Kotbah Minggu




Kotbah Minggu, 21 April 2013
Perempuan: Allah Mempercayai Dan Mengutusnya
Markus 16:9-11 & Yohanes 20:11-18

            Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, hari ini tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Untuk mengenang segala jasa dan perjuangannya, bersama-sama kita berdiri dan menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini”. “Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia harum namanya. Ibu kita Kartini pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka. Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia. Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia”.
Apa yang kita ingat dari sosok Kartini? Pahlawan perempuan, emansipasi wanita, kesetaraan gender, buku Habis Gelap Terbitlah Terang, kota kelahiran di Jepara, suaminya bernama Raden Adipati Djoyodiningkrat berasal dari Rembang.
Pada masa kecilnya, Kartini mendapatkan perlakuan yang sama seperti para perempuan pada zaman itu. Setelah lulus Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Bersama sang ibu, Kartini kecil dididik untuk bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, menyeterika, mencuci, berkebun, menjahit dan menyulam.
Merasakan hidup sebagai perempuan yang dibeda-bedakan dari laki-laki, Kartini bertekad mengubah sikap & cara pandang yang ada pada saat itu. Mulailah Kartini rajin membaca buku dan media cetak baik lokal maupun internasional.
Suatu kali Kartini menulis surat agar diberikan beasiswa studi ke Belanda. Tapi sayang, setelah beasiswa itu disetujui Kartini dinikahkan orang tuanya dengan Adipati Djoyodiningkrat. Bersama dengan suaminya, Kartini mendirikan beberapa Sekolah khusus perempuan. Yang diberi nama “Sekolah Kartini”. Sayangnya, saat melahirkan anak yang pertama, Kartini meninggal dunia. Sepeninggal Kartini, seorang teman yang berasal dari Belanda mengumpulkan tulisan-tulisan Kartini, disatukan menjadi sebuah buku yang diberi Judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. 
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, sosok Kartini dan pemikiran-pemikirannya menginspirasi banyak perempuan di Indonesia. Bahwa perempuan tidak kalah dari laki-laki. Perempuan mempunyai kedudukan yang sejajar dengan laki-laki.
Penulis Alkitab Perjanjian Baru, khususnya Injil dan lebih khusus lagi, peristiwa seputar kebangkitan dan penampakan Yesus juga menempatkan sosok perempuan sebagai aktor utama. Tidak lagi para lelaki, tetapi para perempuan. Saat Yesus masih hidup dan berkarya di tengah-tengah dunia, aktor utamanya memang para murid laki-laki. Akan tetapi saat peristiwa salib, kematian, kebangkitan, penampakan dan kenaikan Yesus ke sorga, sosok perempuan lah yang acapkali disebut-sebut oleh ke empat Injil.
Termasuk  di dua bacaan kita pagi ini, sosok perempuan yang bernama Maria Magdalena menjadi aktor utamanya. Markus 16:9, mengingatkan kita semua tentang siapa sosok Maria Magdalena sebelum menjadi murid Yesus. Ia adalah seorang perempuan yang pernah dirasuki tujuh setan. Setelah Yesus menyembuhkannya, Maria menjadi pelayan Yesus yang sangat setia. Lukas 8:1-3 mencatat bahwa Maria dan perempuan lainnya  menggunakan seluruh kekayaan mereka untuk melayani Yesus beserta rombongannya.
Kesetiaan Maria Magdalena kepada Yesus tidak hanya dilakukannya saat sang guru masih berkarya, masih gagah perkasa. Melainkan saat sang guru tanpa daya di paku di atas kayu salib, Maria tetap setia berada di dekat salib Yesus, sementara murid-murid Yesus laki-laki kocar-kacir entah kemana (Lih. Yohanes 19:25).  Bahkan kesetiaan Maria Magdalena tetap kukuh meski sang guru telah tiada. Semua Injil mencatat, pagi-pagi buta Maria Magdalena bersama para perempuan yang lain datang ke kubur Yesus. Tidak dengan tangan kosong melainkan semalam-malaman mereka begadang dan menyiapkan rempah-rempah serta minyak untuk mengurapi mayat Yesus. Jelas, Maria Magdalena dan para perempuan lainnya memiliki kesetiaan yang dahsyat, jauh dibandingkan para murid Yesus yang adalah para lelaki.
Selain kesetiaan, Maria Magdalena memiliki keberanian yang luar biasa sebagai seorang perempuan. Biasanya, sosok perempuan di cap “penakut”. Takut gelap, takut sepi, takut di rumah sendirian, takut jalan sendiri, dsbnya. Tetapi dari kisah yang kita baca bersama, Maria adalah sosok perempuan pemberani. Yohanes 20:10, ayat sebelumnya mencatat, “lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah”. Lalu ayat 11 katakan, “Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur”. Murid-murid yang lain telah pergi tetapi Maria justru tinggal bahkan masuk ke dalam kubur itu, seorang diri. Betapa beraninya Maria.
Bahkan di dalam kubur itu, ia berjumpa dengan dua sosok orang yang tidak dikenal. Maria tentu sadar, dua orang itu bukanlah murid-murid Yesus yang lain. Mereka berpakaian putih dan anehnya lagi mereka duduk di tempat mayat Yesus dibaringkan. Mari kita bayangkan, seandainya kita ada di posisi Maria, apa yang kita perbuat? Pasti kita akan teriak dan lari. Apalagi, ada sosok lain yang tiba-tiba hadir di sana.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, bukan tanpa alasan Tuhan Yesus Kristus memilih Maria Magdalena menjadi saksi pertama kebangkitan dan penampakan-Nya. Maria Magdalena adalah sosok perempuan yang punya kesetiaan dan keberanian melebihi murid-murid Yesus yang lain. Kesempatan berharga melihat rupa Yesus yang bangkit dari dekat diberikan kepada Maria karena ia sosok perempuan yang luar biasa. Tuhan Yesus mempercayai dan mengutus Maria Magdalena karena memang ia layak dipercaya dan tepat menjadi utusan.
Ada di antara kita yang mungkin bertanya, kenapa pada saat itu harus perempuan yang menjadi saksi kebangkitan Yesus? Bukankah, kesaksian para perempuan pada masa itu tidak dipercaya? Seandainya, Petrus, Yohanes dan Yakobuslah yang dipakai Yesus menjadi saksi kebangkitan-Nya pasti ceritanya lain. Kisah kebangkitan Yesus pasti lebih cepat menyebar karena Petrus, Yohanes dan Yakobus lebih dipercaya dibanding para perempuan. Apakah benar demikian? Seandainya bukan perempuan yang dipakai Yesus menjadi saksi, melainkan laki-laki, apakah berita kebangkitan Yesus dapat didengar oleh murid-murid yang lain? Belum tentu! Pilihan Tuhan tidak pernah salah. Dan Tuhan memilih, bukan tanpa alasan. Tuhan melihat kesetiaan dan keberaniaan Maria Magdalena dan para perempuan lainnya, tidak dimiliki murid-murid Yesus laki-laki.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, melalui teladan Kartini dan Maria Magdalena, kita semua diingatkan, tidak hanya para perempuan melainkan juga para lelaki, bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang solider, yang berbela rasa, terhadap kaum perempuan. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Semuanya sama di hadapan Tuhan.
Kalau Kartini menjadi inspirasi kebangkitan para perempuan di Indonesia untuk berkarya di tengah kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Biarlah Maria Magdalena pun menjadi inspirasi para perempuan untuk mau dipakai Tuhan menjadi alat-menjadi utusan-menjadi para pelayannya. Para perempuan yang penuh semangat, kesetiaan dan keberaniaan dalam segala situasi. Suka maupun duka. Pahit ataupun manis. Dapat dipercaya dan diutus Tuhan menjadi saksi kemuliaan Tuhan di tengah-tengah dunia.
Buktinya sudah ada, bazar penggalangan dana Wilayah Utara yang dikoordinir oleh ibu-ibu hasilnya luar biasa melimpah. Meski awalnya ada banyak keragu-raguan, gimana nanti kalau hujan, kalau yang beli sedikit, tetapi karena semangat, kesetiaan, keberaniaan dan terlebih karena pertolongan Tuhan, ibu-ibu dipercaya dan dipakai Tuhan hingga hasilnya luar biasa. Meski dari pagi hingga malam belum mandi. Tetap ada senyum sumringah.
Khusus bagi para lelaki, sosok Kartini dan juga Maria Magdalena kiranya boleh semakin menyadarkan kita bahwa Allah pun mengasihi, mempercayai dan mengutus para perempuan. Kita para lelaki harusnya bisa semakin solider, semakin mengasihi, mempercayai, menjadikan perempuan sebagai kawan sekerja-partner dalam segala aspek kehidupan kita. Baik dalam relasi suami-isteri, tempatkanlah isteri anda sebagai partner, sahabat, kawan sekerja, bahkan penolong. Dalam relasi antara orang tua dan anak, jangan lagi membeda-bedakan kasih sayang antara anak perempuan dan laki-laki. Dalam kehidupan bermasyarakat jangan ada yang berpendapat bahwa perempuan belum layak menjadi pemimpin. Dalam kehidupan bergereja, jangan ada pandangan bahwa perempuan belum layak menjadi majelis, penatua atau diaken.
Sekali lagi, Tuhan melihat kesetiaan dan keberanian Maria Magdalena, sehingga Tuhan percaya dan mengutus-Nya. Mari para perempuan milikilah kesetian dan keberanian agar dipercaya dan diutus Tuhan. Tuhan Yesus Memberkati, Amin. 


