAS ANGGOTA KELUARGA
MELALUI INTEGRITAS ANGGOTA KELUARGA
DANIEL
6:4, 11-27; MATIUS
22:15-22
Integritas
berasal dari kata latin integrate
yang berarti komplit (tanpa
cacat, tanpa kedok, sempurna). Apa yang kita ucapkan,
pikirkan dan lakukan semuanya berlandaskan nilai-nilai, keyakinan dan prinsip
hidup yang kita pegang. Lawan integritas adalah hipocrisy (hipokrit atau munafik). Apa yang diucapkan tidak sesuai
dengan apa yang dilakukan. Dalam istilah bahasa Jawa disebut mencla-mencle, esuk dele awan tempe. Integritas
adalah salah satu karakter yang semestinya dimiliki oleh para pemimpin.
Pemimpin yang berintegritas akan lebih mudah mendapatkan trust (kepercayaan) dari orang-orang yang dipimpinnya.
Daniel salah
satu contoh orang yang berintegritas. Di antara para pejabat tinggi dan wakil
raja, Daniel-lah yang paling menonjol (ayat 4). Karena itulah sang Raja sangat
mengasihi dan menaruh kepercayaan lebih kepada Daniel. Raja bermaksud mengangkat
Daniel menjadi pemimpin dari para pejabat tinggi dan wakil raja. Kondisi inilah
yang akhirnya membuat rekan-rekan Daniel iri hati sekaligus benci kepadanya.
Bahkan mereka mempunyai hidden agenda
yaitu mencari-cari kesalahan sekaligus sebagai alasan menyingkirkan Daniel.
Sungguh terbukti, Daniel adalah pribadi yang benar di hadapan Allah sebab tidak
ada satu pun kesalahan Daniel yang ditemukan oleh rekan-rekannya (ayat 5).
Hanya ada satu alasan yang dipakai untuk menjatuhkan Daniel yaitu tentang ibadah
kepada Allah.
Saat
mengetahui sepak terjang rekan-rekannya, Daniel tidak takut-tidak gentar,
ke-integritasan Daniel sungguh terbukti, di tengah bahaya yang terus mengintai,
ia tetap beribadah kepada Allah. Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta
memuji Allahnya.
Seperti yang
direncanakan rekan-rekannya, Daniel akhirnya dijatuhi hukuman oleh Raja.
Meskipun sebenarnya sang Raja terpaksa menghukum Daniel (lih. Ayat 19---> sang
raja berpuasa semalam-malaman, tidak menghibur diri dengan para
“selirnya”dan lek-lekan). Sang Raja tahu persis siapa Daniel dan bagaimana
kualitas hidup Daniel selama ini. Akan tetapi hukum harus tetap ditegakkan.
Barangsiapa tidak menyembah Sang Raja tetapi menyembah Allah lain, ia akan
menerima hukuman yaitu dimasukkan ke dalam gua singa. Yang terjadi-terjadilah,
Daniel akhirnya dijebloskan ke dalam gua singa.
Apa yang
terjadi? Singa-singa buas seperti sedang sakit gigi. Singa-singa pemakan daging
berubah menjadi singa-singa vegetarian. Daniel keluar gua dengan selamat, tanpa
gores luka sedikit pun. Allah sungguh meyertai dan menolong Daniel. Tentu
karena Daniel adalah pribadi yang berintegritas. Taat, setia kepada Allahnya,
meskipun tantangan, ancaman, penderitaan harus ia hadapi.
Pertanyaannya
adalah bagaiamana caranya Daniel bisa menjadi pribadi yang berintegritas?
Sebuah proses yang panjang, tidak instan, tidak dadakan. Benih-benih integritas
dalam diri Daniel mulai tumbuh dalam lingkungan keluarga. Daniel berasal dari
keturunan raja dan bangsawan (Daniel 1:3). Di usia mudanya ia sudah hidup benar
di hadapan Allah, tidak bercacat-cela, berhikmat dan berpengetahuan. Pendidikan
dalam keluarga menjadi cikal-bakal untuk menumbuhkan nilai-nilai positif dalam
diri Daniel. Ditambah lagi, pada usia mudanya, Daniel mendapat kesempatan belajar
selama 3 tahun sebelum bekerja di istana raja Nebukadnezar (Daniel 1:5). Ujian
dan tantangan untuk tetap memiliki hidup berintegritas selalu berhasil dilewati
oleh Daniel. Hingga akhirnya terbentuklah sosok pribadi Daniel yang memiliki
integritas luar biasa.
Matius
22:15-22 juga berbicara tentang integritas. Yesus Kristus sebagai model pribadi
yang berintegritas. Seperti Daniel, Yesus juga tengah menghadapi kelicikan, akal bulus orang-orang Farisi yang
setiap saat ingin menjatuhkannya. Murid-murid orang Farisi bertanya kepada
Yesus, “Guru kami tahu Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur
mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau
tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami apakah diperbolehkan membayar pajak
kepada kaisar atau tidak?”
Yesus tahu
persis isi hati orang-orang yang mengajukan pertanyaan. Mereka tidak bertanya
dengan tulus, murni tidak tahu, melainkan ada
udang di balik batu, ada maksud dan tujuan jahat dibalik pertanyaan yang
diajukan. Yesus juga tidak terbang ke atas awan alias menjadi sombong ketika
pertanyaan itu sebenarnya mengandung beberapa pernyataan tentang kehebatan
Yesus (orang yang jujur, tidak takut kepada siapapun alias pemberani, pribadi
yang tulus-tidak mencari muka)
Terhadap
pertanyan yang menjerumuskan itu, Yesus tidak tertipu. Seandainya Yesus berkata
bahwa membayar pajak kepada Kaisar tidak sesuai dengan Hukum Taurat, maka
penguasa Roma yang mendengar pernyataan itu bisa menuduh Yesus sebagai orang
yang melawan pemerintah Roma. Sebaliknya jika Yesus berkata bahwa itu tidak
melanggar hukum Taurat maka Ia menyinggung perasaan orang-orang Yahudi yang
anti terhadap penjajahan. Barangkali Yesus akan dicap sebagai pribadi yang
menyetujui penjajahan.
Situasi
yang sebenarnya tidak mudah, akan tetapi karena memiliki hikmat, Yesus mampu
menjawabnya dengan sangat bijak. Memakai sarana uang dinar bergambar wajah
kaisar, Yesus tidak melarang pembayaran pajak kepada kaisar karena mata uang
Roma—dinar adalah milik kaisar. "Berikanlah
kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa
yang wajib kamu berikan kepada Allah!" menunjukkan bahwa tiap-tiap
orang mempunyai kewajiban terhadap negara dan terhadap Allah. Kewajiban
terhadap negara tidak harus dipertentangkan dengan nilai-nilai kekristenan,
sebab kekuasaan suatu pemerintahan diberikan oleh Allah demi kesejahteraan seluruh
manusia.
Memiliki
hidup yang berintegritas memang bukan hal yang mudah. Apalagi di zaman
sekarang, betapa sulitnya mencari pemimpin yang berintegritas. Buktinya ialah
semakin merosotnya nilai-nilai moralitas di semua lapisan masyarakat, tidak
hanya rakyat kecil, bos besar-para pejabat tinggi juga belum mampu memiliki
hidup yang berintegritas. Banyak orang mudah diombang-ambingkan oleh hawa
nafsu, kepentingan pribadi dan kelompok. Nilai-nilai kebenaran, keadilan,
kejujuran, kesetiaan, ketaatan acapkali menjadi produk usang yang tidak
diminati oleh masyarakat. Keluarga-keluarga Kristen masa kini semestinya
menjadi wadah paling kecil dalam menumbuhkan nilai-nilai integritas kepada
seluruh anggota keluarga. Hidup berintegritas baik di dalam lingkup keluarga,
masyarakat, gereja dan negara.