Kotbah Minggu, 24 Maret 2013
SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA?
1 Raja-Raja 17:7-15 & Lukas 10:25-37

“Siapakah sesamaku manusia?” Saya memberi waktu 1 menit kepada bapak, ibu dan saudara sekalian untuk mengucapkan kalimat pertanyaan ini dalam hati panjenengan masing-masing. Sudah? Sekarang saya meminta Pak/Bu/Mas/Mbk................., mengucapkan kalimat tadi dengan bersuara, kemudian menjawabnya, sesuai dengan apa yang ada dipikiran panjenengan. Harus menjawab langsung dengan spontan, tidak boleh ada jeda.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, menurut catatan di beberapa kamus bahasa Indonesia kata “sesama” mengandung arti sama, kembar, pas, patut, sebanding, sesuai. Dari arti kata sesama tersebut, muncul kesan bahwa yang disebut sesama adalah mereka yang sama, kembar, pas, sebanding, sesuai. Kalau disebut sesama manusia itu berarti manusia-manusia yang sama, manusia-manusia yang sebanding, manusia-manusia yang sesuai, manusia-manusia yang pas. Sebaliknya bukanlah manusia-manusia yang berbeda, manusia-manusia yang saling bertolak belakang.
Kalau kita perdalam lagi, dari arti kata sesama yang kita ketahui tadi, kita akan dengan mudah memberi contoh, o..berarti yang dimaksud sesama manusia adalah orang-orang yang sama agamanya, orang-orang yang sama suku bangsanya, orang-orang yang sama status sosialnya, yang sama hobinya, yang sama pekerjaannya, yang sama pendidikannya, yang sama gerejanya, yang sama jenis kelaminnya. Berarti mereka yang berbeda agama bukan sesama kita, mereka yang berbeda suku bangsa bukan sesama kita, mereka yang berbeda status sosial bukan sesama kita, mereka yang berbeda jenis kelamin bukan sesama kita, mereka yang berbeda gereja bukan sesama kita.
Kasian sekali keluarga-keluarga yang orang tuanya bergereja di GKJ sementara anak-anaknya di gereja lain. Berarti orang tua harus berkata, “hai anakku, karena gerejamu bukan GKJ, kamu bukan sesamaku!”. Lebih kasian lagi panjenengan yang sudah menikah. Sang suami bisa dengan lantang berkata kepada isterinya, “karena kamu perempuan dan aku laki-laki berarti kamu bukan sesamaku!” Tidak kalah berani, isteri juga menyahut, “siapa yang mau jadi sesamamu!, GR!”
Bisa kita bayangkan apa jadinya dunia ini jika semua orang berkata, “sesamaku manusia hanyalah orang-orang yang sama denganku!”. Dunia akan kacau balau. Tidak ada kedamaian, tidak ada ketenteraman. Yang ada hanyalah perselisihan, pertengkaran, percekcokan. Negara yang satu menyerang negara yang lain. Suku bangsa yang satu menjajah suku bangsa yang lain. Agama yang satu meniadakan agama yang lain. Gereja yang satu menghina gereja yang lain.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, terlepas dari arti kata “sesama” di dalam kamus bahasa Indonesia, pagi ini melalui kisah orang Samaria yang murah hati kita akan belajar bersama tentang pertanyaan “siapakah sesamaku manusia” menurut Tuhan Yesus. Sebuah pertanyaan yang datang dari seorang Ahli Taurat yang ingin menjebak Yesus.          
Kisah orang Samaria yang murah hati adalah sebuah kisah yang sangat mengharu-biru. Kisahnya sangat dramatis, ibarat kalau di sinetronkan ratingnya pasti akan tinggi. Alkisah ada seorang yang tengah menempuh perjalanan dari Yerusalem menuju Yerikho, ia dirampok, seluruh harta bendanya habis ludes tak bersisa, ditambah ia dipukuli hingga mau mati. Selang beberapa waktu, lewatlah seorang imam. Kita semua tahu imam adalah golongan pemuka agama Yahudi. Seluruh waktunya dipakai beribadah, berdoa dan membaca kitab-kitab Taurat. Dengan tegas dikatakan, “imam itu melihat orang itu”. Tapi sayang hanya sekadar melihat lalu ia melewatinya.
Juga lewat di jalan itu seorang Lewi, mereka ini adalah salah satu suku Israel yang dikhususkan untuk menjadi seorang imam, bisa dikatakan seorang Lewi adalah calon imam. Mereka dikenal juga sebagai orang-orang yang taat beragama. Tidak ada bedanya dengan sang imam, ia melewati orang itu.
Kemudian datanglah seorang Samaria. Di kalangan orang Yahudi orang-orang Samaria adalah kelompok masyarakat kelas dua. Karena mereka bukan keturunan orang Yahudi asli. Campuran orang Yahudi dan non Yahudi. Kalau dalam bahasa sekarang mereka bukan genuine tetapi kw. Selain itu, ibadah orang Samaria dianggap salah/sesat oleh orang-orang Yahudi. Sebaliknya orang-orang Samaria pun memiliki cara pandang yang negatif terhadap orang-orang Yahudi. Mereka mengklaim diri sebagai bagian dari bangsa Israel asli. Selain itu mereka menganggap bahwa orang-orang Yahudi justru sudah tercemar hidup keagamaannya. Sejak zaman imam Eli.
Terlepas dari segala perseteruan yang sudah mengakar kuat antara orang Yahudi dan orang Samaria, melihat ada orang tergeletak hampir mati di tengah jalan orang Samaria itu tergerak hatinya oleh rasa belas kasihan. Di ayat 34-35 dikatakan, ia menghampiri orang yang terluka itu, dibalut luka-lukanya, disiramnya dengan minyak dan anggur, bukan untuk dibakar tetapi supaya lukanya tidak mengalami infeksi. Ia menaikkan orang itu ke atas keledainya lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