Mempersiapkan
diri untuk masuk ke dalam perayaan Sakramen Perjamuan mengingatkan kita semua
pada teladan hidup Yesus, manusia sejati yang berintegritas. Kesetiaan, ketaataan dan pengorbanannya di kayu salib
guna menebus dosa-dosa manusia semestinya mampu memotivasi kita untuk belajar
memiliki hidup yang berintegitas. Selama hidup, apa yang dikatakanNya itulah
yang dilakukanNya. Dan, apa yang dilakukanNya, itulah yang dikatakanNya.
Konsisten! Berintegritas! Satu kata dan perbuatan. Sehingga tidak ada satu pun
lawan yang mampu menunjukkan kesalahan Yesus. Selamat belajar memiliki hidup
yang berintegritas! Tuhan Yesus Memberkati, Amin.
LIDAH SEORANG
MURID
Yesaya 50:4-9a ;
Yakobus 3:1-12
Ada seorang ibu datang kepada pendeta. Ia
bercerita kalau beberapa hari yang lalu sudah memfitnah teman kantornya,
sampai-sampai teman kantornya itu di diberhentikan. Sang ibu datang ke pendeta untuk
meminta doa pengampunan. Menanggapi cerita tersebut, sang pendeta tersenyum
kecil, lalu berkata kepada sang ibu. “Ibu
yang baik, lakukan apa yang saya perintahkan. Saat ini juga, ibu harus pergi ke
pasar, dan belilah seekor ayam. Dan ketika ibu pulang dari pasar, cabutilah
bulu ayam tersebut satu persatu dan biarkan jatuh di sepanjang jalan yang ibu
lewati”. Tentu sang ibu sedikit kaget, kok aneh-aneh ya, perintah sang
pendeta. Tapi, karena yang memerintahkan pendeta, sang ibu mematuhinya. Ia
pergi ke pasar, membeli seekor ayam dan mencabuti bulu-bulunya dan memjatuhkannya
di sepanjang jalan yang ia lalui. Segera setelah semuanya selesai, ia kembali
ke pak pendeta. Ia melapor, “Pak, semua
yang bapak perintahkan sudah saya kerjakan”.
Pendeta tersebut tersenyum kemudian
berkata, “sekarang, ibu lakukan lagi apa
yang saya perintahkan, pergilah ke sepanjang jalan menuju pasar dan
kumpulkanlah kembali bulu-bulu ayam yang sudah ibu cabuti tadi”. Saking
taatnya kepada pendeta, ibu tersebut menuruti apa yang diperintakan pak
pendeta. Apa yang terjadi? Semua bulu-bulu ayam yang ada di sepanjang jalan
menuju ke pasar sudah tidak ada lagi, karena bulu-bulu itu sudah diterbangkan
oleh hembusan angin. Ibu ini kembali ke pak pendeta dan menceritakan semuanya.
Pak Pendeta berkata, “seperti bulu-bulu ayam yang sudah
diterbangkan oleh angin, seperti itu pula kata-kata fitnah, kebohongan yang
sudah ibu sebarkan kepada seluruh orang sehingga membuat salah seorang teman di
kantor ibu diberhentikan. Betapa sulitnya menarik kembali setiap perkataan yang
sudah keluar dari mulut kita. Mulai sekarang, jagalah setiap perkataan yang ibu
ucapkan”.
Tuhan menciptakan lidah tentu tidak
hanya untuk merasakan lezatnya makanan. Tidak hanya berfungsi sebagai indera
pengecap. Tidak hanya untuk merasakan manis dan gurihnya gado-gado jogya, bagi
yang baru pulang dari Jogya. Tidak hanya untuk merasakan pedas dan maknyusnya mie ayam di depan GKJ Bekasi.
Melainkan mempunyai fungsi-kegunaan yang sangat penting.
Dalam Kitab Yakobus dikatakan bahwa
lidah itu adalah salah satu bagian tubuh yang paling kecil tetapi besar
pengaruhnya bagi manusia. Diibaratkan lidah itu seperti kemudi kapal. Kapalnya besar tetapi kemudinya kecil. Kecil-kecil cabe rawit. Kecil-kecil
punya fungsi yang sangat penting. Ibarat kekang
dimulut kuda. Ibarat api yang
nyalanya kecil, hanya puntung rokok “tegesan
rokok” tapi mampu membakar berhektar-hektar hutan belantara yang sangat
luas.
Juga dikatakan dalam kitab Yakobus,
manusia itu maklhuk yang paling berkuasa atas semua ciptaan Allah, segala
binatang dan tumbuh-tumbuhan di dunia ini. Akan tetapi manusia, tidak mampu
berkuasa atas lidahnya sendiri. Lidah seringkali jauh lebih buas dari binatang
yang sangat buas. Makanya ada istilah, “mulutmu
harimaumu”. Kadangkala, lidah jauh lebih beracun daripada racun yang paling
beracun yang ada di dunia ini.
Melalui suratnya, Yakobus menegor dengan
keras, beberapa orang yang ada di tengah jemaat, mereka yang saling berebut
untuk menjadi seorang guru/pengajar di tengah jemaat. Yakobus menegor mereka
bukan karena Yakobus melarang mereka menjadi guru/pengajar, melainkan Yakobus
mengingatkan tentang motivasi mereka menjadi seorang guru. Banyak orang saling
berebut menjadi seorang guru/pengajar, karena pada masa itu, guru merupakan
salah satu jabatan gerejawi yang sangat terhormat.
Almarhum Pendeta Eka Darmaputera dalam
bukunya menuliskan bahwa guru merupakan jabatan gerejawi nomor 3 pada masa itu,
setelah Rasul dan Nabi. Akan tetapi seringkali banyak orang yang akhirnya
menjadi nabi-nabi palsu dan guru-guru palsu. Karena motifasi mereka sudah tidak
benar. Yakobus mengingatkan orang-orang tersebut untuk memiliki motifasi yang
benar jika ingin menjadi seorang guru. Sebab, semakin tinggi status, jabatan
gerejawi seseorang, akan semakin banyak tantangan, godaan khususnya tentang
tanggung jawab mengendalikan perkataan. Apalagi sebagai seorang guru yang
setiap waktu harus siap sedia mengajarkan pengajaran yang benar dan tidak boleh
menyesatkan.
Yakobus mengingatkan umat Kristen pada
masa itu untuk berhati-hati dalam menggunakan lidah. Hati-hati dalam
berkata-kata. Semestinya lidah dipakai untuk memuji Tuhan, bukan untuk
mengutuk, lidah untuk memberkati bukan untuk mengucapkan sumpah serapah,
kata-kata hinaan, caci maki.
Di ayat 11 dan 12, Yakobus menyampaikan
bahwa seharusnya orang-orang Kristen itu baik-baik semua. Mampu menjaga setiap
perkataan yang ia ucapkan. Mengapa? Karena orang-orang Kristen meminum air dari
sumber kebenaran yang sejati. Yaitu firman Tuhan. Dikatakan, “adakah sumber memancarkan air tawar dan air
pahit dari mata air yang sama?”. Dulu di desa saya ada toko bangunan,
namanya “Sumber Agung”. Baru buka beberapa bulan kemudian tutup karena tidak
laku. Lalu orang-orang berkata: “itu salah memberi nama, “sumber agung”: sumbernya memang agung tapi nggak pernah di
cidok”, tidak pernah diambil sumbernya itu. Banyak orang Kristen yang sudah
berpuluh-puluh tahun menjadi Kristen tetapi hidupnya jauh dari firman Tuhan.