Sedikit kita berimajinasi, orang Samaria ini benar-benar merawat, menemani orang itu semalam-malaman. Mungkin harus begadang, tidak tidur. Hingga keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, sambil berkata: “rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini aku akan menggantinya waktu aku kembali”.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, saya coba menghitung-hitung, ternyata saya menemukan ada sembilan kata kerja aktif dalam ayat 34-35 untuk memperlihatkan tindakan kongkrit orang Samaria itu. Mendatangi, membalut luka, menyiram dengan minyak, menyiram dengan anggur, menaikkan ke atas keledai, membawa, merawat, membayar dan berpesan. Sebuah tindakan yang lengkap, sempurna, kalau istilah bahasa pastoral itu disebut pendampingan yang holistik, menyeluruh, totalitas. Tentu bukan hal yang mudah.
 Sebenarnya hanya berpikir untuk berhenti, menengok keadaaan orang yang tergeletak di tengah jalan saja bukan hal yang mudah, penuh resiko. Jalan dari Yerusalem ke Yeriko kurang lebih sepanjang 27 kilometer, jalan itu tidak seperti jalan-jalan di Bekasi yang ramai bahkan macet. Melainkan jalan yang sepi, gelap dan sangat rawan. Bisa saja orang Samaria ganti dirampok bahkan dibunuh.
Mungkin pernah ada di antara kita diperhadapkan pada situasi dan kondisi yang mirip seperti orang Samaria. Ada orang kecelakaan di pinggir jalan, belum ada yang menolong. Kita mau menolong, tapi maju mundur, gimana nanti kalau terlambat kerja, gimana nanti kalau justru dituduh yang nabrak, gimana nanti kalau harus bawa ke rumah sakit, gimana nanti kalau harus berurusan dengan pihak yang berwajib, gimana nanti dan gimana nanti. Akhirnya kita lebih memilih untuk tidak menolong. Ini baru mau menolong. Sudah berpikir sangat panjang. Apalagi harus menolong, merawat mendampingi hingga tuntas. Bukan hal yang mudah. Tetapi semua itu dilakukan oleh orang Samaria.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, di ayat 36, Yesus bertanya kepada ahli Taurat yang bermaksud menjebaknya, “siapakah di antara ketiga orang ini menurut pendapatmu adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Lalu orang itu menjawab, “orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya”. Kata Yesus kepadanya, “pergilah dan perbuatlah demikian”.
Di akhir kisah ini, jelas sekali bahwa Yesus katakan bahwa yang menjadi sesamamu bukan hanya mereka yang sama denganmu, bukan hanya mereka yang sesuku, sebangsa, segolongan denganmu, tetapi mereka yang “tergerak hatinya oleh belas kasihan dan yang menunjukkan belas kasihan”. Yang menjadi sesama adalah orang yang mau memberi tempat di dalam hatinya untuk orang lain. Tidak dibatasi dia Yahudi atau dia Samaria. Dia imam, orang Lewi atau rakyat biasa.
Orang Samaria itu telah berperan sebagai sesama manusia bagi orang Yahudi yang hampir mati di tengah jalan. Bagi orang Samaria, sesama manusia adalah orang yang membutuhkan pertolongannya, tidak peduli apa bangsanya, apa agamanya. Dan ini sebenarnya jiwa solidaritas Kristus tentang sesama manusia. Kristus mau melayani sesama manusia melampaui sekat-sekat, batasan-batasan suku bangsa, agama, budaya, status sosial, pekerjaan, pendidikan, gereja, keluarga, dsbnya. Yang Ia tahu bahwa Ia hadir, menawarkan kelegaan kepada siapapun juga yang letih, lesu dan berbeban berat. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28).
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, jiwa solidaritas Kristus juga ditunjukkan ibu janda Sarfat (1 Raja-Raja 17:7-15). Dalam keterbatasannya, ia tetap mau menerima dan membagi minuman dan makanannya kepada Elia. Orang asing yang tidak ia kenal sama sekali. Awalnya Elia hanya meminta minum, tetapi ternyata ia juga meminta roti. Ibarat unen-unen jawa, “diwenehi ati ngrogoh rempelo”. Bisa saja ibu janda Sarfat kesal dan marah dengan sikap Elia. Akan tetapi ia tidak melakukannya. Ibu janda Sarfat justru membuatkan roti untuk Elia meski itu adalah cadangan makanan terakhir untuk dia dan anaknya. Kisah berakhir happy ending, Allah mencukupkan tepung dan minyak ibu janda sarfat itu.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, untuk mengakhiri kotbah ini, mari kita kembali melihat kisah orang Samaria yang baik hati. Ada berapa peran dalam cerita tersebut. Pertama, orang yang jadi korban perampokan. Kedua, imam. Ketiga, orang Lewi. Keempat, orang Samaria. Sudah? Hanya empat? Tidak ada yang lain?. Saya menemukan ada 6. Yang kelima adalah pemilik penginapan. Tidak disebutkan pemilik penginapan itu orang Samaria atau orang Yahudi. Bayangkan seandainya pemilik penginapan orang Yahudi, ia pasti berkata, “engkau orang Samaria, pasti orang yang kamu bawa ini juga orang sebangsamu, aku tidak mau menerimanya, kalian bukan sesamaku!”.
Yang Keenam adalah keledai. Mari kita berimajinasi, seandainya keledai bisa berkata, mungkin ia akan berkata, “kalian manusia dan aku keledai, kalian bukan sesamaku”. Jika keledai ngambek, kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada orang yang hampir mati tadi? Mungkin benar-benar akan mati. Tapi seandainya, keledai itu berkata kepada saya, saya akan menjawab: “hai keledai, jangan lupa, kita sama-sama ciptaan Tuhan!” Selamat Merenungkan Firman-Nya. Tuhan Yesus Memberkati.                        