Dekat dengan sumber kebenaran yang sejati, yang memancarkan air tawar, yang
menyehatkan jiwa, akan tetapi tidak pernah berusaha untuk meminum-mencicipi
sang sumber kebenaran sejati tersebut. Ibarat pohon, orang-orang Kristen
berasal dari pohon yang berkualitas yang tumbuh subur oleh karena siraman
Firman Tuhan. Dan tentu ketika menghasilkan buah, buah yang sangat berkualitas,
bukan buah yang busuk.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih
dalam Tuhan Yesus Kristus, Nabi Yesaya juga sangat berharap kepada umat Israel
agar mereka bisa memiliki lidah seorang murid. Di ayat 4 disebutkan ciri-ciri
lidah seorang murid yaitu setiap perkataan yang memberikan semangat baru kepada
orang yang letih lesu. Perkataan yang
memberikan semangat bukan mematahkan semangat. Perkataan yang mampu memotivasi,
membangun, bukan hanya mengkritik, mencela, menyalahkan, memojokkan,
menjatuhkan orang lain.
Dan yang menarik untuk kita ketahui,
masih di ayat 4, Nabi Yesaya menyampaikan bahwa syarat utama supaya kita bisa
memiliki lidah seorang murid adalah belajar memiliki pendengaran seorang murid.
Untuk bisa memiliki lidah seorang murid kita harus juga memiliki telinga
seorang murid. Mengapa? Nabi Yesaya
mengkaitkannya dengan kebiasaan mendengar suara Tuhan di pagi hari. Seperti
Tuhan Yesus yang memiliki waktu pribadi bersama dengan Allah, setiap pagi
sebelum mengawali karya di dunia, Tuhan Yesus selalu mendengar suara Allah.
Memiliki waktu pribadi bersama dengan Allah. Bagaimana dengan kita semua?
Biasanya apa yang kita lakukan di pagi hari? Sebelum kita memulai semua
aktifitas kita? Punya waktu berdoa khusus, saat teduh di pagi hari? Atau
buru-buru menyalakan TV takut ketinggalan berita? Atau buru-buru mencari koran
yang ada di halaman rumah? Atau segera membuka laptop, ipad, BB, update status?
Bercerita sedikit tentang pengalaman
live in di salah satu pondok pesantren di Pleret, Bantul namanya Pondok
Pesantren Al-Mahali. Dulu dipimpin oleh seorang kyai, penulis buku dan pernah
disebut sebagai kyai KB karena menjadi satu-satunya kyai yang menyetujui
Gerakan KB di Yogyakarta. Namun sekitar 5 tahun yang lalu beliau meninggal
dunia dan luar biasanya, kepemimpinan pondok pesantren tersebut digantikan oleh
sang isteri, dipanggil Nyai. Kami sekitar 10 orang di pesantren tersebut, para
pendeta, vikaris dan beberapa orang teman dari Universitas Islam Negeri
Yogyakarya yang tengah studi Psacasarjana.
Yang menggelikan, biasanya kami bangun
minimal jam 5.30, tiba-tiba di Pondok Pesantren tersebut kami dibangunkan jam 4
pagi. Untuk bersama-sama mengikuti semacam doa pagi bersama. Ada seorang kyai
yang membaca Alquran dan para santri mendengar sambil mencatat. Seringkali
ketaatan kita kepada Sang Khalik, jauh tertinggal, dibanding dengan ketaatan
mereka. Pagi hari mereka datang kepada Tuhannya, tidak dengan muka kusut,
rambut acak-acakan melainkan dengan pakaian rapi, tubuh wangi, pakai jilbab dan
peci. Mereka lakukan itu tidak hanya pas waktu-waktu khusus tetapi setiap hari.
Mereka bukan orang dewasa, tetapi anak-anak SMP, SD bahkan ada yang masih di
bangku TK-PAUD. Lucu, menggemaskan tetapi juga salut dan kagum, membuat saya
dan teman-teman terkesima.
Sungguh sekali lagi, bijaksanalah dalam
berkata-kata. Dan ketika kita rindu memiliki lidah seorang murid, kita harus terlebih
dahulu belajar memiliki telinga seorang murid. Telinga yang peka akan suara
Tuhan.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih,
untuk mengakhiri firman Tuhan di siang hari ini, saya undang bapak, ibu untuk
bangkit berdiri. Dan kita akan bernyanyi bersama, salah satu lagu sekolah
Minggu. Semua harus bernyanyi!
Hati hati gunakan lidahmu! Jangan Fitnah!
Hati-hati gunakan lidahmu! Jangan gosip!
Allah Bapa di Sorga melihat semuanya, hati-hati
gunakan lidahmu!
Hati-hati gunakan lidahmu! Jangan bohong!
Hati-hati gunakan lidahmu! Jangan sombong!
Allah Bapa di sorga melihat semuanya, hati-hati
gunakan lidahmu!
Jangan fitnah, jangan gosip, jangan bohong, jangan
sombong!
Minggu, 26 Agustus 2012 (Perayaan & Penutupan HUT GKJ Bekasi)
Tema : Menjadi
Berkat Untuk Kemuliaan Allah
Bacaan : Roma 15: 1-9;
1 Korintus 10:29-11:1
Jemaat Kristen di Roma adalah kelompok
minoritas, yang harus hidup berdampingan dengan orang-orang Yahudi. Kita semua
tahu, orang-orang Yahudi punya keunggulan dalam hal ketekunan, kepandaian dan
ketaatannya akan Kitab Taurat. Namun, di sisi lain, orang-orang Yahudi sangat buruk
dalam hal relasi antar sesama manusia. Apalagi kepada mereka yang bukan sebangsa.
Orang Yahudi menganggap mereka sebagai bangsa yang tidak mengenal Allah. Dengan
kata lain, orang Yahudi hanya mementingkan relasi personal-vertikal dengan
Allah dan mengesampingkan relasi horizontal-antar sesama manusia.
Orang-orang Yahudi sangat betah berlama-lama
membaca dan mempelajari Kitab Taurat. Sebaliknya, mereka enggan menolong, membantu
orang lain, meski hanya beberapa saat. Tentu kita masih ingat cerita orang
Samaria yang baik hati. Para ahli Taurat dan orang Farisi hanya diam, berpangku
tangan, lalu melanjutkan perjalanan kembali, meski melihat ada seorang yang
tergeletak di tengah jalan, penuh luka, membutuhkan pertolongan. Dari kisah
itu, semakin jelas bahwa menolong sesamanya, bukanlah prioritas bagi orang-orang
Yahudi.
Rasul Paulus paham benar tantangan dan
pergumulan yang harus dihadapi jemaat Kristen di Roma. Manakala harus hidup
berdampingan dengan komunitas Yahudi di Roma. Melalui Suratnya, khususnya pasal
15:1-9, Rasul Paulus memberikan 3 nasehat kepada jemaat Kristen di Roma. Pertama, jemaat Kristen di Roma harus
terus bertekun dalam pengajaran Kitab Suci. Orang Yahudi saja begitu tekun
mendalami Kitab Suci, demikian pula seharusnya orang-orang Kristen di kota
Roma, harus lebih tekun. Bukan untuk menyaingi orang Yahudi, tetapi dengan
belajar Kitab Suci orang-orang Kristen mendapatkan penghiburan dari Allah. Dan
penghiburan itulah yang akan membuat orang Kristen terus berpegang teguh pada
iman pengharapannya kepada Kristus Yesus (ayat 4,5).
Kedua, jemaat Kristen
di Roma, diingatkan untuk terus memelihara kerukunan di tengah persekutuan
orang-orang Kristen. Bila di tengah jemaat ada orang yang lemah, memerlukan
pertolongan, biarlah mereka yang kuat mau menopangnya. Masing-masing anggota
persekutuan, diharapkan tidak mencari kesenangan pribadi sebaliknya
mengusahakan kesenangan orang lain. Dengan kata lain, jemaat Kristen di Roma,
tidak boleh meniru kehidupan orang Yahudi yang hanya memikirkan relasi personal
dengan Allah. Tanpa mau peduli dengan sesamanya.