Kotbah Minggu, 21 Oktober 2012
Menjadi Juru Damai Di Tengah Keluarga
Mazmur 72:1-6 & Matius 5:9

Mazmur 72 adalah semacam doa yang berisi pesan-pesan moral sekaligus harapan kepada seorang raja yang baru dilantik. Doa-doa tersebut biasanya dibacakan di tengah upacara pelantikan seorang raja. Dan disebutkan bahwa Raja Salomo lah yang menulis doa-doa tersebut. Pertanyaannya adalah apa tujuan Salomo menulis doa-doa tersebut?
Saya menemukan ada dua hal, mengapa Salomo menuliskan doa-doa yang berisi tentang harapan kepada raja baru. Pertama, jelas, Salomo ingin supaya raja yang baru benar-benar mau dan mampu menjadi raja yang adil dan bijaksana. Mengasihi orang-orang yang tertindas. Menolong orang-orang miskin. Mengusahakan damai sejahtera bagi rakyatnya. Menegakkan nilai-nilai kebenaran. Dan itu dilakukan oleh raja baru, tidak hanya sementara, atau pas di awal-awal ia memerintah, tidak hanya sekedar hangat-hangat tai ayam melainkan seterusnya, selama-lamanya. Pengalaman Salomo sebagai raja, membuatnya ingin berbagi pesan kepada raja yang baru. Agar kelak siapapun yang menjadi raja, akan mengemban tanggung jawab tersebut dengan penuh pengabdian.
Kedua, Salomo berbagi pengalaman hidup sebagai raja sekaligus anak raja. Kita tahu betul Salomo pernah menjadi putera mahkota, anak Raja Daud. Ia pernah merasakan suka-dukanya menjadi putera raja, pewaris takhta kerajaan Daud. Salomo tentu pernah merasakan didikan yang berat, ala-anak raja, pembatasan-pembatasan dalam bergaul dan kemungkinan besar itu akhirnya menimbulkan gesekan-gesekan relasi antara Salomo dan sang ayah, Daud. Besar kemungkinan, Salomo juga menghadapi tekanan, gangguan dari anak-anak Daud yang lain. Jelas karena persoalan takhta kerajaan yang akan diwariskan kepada Salomo.
Sementara di lain waktu & situasi, Salomo berperan sebagai raja. Raja yang memiliki banyak isteri dan anak. Ketika kita melihat akhir kisah keluarga Salomo, sungguh menyedihkan, relasi antara orang tua dan anak, juga antara saudara sekandung sangat buruk. Bahkan anak-anak Salomo saling membunuh satu dengan yang lain. Karena saling berebut kekuasaan. Dan akhirnya membuat kerajaan Israel menjadi pecah. Beranjak dari pengalaman hidupnya inilah, Salomo ingin membaginya kepada raja-raja yang baru. 
Mazmur 72:1 katakan “Ya Allah, berikanlah hukumMu kepada raja dan keadilanMu kepada putera raja”. Di ayat ini, Salomo memohon kepada Allah tidak hanya untuk raja yang baru tetapi juga untuk putera raja. Sebab, melalui pengalaman hidupnya, Salomo benar-benar belajar bahwa suasana di dalam keluarga sangat mempengaruhi kinerja seorang raja. Jika kondisi di tengah keluarga ada kedamaian, ada cinta kasih antara orang tua anak, maka raja tersebut dapat memerintah dengan baik. Sebaliknya jika relasi antara raja dan putera mahkota “tidak berjalan dengan baik”, misalnya sang putera mahkota berniat jahat menggulingkan tahkta kerajaan sang ayah, atau ketika antar putera raja saling berebut kekuasaan, maka dapat dipastikan kepemimpinan sang raja akan terganggu. Dan jelas yang menjadi korban adalah rakyat kecil. Salomo paham betul pengalaman di keluarganya yang penuh dengan intrik, seharusnya tidak boleh terjadi lagi, di keluarga-keluarga raja yang baru.
Salomo berharap sungguh ada kedamaian, cinta kasih di tengah keluarga kerajaan. Karena keluarga kerajaan menjadi sorotan sekaligus contoh keluarga-keluarga yang lain. Bayangkan, apa yang terjadi jika keluarga kerajaan yang menjadi contoh justru berantakan, bagaiman dengan keluarga-keluarga rakyat biasa.
Bapak, ibu dan saudaraku terkasih dalam Tuhan, pesan moral dan harapan yang disampaikan Salomo kepada raja yang baru kala itu, masih sangat relevan, pas bagi kita semua, di masa sekarang ini. Salomo berpesan kepada “raja baru” agar ia mau dan mampu mengusahakan “damai sejahtera” tidak hanya sementara waktu melainkan selamanya, dan damai itu tidak hanya di tengah kerajaan tetapi diawali dari kehidupan keluarga sang raja baru.
Menjadi Juru damai di tengah keluarga. Gampang-gampang susah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “juru” memiliki arti orang yang pandai di suatu pekerjaan, yang memerlukan latihan, kecakapan dan kecermatan (keterampilan). “Juru damai” berarti orang yang pandai, cakap, terampil mencipta-mengusahakan perdamaian, dan kepandaian, kecakapannya itu melalui proses berlatih.
Dikaitkan dengan menjadi juru damai di tengah keluarga, yang pertama, tidak ada perintah yang menyebutkan bahwa yang harus menjadi juru damai dalam keluarga adalah orang tua atau anak, melainkan setiap anggota keluarga diutus menjadi juru damai, mengusahakan damai di tengah keluarga. Ayah tidak boleh merasa gengsi, jaim, merasa harga dirinya jatuh ketika harus meminta maaf kepada isteri atau bahkan anak. Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada isteri dan anak. Demikian halnya dengan sang isteri kepada suami dan anak kepada ayah.
Kedua, untuk bisa menjadi juru damai di tengah keluarga memang memerlukan proses berlatih yang tidak mudah. Tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Harus berani mencoba.
Ketiga, istilah yang seringkali kita pakai untuk menyebut kata “damai” adalah syalom. Dan kata “syalom” sendiri memilik makna yang sangat luas. Jangan sampai dipahami hanya sekadar kata sapaan, “syalom!” Syalom berarti keutuhan (tidak terpecah-pecah). Ada kesatuan & persatuan. Syalom berarti kerukunan/keharmonisan. Tidak saling bertengkar, tidak saling berselisih. Syalom berarti, kecukupan berkat/rezeki. Cukup sandang, pangan, papan, dan lain-lainnya. Syalom berarti, terhindar dari kecelakaan alias selamat.
. Yang jadi pertanyaannya adalah sudah adakah syalom di tengah keluarga bapak, ibu dan saudara? Kalau ada suami dan isteri tidak mau bertegur sapa, berangkat ke gereja sendiri-sendiri. Istilah jawanya, “neng-nengan—meneng-menengan” berarti di kelurga tersebut belum ada syalom! Karena belum ada kerukunan!
Kalau saat ini, ada keluarga-keluarga yang sudah sekian bulan, sekian tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun tidak berhubungan lagi dengan keluarga besar di kampung halaman, akibat persoalan yang tak kunjung selesai, saling membenci dan mendendam, itu berarti di keluarga panjenengan belum ada syalom.
Kalau ada keluarga-keluarga, yang merasa tidak pernah puas, tidak pernah cukup akan berkat-berkat dari Tuhan yang sudah panjenengan terima, merasa kurang dan kurang, tidak pernah bisa bersyukur atas laki-laki yang menjadi suami, atau perempuan yang menjadi isteri panjenengan. Juga sebagai anak, saudara selalu menuntut dan menuntut, tidak pernah melihat kebaikan orang tua. Berarti di tengah keluarga panjenengan belum ada syalom, belum ada kecukupan, berkat, belum ada keselamatan.
Saat ini merupakan Minggu-Minggu di Bulan Keluarga, kita diingatkan untuk selalu belajar dan berusaha menjadi juru damai di tengah keluarga kita. Mengusahakan kerukunan dan kesatuan dalam keluarga. Dan selalu bersyukur atas berkat, rezeki, kesehatan yang diberikan Tuhan bagi bapak, ibu dan saudara.
Di akhir kotbah ini, saya mau mengajak bapak, ibu dan saudara semua untuk menyaksikan tayangan singkat, tentang kasih sejati seorang ayah kepada anak laki-lakinya. Meski sang anak, begitu “menyakiti” hati sang ayah, akan tetapi kasih sejati sang ayah tetap ditunjukkannya kepada sang anak. Mari kita saksikan bersama.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih, kalau saat ini, panjenengan hadir di gereja ini bersama dengan keluarga panjenengan, jabatlah tangannya, berikan peluk dan cium, kemudian katakan, “aku mengasihimu, kamu berarti bagiku”. Tuhan Yesus Memberkati, Amin.
            

GKJ Kanaan, 21 Oktober 2012
MENJINAKKAN KEINGINAN MENUMBUHKAN KEJUJURAN
Markus 10:35-45