Ketiga, jemaat Kristen
di Roma, harus berjuang mewartakan rahmat-cinta kasih Allah kepada bangsa-bangsa lain. Agar semua
bangsa di dunia ini, dapat memuliakan Allah. Jangan sampai orang-orang Kristen
di Roma, menjadi sama seperti orang Yahudi yang cenderung menyepelekan bahkan
membenci bangsa-bangsa lain. Dan berusaha, menutup berkat Allah untuk
bangsa-bangsa lain.
Khusus bagian yang ketiga, yaitu
mewartakan rahmat Allah kepada bangsa lain, Paulus mempunyai segudang
pengalaman dalam memberitakan Injil di tengah Bangsa Non Yahudi. Salah satu
contohnya adalah kehidupan orang Kristen di Korintus. Di sana, orang-orang Kristen harus berhadapan dengan
orang-orang non Yahudi, dengan berbagai bentuk budaya hellenis, yaitu budaya
campuran Yunani dan Romawi). Salah satu contoh dari kebudayaan Hellenis adalah
banyaknya penyembahan kepada berhala-berhala.
Dan permasalahan itulah yang coba
dijawab oleh Paulus dalam suratnya di pasal yang 10. Dengan tegas, di ayat 14,
Paulus berkata, “karena itu
saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah berhala!”. Permasalahan tidak
hanya sampai di sana, karena ternyata di tengah jemaat muncul persoalan
tentang, “makanan yang dipersembahkan kepada berhala”. Apakah orang-orang
Kristen boleh memakannya atau tidak?
Pertanyaan yang tidak mudah dijawab oleh
Paulus. Di satu sisi Paulus mencoba mengajak jemaat untuk membangun
relasi-kebersamaan dengan orang-orang di luar persekutuan Kristen, akan tetapi
di sisi lain, ia harus tegas dan memberikan pengajaran yang benar agar umat
Kristen di Korintus tidak terombang-ambing oleh budaya yang tidak sesuai dengan
iman Kristen. Di ayat 27, Paulus katakan, “kalau kamu diundang makan, oleh
seorang yang tidak percaya, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa
perlu untuk diperiksa”. Ayat 28, “tetapi kalau ada orang yang mengingatkan
kepadamu, bahwa makanan itu persembahan berhala, janganlah engkau memakannya”.
Artinya, ketika seorang Kristen diundang
makan/ bertamu dan disuguhi makanan, mereka tidak perlu bertanya/repot-repot
memeriksa makanan tersebut, karena hal itu bisa menimbulkan sakit hati bagi si
tuan rumah. Orang Kristen baru berhak tidak memakannya, jika ada orang yang
tahu dan mengingatkan, bahwa makanan itu
dipersembahkan kepada berhala. Tentu, dari pemberitahuan tersebut, seorang Kristen
yang diundang makan, punya kesempatan untuk memulai percakapan dengan si tuan
rumah, untuk menjelaskan bahwa sebagai orang Kristen tidak makan-makanan yang
dipersembahkan kepada berhala. Tidak mudah memang, tetapi Paulus mencoba
mencari cara yang tepat, supaya orang-orang Kristen tidak di cap sebagai
kelompok yang tertutup.
Akan tetapi yang lebih utama dari semua
cara tersebut, Paulus berkata: “jika
engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang
lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah menimbulkan syak
(kebimbangan) dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun
jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang
dalam segala hal bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang
banyak, supaya mereka beroleh selamat”.
Ini berarti, apapun yang dilakukan
Paulus ketika membangun relasi-kebersamaan dengan bangsa lain, semata-mata
untuk mewartakan rahmat Allah kepada semua orang. Paulus ingin, agar semua
orang melihat kehidupan orang Kristen yang terbuka kepada semua orang, namun
keterbukaan itu tidak menjadikan orang Kristen sama seperti orang-orang Non
Kristen. Terbuka dalam relasi, teguh
dalam iman.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih
dalam Tuhan Yesus Kristus, belajar dari pergumulan jemaat Kristen di Roma dan
Korintus, bagi kehidupan gereja masa kini, di tengah pergumulan dan tantangan
yang jauh lebih komples, khsusunya bagi GKJ Bekasi yang kini tengah berulang
tahun yang ke-17. Nasehat Rasul Paulus, tentu masih sangat berharga bagi
kehidupan umat di GKJ Bekasi. Menjadi berkat bagi kemuliaan Allah. Berarti
harus mempunyai 3 un. Yaitu tekun,
rukun, dan santun. Menjadi jemaat
yang tekun dalam mendalami,
menggumuli, belajar akan Kitab Suci. Menjadi jemaat yang rukun, antar anggota jemaat”. Dan yang terakhir, menjadi jemaat
yang santun, dalam membangun relasi
kebersamaan, komunikasi, kerjasama dengan pihak-pihak lain di luar jemaat.
3 un ini, bukan pilihan,
melainkan sebuah keharusan, yang semestinya ada di tiap-tiap anggota jemaat.
Tidak boleh hanya menjadi warga gereja yang tekun membaca Alkitab, semangat
kalau ada kegiatan PA, sarasehan, kelas-kelas Alkitab. Akan tetapi kurang
antusias kalau ada kegiatan-kegiatan yang lebih kepada upaya memupuk
kebersamaan, olahraga, kuliner, jalan-jalan, apalagi semakin tidak cocok kalau
ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial-diakonia, membantu korban banjir,
gempa, membagikan tajil, dsbnya. Juga tidak boleh menjadi warga gereja yang
hanya mau ikut kegiatan-kegiatan kebersamaan, misalnya sangat rajin ke gereja
kalau ada acara olahraga, tenis meja, futsal, kuliner, jalan-jalan, dsbnya.
Tetapi kalau ada undangan untuk hadir PA, sarasehan, seminar Alkitab, dialog
interaktif yang datang hanya sedikit. Juga tidak boleh menjadi warga gereja
yang hanya mau bergiat dalam pelayanan sosial, diakonia ke luar, tetapi
melupakan esensi dasar dari kehidupan orang Kristen yaitu bertekun dalam
pengajaran Kitab Suci. Berpikir bahwa, yang penting sudah menolong banyak
orang, tidak perlu lagi ke gereja, tidak penting yang namanya PA, Sarasehan,
dll. Sekali lagi 3 kun itu bukan pilihan melainkan keharusan, kemestian bagi
orang-orang Kristen yang benar-benar mau menjadi berkat bagi kemuliaan Allah.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih
dalam Tuhan, di usianya yang ke-17 tahun, saya pribadi yakin, 3 un tadi, sudah dilakukan oleh setiap
warga jemaat di GKJ Bekasi. Tekun mendalami alkitab? Sampun nggih? Sudah. Wong
tahun kemaren pernah ada gerakan Baca Habis Alkitab Perjanjian Baru (BHAPB).
Pasti saya yakin, panjengan masing-masing melanjutkan dengan gerakan Baca Habis
Alkitab Perjanjian Lama (BHAPL). Saya percaya, di tiap-tiap keluarga juga ada
waktu-waktu khusus, orang tua dan anak untuk bersama-sama membaca Alkitab.
Saestu nggih?
Rukun antar sesama warga jemaat? Sampun?
Saestu? Ya percaya, di GKJ Bekasi semua rukun-rukun, beda pendapat, beda
pemikiran itu mah biasa, perbedaan tidak merusak persatuan dan kesatuan umat di
GKJ Bekasi. Perbedaan justru memperkaya dan menumbuhkan kreatifitas.
Santun dalam berkomunikasi, bekerjasama
dengan pihak di luar gereja? Sampun? Sudah parkir mobil dengan santun? Sudah
menyapa, senyum kepada orang-orang yang kita temui di sekitar gereja? Sudah!
Bahkan sekarang sudah ada tim atau badan khusus yang dibentuk untuk mulai
membangun komunikasi, kerjasama dengan pihak-pihak luar gereja.
Semuanya sudah dilakukan oleh umat Tuhan
di GKJ Bekasi! Apalagi, bagi panjenengan, anggota majelis yang mau diteguhkan
hari ini, saya yakin 3 kun itu sudah pasti panjenengan miliki. Tekun mendalami
firman Tuhan? Pasti. Biasanya kalau sudah terpilih jadi anggota majelis,
belajar Alkitabnya luar biasa. Rukun? Pasti. Pas mau dicalonkan sebagai
majelis, pasti sudah memberi maaf, pengampunan kepada orang-orang yang pernah
bermasalah dengan panjenengan. Santun? Tentu. Wow, hebat! Jika semuanya sudah, berarti
tinggal kualitasnya saja yang terus ditingkatkan. Kualitas ketekunannya
kerukunannya dan kesantunannya.
Dan juga mari kita terus mengingat,
kata-kata Paulus, “jika engkau makan atau
jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya
itu untuk kemuliaan Allah”. Kalau GKJ Bekasi, jemaatnya tekun-pandai akan pengetahuan
Alkitab, warga jemaat semuanya rukun-damai-tenteram, santun dalam membangun
komunikasi-kerjasama dengan pihak luar, semua kebaikan, keberhasilan tersebut,
biarlah bukan untuk kebesaran nama pribadi per pribadi, bukan untuk kebesaran nama
anggota majelis, bukan untuk kebesaran nama para pendetanya, bukan untuk
ketenaran komisi-komisinya atau panitia-panitianya, melainkan sungguh, kebesaran-kemuliaan-ketenaran
itu kita persembahkan hanya untuk Tuhan.
Seperti kata Yohanes pembaptis, “Ia (Kristus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”. Biarlah segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Selamat
Ulang Tahun GKJ Bekasi yang ke-17. Selamat Ulang Tahun Bagi Kita Semua. Selamat
Menjadi Berkat Bagi Kemuliaan Allah. Amin.
GKJ Gandaria, 26 Agustus 2012
BERDIRI TEGAP
Yosua 24:1, 14-18; Mazmur 34:16-23; Efesus 6:10-20; Yohanes
6:60-71
“Apa yang dicari orang? Uang! Apa yang
dicari orang? Uang! Apa yang dicari orang pagi siang sore malam?
Uang..uang..uang..s’mua cari uang!”
Yang saya nyanyikan barusan adalah
sepenggal syair lagu anak-anak Sekolah Minggu. Pertanyaannya adalah benar atau
tidak, teks lagu tadi? Yang mengatakan bahwa pagi, siang, sore, malam semua
orang cari uang. Kalau kita lihat di tengah kehidupan modern saat ini, isi
nyanyian Sekolah Minggu tadi, sungguh tepat! Semua orang cari uang. “Lha kalau
tidak cari uang, nanti mau makan apa?!”.
Saudaraku yang terkasih, melalui
nyanyian tadi, saya bukan bermaksud mengajak saudara-saudara untuk anti dengan
yang namanya uang, tidak! Tetapi saya mengajak saudara-saudara untuk berpikir
dan melihat sejenak kepada kehidupan kita di zaman sekarang ini. Apa yang
menjadi prioritas utama dalam kehidupan kita? Apa yang menjadi pusat dari
kehidupan kita? Khususnya bagi kita para pemuda Kristen, anak-anak Tuhan,
khusus lagi di GKJ Gandaria.
Uang adalah salah satu saja dari sekian
banyak hal yang menjadi prioritas di dalam kehidupan manusia. Mungkin ada di
antara kita yang prioritas utamanya adalah pekerjaan, studi, hobi, relasi
pertemanan, sahabat, pacar, trend zaman, gaya hidup dan masih banyak yang lain.
Ketika fokus utama dalam hidup kita adalah hal-hal yang saya sebutkan tadi, seringkali
membuat kita lupa akan Tuhan.
Acapkali kita lebih mengutamakan
pekerjaan kita dibanding melayani Tuhan. Kadangkala kita lebih mementingkan
hobi kita, entah itu futsal-nonton-game, dibandingkan ke gereja mencari Tuhan. Jangan
sampai hal-hal tadi, ibaratnya menjadi ilah-ilah (tuhan-tuhan) lain dalam
kehidupan kita. Dan justru menggantikan Tuhan Yesus Kristus, sebagai Tuhan dan
juruselamat kita. Bekerja dengan tekun-punya hobi-bersahabat-pacaran tentu
boleh, asalkan itu tidak mengganggu, merusak bahkan meniadakan relasi kita
dengan Tuhan Yesus Kristus.
Saudaraku yang terkasih, kalau pada masa
kini, kita diperhadapkan pada ilah-ilah (tuhan-tuhan) modern, pada masa
kepemimpinan Yosua, bangsa Israel juga diperhadapkan pada ilah-ilah lain
(khususnya, berhala-berhala yang dipuja oleh masyarakat asli negeri Kanaan). Di
akhir kepemimpinan Yosua, sebelum Yosua emiritus/pensiun, ia berbicara kepada seluruh
umat Israel. Yosua mengajak umat untuk memilih, apakah akan tetap setia dan
taat menyembah Allah Israel atau beralih menyembah ilah-ilah lain. Seakan umat
Israel berada di persimpangan jalan. Mau tidak mau mereka harus menentukan
pilihan, mau lurus terus-hidup taat, setia, beribadah kepada Allah atau
berbelok ke kanan-ke kiri menyembah ilah-ilah lain.
Yosua sungguh-sungguh membebaskan umat
untuk memutuskan pilihannya. Meskipun begitu, Yosua sebagai seorang pemimpin,
mencoba menceritakan kembali kisah-kisah kebersamaan umat Israel dengan Allah.
Bagaimana Allah Israel adalah Allah yang selalu setia, menemani umat baik suka
maupun duka. Allah Israel tidak pernah meninggalkan umat seorang diri. Yosua
sebagai seorang pemimpin, juga berani menyatakan dengan tegas, bahwa dirinya
akan terus setia beribadah kepada Allah Israel, di ayat 15 “tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”.
Akhirnya, dengan kesungguhan hati, umat
Israel menyatakan bahwa mereka akan terus setia-taat beribadah kepada Allah.
Mereka berjanji tidak akan menyimpang ke kanan maupun ke kiri.
Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan,
belajar dari Bangsa Israel, yang dengan sepenuh hati, berjanji akan tetap
setia, taat beribadah kepada Allah meskipun diperhadapkan pada ilah-ilah lain.
Bagaimana dengan kita? Para pemuda-pemudi Kristen, GKJ Gandaria, masih setiakah
saudara kepada Tuhan? Ketika saudara diperhadapkan pada pilihan, lebih
taat-setia kepada Tuhan Yesus Kristus atau lebih memilih setia kepada
pacar/sahabat/ teman saudara? Apakah saudara berani berkata tidak, atas
pengaruh-pengaruh buruk dalam lingkungan, pergaulan, pekerjaan saudara? Yang
seringkali tidak sesuai dengan iman Kristen kita.
Ada banyak orang, pada masa kini, lebih
merasa aman, tenang manakala memiliki teman/sahabat orang yang punya
jabatan/kekuasaan. Ada juga orang yang merasa damai, nyaman, tenteram ketika
mereka bersahabat dengan minuman keras, narkoba. Atau ada juga anak-anak muda
yang seakan menikmati kehidupannya, hanya dengan pacarnya, seakan-akan di dunia ini hanya mereka berdua, yang lainnya kontrak,
ibaratnya, “tanpa kekasih hati di
sampingnya, seakan separuh hidupnya hilang”.