“Ada gula ada semut” peribahasa ini cocok untuk menggambarkan relasi para murid dengan sang guru Yesus Kristus pada waktu itu. Yesus ibarat gula manis yang dikejar-kejar, dikerubutin oleh semut-semut yaitu para murid.
Karena memang saat itu Yesus sosok yang tenar, yang punya kuasa dan ber-kharisma bahkan yang luar biasa Yesus menyampaikan pengajaran yang berbeda dari guru-guru lainnya, Ia memberitakan tentang kerajaan Allah. Meski yang dimaksud Yesus tentang kerajaan Allah berbeda dengan apa yang dipahami para murid waktu itu. Sebab para murid berpikir bahwa Yesus adalah sosok Mesias, raja baru yang akan memulihkan kerajaan Israel yang telah hancur. Harapan-harapan tersebut sungguh dirasakan oleh banyak orang. Mereka terkagum-kagum akan kehidupan Yesus. Banyak orang ingin dekat dengan Yesus. Banyak orang ingin menjadi pengikut Yesus. Namun tidak semua mendapat “kesempatan” berharga seperti para murid Yesus, di antaranya Yakobus dan Yohanes.
Seperti kebanyakan orang, Yakobus dan Yohanes ternyata punya keinginan tersembunyi menjadi murid Yesus. Di ayat 35-37 jelas, tanpa tedeng aling-aling Yakobus dan Yohanes meminta kepada sang guru, Yesus, yang kemungkinan juga masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan mereka, “Guru kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami. Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaanMu kelak, yang seorang lagi di sebelah kananMu dan yang seorang lagi di sebelah kiriMu“. Dengan kata lain, mereka ingin menjadi orang kepercayaan Yesus. Orang kedua dan ketiga setelah Yesus. Kalau saat ini, ibarat jadi wakil presiden dan menteri di pemerintahan Yesus.
Kalau kita cermati dengan baik, permintaan Yakobus dan Yohanes sebenarnya mengandung ketidakjujuran, ketidaktulusan, ketidakmurnian motivasi dalam mengikut Yesus. Ibarat peribahasa katakan, ada udang dibalik batu. Yakobus dan Yohanes menjadi murid Yesus dengan tujuan “mendapatkan kekuasaan” di “kerajaan Yesus” versi mereka.
Menyikapi permintaan Yakobus dan Yohanes, sikap Yesus sangat bijak! Dengan terbuka Ia menjelaskan duduk persoalannya kepada para murid. Yesus tahu betul para murid tidak jujur bahkan mereka memiliki motifasi lain dalam mengikutNya. Meski tahu semua itu, Yesus tidak buru-buru marah tetapi ia justru menjelaskan dengan sabar kepada para murid. Yesus menunjukkan kesalahan para murid dan mencoba menjelaskan “kebenaran” yang sesungguhnya kepada para murid. Yesus dengan sangat bijak mencoba mengurai dan menjelaskan secara terbuka kepada Yakobus dan Yohanes.
Di ayat 38 Yesus berkata, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta!” Ada 3 hal yang tidak dimengerti Yakobus dan Yohanes tentang permintaan mereka. Pertama, persoalan tentang “meminum cawan dan menerima baptisan”, disini Yesus mencoba menjelaskan kepada Yakobus dan Yohanes bahwa cawan itu bicara tentang penderitaan Yesus di kayu salib sementara baptisan yang diterima Yesus berkata tentang tugas panggilan Yesus sebagai Anak Allah, ia diutus langsung dari Allah. Para murid akan meminum cawan dan menerima baptisan, artinya akan ikut memikul salib, menderita dan akan dibaptis tetapi tidak akan pernah sama seperti yang dialami/ diterima Yesus.
Kedua, Yesus bicara tentang siapa yang layak duduk di sebelah kanan dan kiriNya,  yaitu diberikan kepada orang-orang yang layak menerimanya, tidak seperti yang dipikirkan para murid, dengan mudahnya mereka meminta kepada Yesus, memakai aji mumpung, sebagai murid dan kerabat dekat Yesus.
Ketiga, pemerintahan yang dimaksud Yesus berbeda dengan pemerintahan di dunia. Sekali lagi Yesus tidak bicara tentang kerajaan Israel di dunia, melainkan bicara tentang pemerintahan Allah kelak. Suasana pemerintahan Yesus juga sangat berbeda dari pemerintahan dunia. Para penguasa di dunia memerintah dengan tangan besi dan kekerasan sementara Yesus datang bukan megharap untuk dilayani melainkan untuk melayani. Bahkan Yesus rela berkorban menjadi tebusan bagi banyak orang.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, kisah Yesus bersama dengan murid-muridnya, secara langsung memang tidak berbicara tentang potret sebuah keluarga inti seperti yang selama ini kita pikirkan (ayah, ibu, anak, kakek-nenek). Tetapi ketika kita mencoba melihat secara mendalam, sosok Yesus di kalangan para murid, tidak hanya berperan sebagai guru rohani, melainkan berperan juga sebagai orang tua. Relasi Yesus dengan para murid seperti orang tua dan anak. Yesus ayah sekaligus ibu bagi murid-muridnya. Yesus membangun relasi kekeluargaan dengan murid-muridnya.
Lihatlah, bagaimana Yesus sangat bijak dan begitu sabar menjawab permintaan Yakobus dan Yohanes. Bisa saja Yesus langsung marah besar, apalagi Dia pemimpin, guru yang punya kuasa atas murid-muridnya. Namun, Yesus tidak buru-buru marah. Ia penuh pengertian, mencoba menjelaskan duduk permasalahannya. Ia tahu para murid salah, namun ia tidak buru-buru marah, tetapi juga tidak mendiamkannya saja. Yesus menegur dengan memberi penjelasan. Bukan hanya teguran atau kemarahan semata, tetapi marah dengan tujuan yang jelas dan benar. Marah demi kebaikan para murid.    
Tema Minggu ini mengingatkan, “Jinakkanlah Keinginan dan Tumbuhkanlah Kejujuran”. Dalam konteks kehidupan keluarga, kerapkali “keinginan” dan “ketidakjujuran” menjadi permasalahan rumit yang harus diatasi oleh setiap anggota keluarga. Khususnya keinginan untuk dihargai/dihormati berdasarkan statusnya di dalam keluarga. Dan juga ketidakterbukaan, komunikasi yang terhambat antar anggota keluarga.
Misalnya, seorang ayah, terkadang statusnya dalam keluarga, membuatnya ingin menjadi orang yang paling dihormati dalam keluarga. Tentu dalam hal ini ingin dihormati oleh isteri dan anak-anaknya. Dan ketika faktanya, ia tidak mendapatkan penghormatan dari anak-anak/ isterinya, ia menjadi seorang ayah yang pemarah, suka main tangan, main pukul, dengan tujuan agar anak-anak dan isterinya takut dan menghormati statusnya sebagai seorang ayah.
Seorang isteri terlalu banyak menuntut kepada suami, karena merasa bahwa posisinya sebagai seorang isteri yang memang wajib mendapatkan nafkah yang cukup bahkan lebih dari sang suami. Dan seandainya, tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan, akhirnya timbul tuntutan, hinaan, sikap marah, dari sang isteri kepada suami. Akhirnya, lama kelamaan suami merasa tertekan dengan segala tuntutan sang isteri, kemudian melakukan segala cara, termasuk cara-cara yang melanggar hukum, yang penting bisa memnuhi kebutuhan sang isteri.
Seorang anak ingin mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya, akan tetapi ketika fakta berkata lain, orang tua sibuk dengan urusannya masing-masing, ayah selalu berangkat pagi dan pulang tengah malam, sang ibu sibuk dengan komunitas arisannya. Sang anak akhirnya memilih untuk hidup sesuka hatinya. Menikmati dunia pergaulan yang buruk.
Dan celakanya, ketika masing-masing anggota keluarga menyimpan “luka hati, menyimpan kemarahan” terhadap anggota keluarga yang lain. Tidak ada keterbukaan, semuanya dipendam, komunikasi terhambat. Masing-masing tidak mau jujur akan apa yang dirasakan, bahkan menutup diri terhadap yang lain. Luka-luka hati tersebut semakin lama akan semakin bertumpuk-tumpuk. Ibarat balon yang terus-menerus ditiup. Suatu ketika akan meledak. Begitu pun dengan relasi antar anggota keluarga.
Seandainya setiap keluarga mau memandang dan belajar dari Yesus, bagaimana ia membangun relasi kekeluargaan dengan para murid. Yesus memang tidak menikah, ia tidak memiliki pendamping hidup, apalagi memiliki anak, akan tetapi cara dan sikap Yesus mengasihi para murid adalah sikap seorang ayah sekaligus ibu terhadap anak-anaknya. Seandainya setiap orang tua, mau belajar lebih sabar, tidak mudah marah, tidak mudah emosi, tidak gengsi, mau merendahkan diri kepada anak-anaknya, meminta maaf ketika ia salah terhadap anak, memberi apresiasi (pujian) kepada anak, tetapi juga jujur mau terbuka kepada anak, menegur dan mengingatkan anak ketika mereka salah. Tidak memendam masalah berlarut-larut sebaliknya cepat-cepat dibicarakan sekaligus diselesaikan.
 Yang terakhir dari teladan hidup Yesus, Ia tidak hanya sekedar guru, tidak hanya sekedar orang tua, melainkan Mesias--- anak Allah, tetapi Ia dengan tegas berkata, “Anak manusia datang ke dunia bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani bahkan mau berkorban menjadi tebusan bagi banyak orang”. Seandainya setiap anggota keluarga, memakai pola pikir dan teladan hidup Yesus ini, segala keangkuhan, gengsi kaitannya dengan status dalam keluarga, akan bisa dihilangkan.
Menjadi anggota keluarga yang tidak hanya mau dilayani, melainkan mau melayani. Ayah tidak perlu merasa kewibawaannya jatuh karena harus meminta maaf kepada isteri dan anak-anak. Ayah tidak perlu merasa harga dirinya jatuh kalau harus mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan kalau harus belajar dari anak. Isteri tidak selalu menuntut macam-macam, tapi mencoba mengerti kondisi pekerjaan sang suami. Dan para anak tidak selalu minta diperhatikan, tetapi belajar melayani dan membantu ayah-ibu. Tidak hanya ingin dikasih kado pas ulang tahun, tetapi belajar memberi kado, surprise untuk orang tua pada saat mereka ulang tahun.
Mari setiap kita, sebagai anggota keluarga mencoba belajar untuk melayani bahkan mau berkorban untuk anggota keluarga yang lain. Tidak perlu jaim, tidak perlu gengsi, tidak perlu melihat sebagai apa kita di dalam keluarga. Yesus mau merendahkan dirinya untuk melayani semua orang. Siapa kita? Yang begitu sombong dan merasa hebat. Masing-masing kita, di bulan keluarga ini, diutus untuk menjadi pelayan kepada setiap anggota keluarga kita. Semampu kita! Sebisa kita!
Di akhir kotbah ini, saya mengajak bapak, ibu dan saudara menyaksikan 1 video singkat tentang, “Kasih Seorang Ayah kepada sang anak, yang tanpa batas”.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan, saya mengajak bapak, ibu dan saudara yang saat ini bersama dengan anggota keluarganya, ayah, ibu dan anak untuk memberi salam, peluk dan cium, katakan, “aku mengasihimu, aku mau melayanimu”. Tuhan Yesus Memberkati, Amin.

 Minggu, 30 September 2012



Bekerjasama Menggunakan Karunia Berbeda
Yakobus 5:13-20 & Markus 9:38-50

Beranjak dari Yakobus 5:13-20, Almarhum Pdt. Eka Darmaputera dalam bukunya menuliskan bahwa pada zaman dulu, sekarang maupun yang akan datang, ada 3 karunia dasar yang diberikan Allah kepada gereja, dan itu tidak boleh hilang dari kehidupan bergereja, bahkan harus dijaga dan dikembangkan.

1.    Praying Church (Gereja yang BERDOA)
Kita sering dengar doa disebut sebagai nafas hidup orang percaya. Berarti tanpa doa orang Kristen akan mati secara rohani. Demikian juga dengan persekutuannya. Ada lagi yang berkata, “doa itu pilar sebuah gereja”. Kalau pilarnya roboh, seluruh bangunan juga akan ikut roboh. Karena doa sebagai penyangga, kekuatan rohani sebuah gereja. Betapa pentingnya peran doa dalam kehidupan bergereja.
Di sebuah bahan sarasehan beberapa tahun yang lalu, saya ingat betul, ada satu pertanyaan yang menggelitik, tertulis “kegiatan-kegiatan di GKJ Bekasi lebih banyak rapatnya atau doanya?” Sangat disayangkan, kalau jumlah kegiatan yang berkaitan dengan doa sangat minim, ditambah lagi jumlah jemaat yang hadir juga sangat sedikit, apalagi kalau di keluarga masing-masing juga belum ada persekutuan doa keluarga. Kalau kondisinya seperti itu, harus kita akui secara jujur bahwa selama ini gereja kita belum menjadi gereja yang sungguh-sungguh berdoa.
Jangan sampai tekun doanya pas ada keinginan-ada pergumulan saja. Pas ngurus surat IMB yang tidak kelar-kelar, pada waktu itu. Setelah sekarang semuanya beres, lalu mulai luntur semangatnya, mulai kendor ketekunannya. Gereja tanpa berdoa akan mati secara rohani. Gereja akan kehilangan daya, kekuatan kasihNya. Gereja tanpa kehidupan doa yang kuat akan mengalami kekeringan rohani, kebosanan, kejenuhan, kelelahan, bahkan bisa sampai mengalami dis orientasi pelayanan, dsbnya.    

2.    Singing Church (Gereja yang BERNYANYI) 
Sejak awal, di jemaat Kristen perdana, bernyanyi (memuji Tuhan) menjadi ciri khas sebuah persekutuan orang-orang percaya. Yang mau tidak mau, memang membedakan orang-orang Kristen dengan umat beragama lain. Kapanpun, dimanapun, susah senang, suka-duka, orang Kristen bernyanyi. Di pernikahan, kelahiran, ulang tahun, maupun di peristiwa kedukaan. Orang Kristen selalu bernyanyi. Meskipun akhir-akhir ini, saudara kita umat bergama lain mulai ikut bernyanyi. Kita juga tahu, bahwa nyanyian sebenarnya adalah doa. Syair-syair nyanyian rohani berisi doa-doa yang kita naikkan kepada Allah. Nyanyian ibarat olie-pelumas yang mempersatukan, mempererat, mencairkan relasi yang kaku menjadi relasi yang hangat, yang dekat di antara orang-orang percaya.
Pertanyaannya ialah kira-kira Wilayah Utara sudah layak disebut sebagai gereja yang bernyanyi? Layak, sampun! Buktinya setiap hari Minggu nyanyi, ngidung, setiap persekutuan (PD, PA) pasti nyanyi, banyak jemaat yang ikut Paduan Suara, setiap Minggu rutin ngisi, di kelompok-kelompok juga ada Vokal Grupnya masing-masing. Keroncong AGAPEnya semakin luar biasa. Iringan musik akustik dari Komisi Pemuda sudah jalan, sudah mulai ikut ambil bagian dalam Ibadah Minggu. Semuanya sudah ada. Apalagi nggih yang belum? Sudah baik. Tinggal ditingkatkan lagi kualitasnya. Juga kuantitasnya. Jumlah yang ikut Paduan Suara harus semakin banyak. Song leader sudah ada, tapi jumlahnya terbatas. Seharusnya semakin banyak warga jemaat yang tergerak untuk mau jadi song leader. Pianis/ Organis sudah ada, tetapi jumlahnya sangat terbatas. Semestinya kalau kita rindu gereja kita menjadi gereja yang terus bernyanyi, setiap kita berlomba-lomba untuk belajar alat musik keyboard, gitar supaya bisa jadi pengiring musik dalam ibadah Minggu.
3.    Healing Church (Geraja yang MENYEMBUHKAN)
Pada masa penjajahan, gereja-gereja Belanda yang masuk ke Indonesia biasanya fokus dalam bidang pelayanan “kesehatan”. Banyak yang akhirnya mendirikan rumah sakit-rumah sakit Kristen. Tetapi sayang, pada masa sekarang ini, banyak rumah sakit-rumah sakit Kristen yang tutup atau ada yang tetap buka tetapi mengalami dis orientasi, tujuan utamanya tidak lagi untuk menolong orang sakit yang tak mampu, melainkan murni bisnis. 
Yang menarik adalah di Yakobus 5:15 dikatakan “dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu, dan Tuhan akan membangunkan dia, dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya akan diampuni”. Yakobus 5:19-20, “saudara-saudara jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa”.
Gereja yang menyembuhkan di sini tidak hanya diartikan kesembuhan secara fisik (sakit secara jasmani) tetapi juga kesembuhan rohani (orang yang mengalami sakit spiritual, contohnya: warga jemaat yang mulai undur dari persekutuan, yang hidupnya mulai melenceng dari Firman Tuhan). Di sinilah gereja dituntut untuk benar-benar berfungsi sebagai penyembuh, penolong. 