Ada banyak orang yang seringkali menggantungkan
diri, terikat sepenuhnya kepada hal-hal atau orang-orang tertentu. Padahal
kalau kita mau melihat dengan jernih, tidak ada satu pun hal/ orang di dunia
ini yang memiliki kesetiaan sejati. Kita bisa ditinggalkan oleh sahabat dekat
kita, atau seorang sahabat yang sangat dekat bisa berubah menjadi seorang musuh
yang menikam dari belakang. Narkoba, miras justru menjerumuskan kita, bukan menolong
kita. Banyak pacar yang tidak setia, di depan baik-baik, ternyata di belakang sudah
punya yang lain. Banyak pacar yang berprinsip, “ada uang abang disayang, tak ada uang abang di tendang”
Saudaraku yang terkasih, Mazmur 34:19
katakan, “Tuhan itu dekat kepada
orang-orang yang patah hati, dan ia menyelamatkan orang-orang yang remuk
jiwanya”. Ini janji Allah yang luar biasa kepada kita semua. Allah kita
bukan seperti sahabat-sahabat kita yang tidak setia, Allah kita bukan jawaban
sementara seperti miras dan narkoba yang justru menjerumuskan kita ke jurang
dosa. Allah kita adalah Allah yang setia, yang mau bersama dengan kita, suka
maupun duka. Ia adalah tempat perlindungan yang sejati. Ia tidak pernah
membiarkan kita seorang diri.
Saudaraku yang terkasih,
tantangan-pergumulan kehidupan orang-orang Kristen masa kini tidak semakin
ringan, namun kian berat. Tidak mudah untuk berdiri tegap, dalam iman dan
pengharapan kita kepada Yesus Kristus. Rasul Paulus mengibaratkan kehidupan
orang-orang percaya di dunia ini, seperti seorang prajurit yang tengah
berperang. Sebelum seorang prajurit berperang, mereka harus menyiapkan diri,
khususnya membawa perlengkapan senjata. Orang-orang percaya, harus memakai
perlengkapan senjata Allah, secara lengkap, secara utuh. Tidak hanya memilih
salah satu saja. Bayangkan kalau hanya memilih memakai ketopong saja, untuk melindungi
bagian kepala, bagaimana jika pedang itu mengenai bagian kaki? Pasti luka
bahkan bisa mati! Tidak hanya memakai baju zirah, dan melupakan ikat pinggang.
Apa yang akan terjadi? Dipastikan akan “mbrojol” pas dipakai berperang.
Pakailah perlengkapan senjata itu dengan utuh.
Seseorang ditetapkan menjadi prajurit
dan diberi perlengkapan sejata oleh komandannya, setelah melalui proses berlatih.
Tidak tiba-tiba bisa menjadi seorang prajurit, tidak tiba-tiba memiliki
perlengkapan senjata. Melalui proses berlatih, seseorang baru bisa mendapatkan
perlengkapan senjata itu.
Sama dengan perlengkapan senjata Allah,
orang-orang percaya harus berlatih, berproses, agar di dalam hidupnya, mereka
bisa memiliki hati yang terus mengusahakan kebenaran, keadilan, hati yang rela
melayani, iman yang teguh, keselamatan, dan tekun dalam mendalami firman Allah.
Dan dari kesemuanya itu, doa menjadi bahan bakar- spirit- yang terus menopang
kehidupan orang-orang percaya.
Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan,
ibarat sebuah bangunan, makin tinggi bangunan, makin kencang angin yang
menerpanya. Dibutuhkan pondasi yang dalam. Diperlukan juga tiang-tiang
penyangga yang kokoh. Sehingga bangunan yang tinggi dan megah itu berdiri
tegap, tidak goyah oleh apapun. Bangunan itu berdiri tegap, tak lekang oleh
waktu. Biarlah kesetiaan dan ketaatan kita kepada Tuhan Yesus Kristus, sahabat
sejati, sang pelindung sejati, Allah
sejati benar-benar sekuat bangunan dengan pondasi yang dalam dan tiang-tiang
penyangga yang kuat.
Mari sesekali menoleh ke belakang, untuk
mengenang campur tangan Allah yang luar biasa dalam perjalanan sejarah
kehidupan kita, dan terus berdiri tegap, menatap ke depan, berproses, berjuang
untuk tetap setia-taat kepada Allah.
Kesetiaan dan ketaatan itu sebuah
pilihan. Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk tetap setia kepadaNya. Seperti
Yesus, memberikan pilihan itu kepada Yudas Iskariot. Mau setia atau mau
berkhianat. Sayang, Yudas iskariot, memilih untuk tidak setia. Bagaimana dengan
kita, pilih setia atau berkhianat?
Lagu sekolah Minggu tadi, kalau di awal
semua orang cari uang, sekarang kalau kita benar-benar mau berdiri tegap, setia
kepada Allah, syair lagunya akan berubah.
“Apa
yang dicari orang? Tuhan! Apa yang dicari orang? Tuhan! Apa yang dicari orang
pagi, siang, sore, malam? Tuhan, Tuhan, Tuhan. Bukan uang saja!
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
LEWAT
PUJI-PUJIAN KEMAHAKUASAAN ALLAH DINYATAKAN
(Daniel 6:11-25;
Kisah Para Rasul 16:23-26)
Om Swasti
Astu...
Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan
Yesus Kristus, sekitar tahun 60 an ada sebuah gerakan Kekristenan di China,
yang disebut gerakan gereja bawah tanah.
Ini hanya gambar ilustrasi saja. Karena pada masa itu, belum ada alat-alat dokumentasi
yang canggih seperti saat ini. Dan memang, gerakan gereja bawah tanah, sifatnya
sangat rahasia, tersembunyi. Dikarenakan, pada masa itu, pemimpin pemerintahan
China sangat membatasi pergerakan-perkembangan gereja.
Jumlah gereja dan anggota gereja sangat dibatasi.
Tentu itu terkait dengan ideologi komunis yang akhirnya mengarahkan warga negaranya
pada konsep “ateis”. Salah satu konsep yang terkenal pada masa itu adalah
pemahaman bahwa agama adalah “candu” masyarakat. Semua yang berkaitan dengan
hidup keagamaan harus sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah
komunis China pada masa itu. Jika kedapatan orang berkumpul dan beribadah yang
tidak sesuai dengan aturan pemerintah, mereka akan ditangkap, dimasukkan dalam
penjara bahkan dibunuh.
Yang sungguh menarik ialah meski
himpitan-tekanan terus dihadapi gereja-gereja bawah tanah di China, gerakan
mereka tidak mati, langkah mereka tidak surut, tetapi justru semakin berkembang
pesat. Semakin dibabat-semakin merambat.
Persekutuan-persekutuan, ibadah-ibadah mereka selalu dirindukan dan dihadiri
oleh banyak orang Kristen. Padahal, ibadah mereka cukup unik dan sangat
sederhana. Ibadah dilakukan di gua-gua sempit, di sana mereka tidak saling
berbicara, mereka membaca firman dalam hati begitu pun dengan menyanyi, mereka
menyanyi dalam hati. Hanya di batin saja. Tetapi yang sungguh luar biasa,
perkembangan gereja bawah tanah di China sungguh dahsyat. Allah sungguh-sungguh
berkuasa dalam doa-doa mereka. Allah bertakhta di atas puji-pujian yang mereka
nyanyikan, meskipun hanya dalam hati.
Dari kisah nyata Gerakan Kekristenan di
China tadi, saya mau katakan bahwa kemahakuasaan, kedahsyatan Allah akan
dinyatakan, yang utama, bukan terletak pada indah atau tidak suara kita pada waktu
bernyanyi, bukan karena alat-alat musik tertentu, yang canggih-yang modern, bukan
juga karena permainan musik yang handal-hebat, bukan karena keras-pelannya suara
nyanyian atau musik kita. Namun yang utama adalah bagaimana nyanyian itu
benar-benar kita jiwai, kita hayati, bagaimana setiap syair nyanyian tersebut sungguh-sungguh
kita hidupi. Dengan kata lain, bernyanyilah dengan hati. Meski hanya bernyanyi
dalam hati, kalau kita sungguh-sungguh melakukannya, kemahakuasaan Allah
sungguh-sungguh dinyatakan. Bukan berarti lalu, kita tidak mau menyanyi dengan
mengeluarkan suara.
Belajar dari kedua kisah di dalam bacaan
kita tadi, kisah Daniel dan juga kisah Paulus-Silas. Ada 2 hal yang bisa kita
pelajari tentang bagaimana caranya supaya pujian yang kita naikkan
sungguh-sungguh punya kuasa dari Allah. 2 K, K yang pertama, kita harus menjadi
seorang pemuji yang punya ketaatan.
Contohnya, Daniel. Dalam keadaan tertekan, menghadapi fitnahan rekan-rekannya,
Daniel tidak mengandalkan kekuatannya sendiri, ia mengandalkan kekuatan Allah
dengan cara hidup taat kepada Allah. Dikatakan, di ayat 11, “tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta
memuji Allahnya...” Meskipun, ketaatan tersebut menjadi jurus ampuh bagi musuh-musuhnya
untuk menuduh dan menghakimi Daniel. Bahkan karena ketaatannya kepada Allah,
Daniel dimasukkan ke dalam gua singa. Tapi yang sungguh luar biasa, kisah
Daniel berakhir happy ending. Karena kemahakuasaan Allah, Daniel diselamatkan dari
terkaman singa-singa yang buas. Kemahakuasaan Allah dinyatakan kepada Daniel,
karena Daniel adalah seorang pemuji yang punya ketaatan.
Saudaraku yang terkasih, seorang pemuji harusnya
juga seorang yang taat kepada Allah. Sayang sekali, ketika ada seorang pelayan
Tuhan, entah itu pendeta, pengiring musik di gereja, song leader, singers, anggota
paduan suara, kelihatan hebat ketika melayani Tuhan di tengah kebaktian. Sangat
hebat bermain musik, suaranya sangat bagus, ikut dalam paduan suara yang hebat,
tapi kehidupan sehari-harinya jauh dari Tuhan. Semuanya menjadi percuma, hanya
kelihatan hebat, di depan manusia, namun sebenarnya Tuhan sedih melihat
kehidupan kita.
Jangan sampai, di gereja, seseorang
memakai mulut-bibirnya untuk memuji Tuhan, menjadi singers, song leader,
anggota paduan suara, namun di luar sana, bibir dan mulut kita, penuh dengan
caci maki, umpatan, perkataan kotor, fitnah, dsbnya. Atau di tengah kebaktian,
tangan dan kaki kita, kita pakai untuk bermain musik, akan tetapi di luar sana,
di sekolah, justru kita pakai untuk memukul, menendang teman kita. Sangat
disayangkan. Puji-pujian yang kita naikkan kepada Allah, akan sungguh berkuasa,
manakala kita sebagai seorang pemuji, sungguh-sungguh memiliki ketaatan kepada
Allah.
K yang kedua
adalahkesehatian. Kita bisa
melihatnya dari kisah Paulus dan Silas. Ketika menghadapi penderitaan yang
hebat, mereka dimasukkan ke dalam penjara yang paling tengah, kaki mereka dibelenggu
dalam pasungan yang kuat, Paulus dan Silas tidak saling menyalahkan, mereka
tidak merasa takut, tetapi justru mereka memiliki kesehatian untuk menghadap
Allah. Dikatakan, pada tengah malam mereka
berdoa dan menyanyikan puji-pujian. Dan sungguh dahsyat kemahakuasaan
Allah, tembok di dalam penjara itu runtuh karena gempa yang sangat dahsyat.
Saudaraku yang terkasih, kesehatian di
antara para pemuji menjadi harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar. Entah itu
dalam PS, Vokal Group, Band pengiring, song leader-singers, Tim ibadah, ataupun
jemaat saat bernyanyi dalam rangkaian kebaktian. Percuma pelayanan musik kita
hebat, PS kita dahsyat, tim ibadah kita sangat kreatif, sayang kalau hanya
hebat di mata manusia, tetapi tidak dimata Allah. Karena di tengah PS kita, VG
kita, band atau tim ibadah kita, masih ada rasa dendam, cemburu, sakit hati, luka
batin, ada perseteruan, ketidak rukunan, ketidak harmonisan. Satu dengan yang
lain saling menyalahkan, ada yang merasa paling penting, paling berperan,
paling dibutuhkan dan ada yang merasa tidak berharga, tidak penting. Kalau itu
sungguh terjad, dapat ipastikan pelayanan saudara, pujian yang saudara naikkan
bagi Tuhan, musik yang hebat yang saudara-saudara suguhkan dalam setiap ibadah
akan terasa hambar, kering, dan tidak akan mendatangkan kuasa dari Allah.
Saudaraku yang terkasih, pujian yang
bisa mendatangkan kuasa dari Allah, tidak terletak pada volume suara, keras
atau pelan. Bukan terletak pada hingar bingar iringan musik yang dipakai. Atau sebaliknya
bukan juga karena, teduh, lembutnya alunan musik. Allah bisa bertahkta di atas
pujian yang hingar bingar, yang semangat tetapi Allah juga bisa bertakhta di
atas pujian yang lembut, teduh. Tidak boleh kita mempertentangkan satu dengan
yang lain. Tidak bisa kita katakan, Roh Kudus mau datang kalau musiknya pakai
band, sebaliknya Roh Kudus tidak mau datang kalau hanya pakai gitar/ organ. Itu
sangat menyempitkan makna teologis sebuah pujian yang berkuasa. Roh Kudus,
Allah tidak melihat alat musiknya lengkap atau tidak, tetapi Ia melihat
kesungguhan kita di dalam menyanyi.
Seperti
Daniel, dia memuji di ruang yang sunyi, seberapa keras suara yang dihasilkan?
Tidak keras. Tapi ia lakukan itu dengan penuh ketaatan. Hasilnya luar biasa. Singa yang ganas, seakan menjadi singa
ompong. Singa pemakan daging, berubah selera menjadi singa pemakan buah-buahan.
Begitu juga dengan kisah Paulus-Silas, mereka hanya bernyanyi berdua di dalam
penjara itu. Suaranya tentu lebih pelan dari suara nyanyian kita saat ini,
tetapi suara itu bisa menggoyahkan setiap sendi-sendi penyangga bangunan penjara
itu. Sungguh dahsyat karya Allah.
Mari kita belajar untuk mengerti dan
memahami bahwa nyanyian, musik, alat musik, sound sistem itu hanya sarana saja, Allah bisa memberikan
kuasanya lewat sarana-sarana itu, tetapi Allah juga bisa memberikan kuasanya dengan
cara yang lain. Meski hanya bernyanyi dalam hati, hanya bertepuk tangan, hanya
memakai iringan gitar saja, kuasa Allah bisa terjadi dengan hebatnya. Yang
terpenting, sebagai seorang pemuji, kita harus memiliki ketaatan hidup dan
kesehatian di anatara para pemuji.
Untuk mengakhiri kotbah ini, saya
mengajak saudara-saudara untuk berdiri, dan menghayati serta menyanyikan, salah
satu nyanyian rohani, berjudul “Anak Terang”. Mari kita nikmati setiap
lirik/syair nyanyian ini.
-->
Minggu, 19 Agustus 2012 (Induk 17.00)
Tema : Menjadi Berkat Bagi Semua Orang
Bacaan : Kejadian 39:1-6a, Matius 5:13-16
Kejadian 39:5 katakan, “sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya
dan atas miliknya kepada Yusuf, Tuhan memberkati rumah orang Mesir itu karena
Yusuf, sehingga berkat Tuhan ada atas segala miliknya, baik yang di rumah
maupun yang di ladang”.