Pelaku Perubahan
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan, lalu persoalan selanjutnya adalah siapa yang harus bertanggung jawab sekaligus berjuang mengembangkan 3 karunia yang diberikan Allah kepada gereja? Diberikan contoh, di Yakobus 5:14, dikatakan “kalau ada seorang di antara kamu yang sakit baiklah ia memanggil para penatua jemaat! Supaya mereka mendoakan dia!”. Kalau kita membacanya sepotong-sepotong bisa jadi kita berkata: “yang bertanggung jawab untuk mengembangkan ketiga karunia tadi adalah Penatua! Untung tidak disebutkan itu tugasnya Vikaris, Pendeta atau Diaken. Tapi itu kalau kita membaca alkitabnya sepotong-potong. Coba kita lihat di ayat 16, dikatakan: “karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh”. Lalu di ayat 17, diberi contoh yaitu Elia disebutkan “Elia adalah manusia biasa seperti kita.....”.
Ini berarti yang punya kewajiban/tugas untuk mengembangkan karunia Berdoa, Bernyanyi dan Menyembuhkan tidak hanya penatua, diaken, pendeta melainkan tugas kita bersama. Seluruh warga jemaat! Tidak terkecuali!
Meskipun demikian, yang penting untuk dimengerti bersama, baik para pemimpin gereja dan warga gereja, pertama seorang pemimpin gereja, penatua, diaken, pendeta secara kasat mata itu dipilih oleh warga jemaat, namun secara rohani (spiritual) para pemimpin gereja itu dipilih oleh Tuhan. Sehingga harusnya ini menjadikan seseorang yang dipilih menjadi penatua, diaken, pendeta harus melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Karena sekali lagi kita melayani tidak hanya untuk warga gereja melainkan yang utama kita pertanggung jawabkan kepada Allah. Perlu untuk bersama-sama menggumuli panggilan kita sebagai pelayan Tuhan. Sebagai penatua, diaken, pendeta apakah saya sudah menjalankan fungsi saya dengan baik atau belum. 
Hal yang kedua, ketika kita tahu betul bahwa para pemimpin gereja, penatua, diaken, pendeta itu tidak hanya kita yang memilih tetapi juga Allah. Itu seharusnya membuat kita, warga jemaat menghargai, menghormati, mau bekerjasama, men-suport, menolong para pemimpin gereja, penatua, diaken, pendeta. Jangan cuma mengkritik, maido. Tetapi didukung, disengkuyung sareng-sareng. Minimal ikut mendoakan pelayanan mereka. Jangan sampai karena dulu pas pilihan majelis, panjengan tidak memilih anggota majelis yang terpilih sekarang lalu panjenengan tidak mau bekerjasama. Itu keliru!
Inilah yang disebut sebagai “dialog peran” (kerjasama antar seluruh bagian dalam sebuah gereja). Antara pemimpin gereja (penatua, diaken dan pendeta) dan warga jemaat. Ada sinergi yang baik meski memiliki peran, fungsi yang berbeda-beda secara struktural. Tentu dalam kaitan untuk mewujudkan dan mengembangkan karunia-karunia dasar yang dimiliki gereja.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih, kalau bacaan yang pertama Yakobus 5:13-20 berbicara tentang sinergi/ kerjasama di dalam lingkup gereja. Bacaan kedua, Markus 9: 38-50, berbicara tentang kerjasama antara orang-orang Kristen dengan orang-orang Non Kristen.
Pada waktu itu para murid nampak terganggu bahkan mungkin marah, ketika melihat orang yang bukan pengikut Yesus ikut-ikutan mengusir setan dalam nama Yesus. Para murid “wadul”/ mengadu kepada Yesus. Tentu para murid berpandangan bahwa selain pengikut Yesus tidak ada yang boleh memiliki karunia untuk mengusir setan. Bagi para murid karunia semacam itu hanya untuk para pengikut Yesus. Akan tetapi yang mengherankan, Yesus menjawab: “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi namaku, dapat seketika itu juga mengumpat aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita!” Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya!”
Di sini Tuhan Yesus mau menyadarkan para murid bahwa di luar pengikut Kristus ada juga orang-orang yang sebenarnya menghidupi teladan-ajaran-ajaran Kristus. Dan lebih dari itu orang-orang tersebut mungkin saja memiliki karunia-karunia, talenta-talenta, kemampuan-kemampuan seperti yang dimiliki para pengikut Yesus. Dengan kata lain, Yesus mau merombak cara berpikir para murid, yang sangat ekslusif, yang berpikir bahwa karunia, kemampuan, berkat-berkat dari Allah itu hanya diberikan kepada murid Yesus. Bahkan di ayat-ayat selanjutnya Tuhan Yesus berkata dengan sangat keras kepada para murid, agar para murid tidak jatuh pada cara berpikir yang sangat menyesatkan.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan, kalau kita mau jujur, acapkali kita orang-orang Kristen masih sulit untuk terbuka baik dalam cara berpikir, cara berelasi khususnya kepada saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan dari kita. Pola pikir ekslusif, yang berpikir bahwa berkat-berkat, karunia-karunia, kemampuan-kemampuan itu hanya untuk orang Kristen saja, sementara orang berbeda keyakinan tidak mendapat berkat dari Tuhan. Bahkan akhirnya, sikap ekslusif itu mendorong kita untuk tidak mau bekerjasama bahkan bermusuhan dengan umat beragama lain. Ini sungguh disayangkan.
Bayangkan jika semua manusia di dunia ini berpikir yang sama, kita berbeda maka kita tidak bisa bekerjasama, kita berbeda berarti kita harus bermusuhan. Apa jadinya dunia ini. Tidak mustahil propaganda atas nama agama, isu-isu SARA semakin santer terdengar. Semakin banyak pendeta yang berlomba-lomba membakar Al-quran, semakin banyak orang-orang Kristen yang membuat film-film yang menghina umat Muslim. Sebaliknya semakin menggebu-gebu saudara kita umat Muslim memperjuangkan berdirinya negara Islam di Indonesia, memperjuangkan berlakunya Hukum syariat di setiap provinsi, gencar gereja-gereja disegel, ditutup.
Beberapa hari yang lalu, tidak hanya umat Muslim, kalau boleh dibilang, inter faith (lintas iman, Kristen, Katolik, Konghucu, Budha, Hindu) mengenang 1000 hari meninggalnya seorang tokoh nasional yang sewaktu masih hidup, dengan keras menyuarakan “nilai-nilai kemajemukan, pluralitas, keberagaman, kesatuan dan persatuan”  yaitu Almarhum Gusdur. Saya pernah membaca satu tulisanya dalam sebuah buku, beliau katakan: “orang yang anti dengan perbedaan, kemajemukan, keberagaman, berarti orang tersebut mengingkari karya Tuhan”. Perbedaan ada bukan karena manusia, tetapi Tuhan yang menciptakan. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda tetapi Tuhan tidak pernah membeda-bedakan manusia”
Dengan demikian, gereja masa kini seharusnya menjadi ujung tombak, dalam mengusahakan kehidupan yang rukun, harmonis, bersinergi bahkan mau bekerjasama antar umat beragama. Memutar Film “GKJ Djoyodiningkratan & Masjid; Film Kerukunan Antar Umat Beragama”.
Pesan Tuhan Yesus dalam Markus 9:50 “Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain! Orang Kristen, Gereja semestinya menjadi duta-duta perdamaian, menggalang kerjasama dengan semua pihak dan membuka diri akan keberagaman. Tuhan Yesus Memberkati.             
 