Dalam konteks Perjanjian Lama, ada satu
keyakinan bahwa berkat Allah hanya diperuntukkan bagi umat pilihan Allah yaitu
Bangsa Israel. Akan tetapi dalam kisah Yusuf ini, kita melihat bahwa melalui
kehidupan Yusuf berkat Allah juga bisa dinikmati oleh bangsa lain. Khususnya
bagi Potifar dan keluarganya. Meskipun Potifar adalah orang Mesir. Bahkan ia
bekerja di istana Firaun. Salah seorang keturunan raja yang memiliki catatan
sejarah kelam bagi umat israel. Melalui kehidupan Yusuf, Allah berkenan
mencurahkan berkatNya, tidak hanya terbatas kepada Bangsa Israel, tetapi juga
kepada orang-orang di luar Israel.
Pertanyaannya adalah apa “kunci
keberhasilan” kehidupan Yusuf, sehingga ia diberkati oleh Allah dan berkat itu
juga bisa memberkati semua orang? Saya menemukan ada 3 kunci keberhasilan
kehidupan Yusuf:
1)
Spiritualitas
Yusuf memiliki spiritualitas (kehidupan
rohani) yang baik. Ia hidup melekat pada Allah; bergaul akrab dengan Allah; ia bergantung
penuh pada janji dan pertolongan Allah. Bahkan Allah memberikan
hikmat-kemampuan rohani kepada Yusuf, sebagai pribadi yang kerapkali mendapat
penglihatan-petunjuk dari Allah melalui mimpi. Dan Yusuf bisa menafsirkan mimpi
tersebut.
2)
Integritas
Yusuf pribadi yang taat, setia
menjalankan perintah-hukum Tuhan, tidak mudah menyerah, tidak mudah kalah meski
banyak tantangan-godaan yang kerapkali harus ia hadapi. Salah satu contohnya,
Yusuf bisa tetap tegar, tidak menjadi frustasi,
tidak menyimpan atau memiliki keinginan membalas dendam kepada saudara-saudaranya.
Yusuf bisa mengatasi segala kepahitan hidupnya, dan tetap menjadi pribadi berhati
murni. Bahkan ke-integritasan Yusuf, benar-benar teruji, saat ia digoda oleh
isteri Potifar.
3)
Kompetensi
Untuk bisa menjadi orang kepercayaan
Potifar tentu bukan hal yang mudah. Secara manusiawi Yusuf harus banyak
belajar, Yusuf harus mau mengasah-meningkatkan kemampuannya-skill-kompetensinya.
Dalam usianya yang masih sangat muda dengan latar belakang sebagai seorang
gembala, tentu ia belum punya pengalaman bekerja sebagai kepala rumah tangga. Tetapi
Yusuf dengan tekun mau berproses meningkatkan kompetensinya.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih
dalam Tuhan Yesus Kristus, semestinya, orang-orang Kristen yang ingin hidupnya
menjadi berkat bagi semua orang, harus juga memiliki ke-3 hal tadi, seperti yang
ada dalam diri Yusuf. Spiritualitas
yang baik, integritas yang kuat dan kompetensi yang unggul. Menjadi orang
Kristen yang bisa memberkati semua orang tidak cukup hanya dengan memiliki spiritualitas
yang baik artinya tidak cukup dengan menjadi pribadi yang rajin berdoa, tekun
berpuasa, rajin ke gereja. Tidak mungkin juga orang punya integritas yang kuat
jika ia tidak memiliki dasar kehidupan spiritualitas yang baik. Dan juga, tidak
cukup hanya memiliki segudang kemampuan-skill, tanpa di dasari oleh
spiritualitas dan integritas yang baik. Karena tanpa spiritualitas dan
integritas, orang akan mudah jatuh, menggunakan kompetensinya-kemampuannya
bukan untuk memberkati orang lain tapi untuk memberkati dirinya sendiri. Bukan
untuk kepentingan orang lain tapi untuk kepentingan dirinya sendiri. Bahkan
untuk memperdaya, menipu orang lain.
Misalnya, orang punya skill membuat
senjata api, kalau ia tidak punya kehidupan spiritualitas yang baik dan ia
tidak punya integritas, pasti ia akan gunakan senjata api itu untuk tindak
kriminalitas. Atau karena iming-iming uang yang banyak, dengan gampangnya ia
menjual senjata api itu kepada orang yang tidak tepat.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih
dalam Tuhan Yesus Kristus, belajar dari kehidupan Yusuf yang sebenarnya hanya sebagai
seorang “budak/hamba”. Dan pada konteks zaman itu, seorang budak, “doulos” (budak belian) semestinya tidak
memiliki hak-wewenang atas dirinya sendiri, apalagi atas orang lain. Tetapi Yusuf
berbeda, ia punya pengaruh yang luar biasa atas kehidupan Potifar dan seisi
rumahnya. Menjadi teladan bagi kita semua, misalnya, di tengah kehidupan
pekerjaan kita, mungkin saat ini, kita tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi
atasan, kita bekerja hanya sebagai staff-bawahan yang mungkin rasanya tidak
terlalu diperhitungkan-tidak terlalu penting.
Tapi saat ini mari belajar dari
kehidupan Yusuf, statusnya memang sebagai seorang “budak” tetapi ia bisa
mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Ia menjadi berkat bagi banyak orang di
sekitarnya. Status boleh staff, bawahan, tetapi kehidupan kita harus bisa
menjadi berkat-punya pengaruh, menginspirasi orang-orang di tempat kerja kita. Tentu
melalui spiritualitas kita, ketekunan, ketaatan, kejujuran, kesetiaan, keramah
tamahan kita, dan juga kemauan-kerja keras kita. Dengan kata lain, jadilah orang-orang Kristen
yang luar biasa. Bukan yang biasa-biasa saja. Apapun pekerjaan kita dan
dimanapun kita ditempatkan.
Ulangan 28:13, katakan, “TUHAN akan mengangkat engkau
menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila
engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini
kaulakukan dengan setia”. Menjadi orang-orang Kristen luar biasa adalah orang
Kristen yang bermental kepala bukan ekor. Orang Kristen yang berkarakter
pemimpin, bukan hanya sebagai anggota. Berkarakter pemain, bukan hanya
penonton. Menjadi orang Kristen yang tidak hanya sedang-sedang saja. Menjadi
orang Kristen yang bermental kepala, misalnya: ada kesempatan, menjadi ketua
RT/ RW, minimal pengurus di lingkungan,
ambillah kesempatan itu. Karena itu adalah kesempatan bagi kita untuk
semakin bisa menjadi berkat bagi banyak orang.
Matius 5:13-16, katakan,
“kamu adalah garam dunia dan terang dunia”. Bukan, “kamu harus menjadi garam
dunia dan terang dunia”. Artinya apa? Garam dunia dan terang dunia itu bukan
harapan, cita-cita, tujuan hidup orang Kristen melainkan sebuah status yang
sudah paten bagi orang Kristen. Orang Kristen adalah garam dunia dan terang
dunia.
Orang Kristen yang
bermental ekor, ibarat terang yang ditaruh di bawah gantang, yang terangnya
tidak menerangi sekitarnya. Ibarat garam yang sudah menjadi tawar, tidak ada
lagi gunanya. Orang Kristen yang luar biasa, adalah orang Kristen yang
bermental kepala, seperti garam yang mengasinkan, yang melezatkan makanan. Ibarat
terang yang sungguh-sungguh menerangi sekitarnya.
Saya mengajak
bapak, ibu dan saudara semua untuk berdiri. Kita akan melakukannya
bersama-sama. Tangan ke atas (Spiritualis). Tangan menyilang ke dada
(integrity). Tangan mengepal dan memutar (Kompetensi-Belajar & Belajar). Tuhan
Yesus Memberkati. Amin.
Ga sengaja lihat sharing blog ini di fb mbak oki.
BalasHapusBlogwalking yaaahh...
Semangat menulis bapa pandita ...!
terimakasih mbk Monda :)
BalasHapus