Minggu, 23 September 2012


BERTUMBUH DALAM KEDEWASAAN
Yakobus 3:13-4:3, 7-8a & Markus 9:30-37

Mari kita perhatikan dengan seksama Injil Markus 9:30-37. “Menurut bapak, ibu dan saudara apakah para murid Yesus sudah layak disebut sebagai orang dewasa atau sebaliknya mereka masih kekanak-kanakan?” Saya berani katakan dengan tegas, berdasarkan perikop yang kita baca, para murid Yesus belum layak disebut sebagai orang dewasa, bahkan cenderung kekanak-kanakan! Mengapa?
Saya menemukan ada 3 hal, yang memperlihatkan bahwa murid-murid Yesus masih kekanak-kanakan! Yang pertama, di ayat 32 dikatakan “Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakan kepadaNya”. Di sepanjang jalan, melewati daerah Galilea, Yesus mengajar para murid tentang penderitaan yang akan dialami oleh Anak Manusia. Bahkan Yesus sengaja memilih jalan yang pas, yang cocok, bisa kita bayangkan itu sebuah jalan yang sepi, jalan rahasia supaya para murid bisa mendengarkan dan mengerti pengajaran Yesus dengan baik. Namun sayang seribu sayang, para murid bahkan tidak mengerti sama sekali apa yang diajarkan Yesus. Dan semakin disayangkan, meski tidak tahu apa yang diajarkan oleh sang Guru para murid tidak berani bertanya.
Masih bisa dimaklumi kalau para murid belum mudeng, mungkin apa yang disampaikan Yesus suatu pengajaran yang berat-seperti bahasa di PPAG- terlalu akademik. Tetapi tidak bisa dimaklumi lagi, ketika mereka tidak mudeng tetapi tidak berani bertanya. Orang yang dewasa adalah orang yang berani bertanya ketika ia tidak tahu. Sementara kalau anak kecil biasanya, meski tidak tahu mereka tidak berani bertanya. Orang yang dewasa berani mengajukan pertanyaan semata-mata karena keinginannya-niatnya untuk terus belajar akan hal-hal baru yang belum ia ketahui. Orang yang dewasa selalu haus akan hal-hal yang baru.
Kita bisa membandingkan metode belajar saat masih SD dengan Perguruan Tinggi. Di SD guru menjelaskan murid mendengarkan. Kalau tidak diminta bertanya para murid diam saja. Bahkan diminta bertanya pun mereka tetap diam saja. Metode mengajar seperti ini disebut metode bank. Para murid seperti bank dan guru-gurunya ibarat para penabung. Sementara di Perguruan Tinggi tentu berbeda, biasanya dosen menjelaskan sebentar, kemudian masuk ke dalam diskusi. Kalau di SD guru salah mengajar para murid diam saja. Kalau di perguruan tinggi dosen keseleo sedikit mahasiswa sudah pada protes.
Bukti kedua bahwa para murid masih sangat kekanak-kanakan kita bisa lihat di ayat 33 dan 34, sesampainya di tempat tujuan, Yesus bertanya kepada para murid: “apa yang kalian perbincangan di tengah jalan tadi?”. Bayangan saya, di sepanjang jalan, Yesus “kebribenen”-Ia sangat terganggu dengan celotehan para murid. Sangat masuk akal, karena jelas-jelas dikatakan, para murid bertengkar memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka. Namun anehnya, ketika Yesus bertanya kepada mereka, tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan Yesus. Para murid diam seribu bahasa, mendadak terkena penyakit bisu alias tidak bisa bicara!
Orang yang dewasa pasti berani terbuka, jujur ketika ada masalah. Orang yang dewasa tidak membiarkan masalah berlarut-larut atau menutup-nutupi masalah tetapi segera mencari jalan keluar. Seorang anak kecil memecahkan pot bunga milik ibunya. Ketika sang ibu bertanya, ia akan berkata: tidak tahu. Berbeda dengan orang dewasa, di jalan yang cukup sepi, tiba-tiba mobilnya “menyerempet” sepeda motor. Sebenarnya ada 2 pilihan, bisa tancap gas dan meninggalkan korban, atau ia bertanggung jawab dan menolong korban. Kalau orang yang dewasa, 100 persen saya jamin, akan turun dan menolong sang korban. Menyelesaikan masalah bukan lari dari maslah.
Sebenarnya ada masalah yang cukup berat di antara para murid, khususnya terkait relasi satu dengan yang lain. Tapi sayang para murid tidak berani jujur mengaku kalau mereka sedang bermasalah. Bukti kekanak-kanakan para murid yaitu dengan membiarkan masalah berlarut-larut.
Bukti yang ketiga, mengapa para murid layak disebut kekanak-kanakan adalah terkait dengan tujuan hidup mereka. Para murid sibuk mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka, karena dalam pemikiran mereka menjadi yang pertama, yang paling dikasihi oleh Yesus tentu akan menerima berkat, ketenaran yang sama dengan Yesus. Secara, Yesus bak artis terkenal pada saat itu. Saat Yesus tenar, otomatis para murid juga akan ikut tenar.
Pdt. Andar Ismail menulis, salah satu ciri orang yang dewasa adalah mau menerima keberadaan orang lain serta mengarahkan hidupnya untuk kepentingan banyak orang. Dengan kata lain hidup bukan untuk kepentingan diri sendiri melainkan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Anak kecil masih susah untuk berbagi makanan-minuman, harus diajari, bahkan kadang kala mereka menangis, marah kalau makanan-minuman-mainan mereka dipinjam sebentar oleh temannya. Seorang yang dewasa, tentu punya inisiatif, tidak perlu diingatkan, untuk berbagi berkat kepada orang-orang yang sangat membutuhkan.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan, para murid memang masih sangat kekanak-kanakan, berbeda dengan Sang Guru-Yesus Kristus. Sosok manusia sejati yang dewasa. Motto hidupNya, “jika seorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”. Bertolak belakang dengan para murid, Yesus bukan berjuang untuk menjadi yang pertama tetapi justru menjadi yang terakhir. Tidak berjuang agar semua orang melayaniNya, melainkan Ia ingin menjadi pelayan bagi semua orang. Hidup yang berorientasi ke luar bukan ke dalam diri. Tidak berharap menerima tetapi justru ingin selalu memberi. Bahkan keberadaan seorang anak kecil yang tidak diperhitungkan oleh masyarakat, dihargai oleh Yesus Kristus. Sapaan, pelukan dan gendongan Yesus kepada seorang anak kecil, hendak mengingatkan para murid untuk mau diutus menjadi berkat bagi semua orang. Khususnya kepada orang-orang yang terpinggirkan, yang dikucilkan, yang di pandang sebelah mata oleh masyarakat.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan, 3 ukuran kedewasaan tadi sebenarnya tidak hanya dipakai untuk mengukur kedewasaan seseorang (personal), tetapi tepat juga dipakai untuk mengukur tingkat kedewasaan sebuah gereja/jemaat. Apakah gereja (jemaat) kita sudah benar-benar dewasa atau masih kekanak-kanakan.
Yang pertama, apakah selama ini gereja kita berani untuk terus bertanya? Berani bertanya berarti berani untuk terus belajar sesuatu yang baru. Belajar mengeksplorasi diri, belajar mengupgrade kompetensi, baik itu sumber daya manusianya (anggota majelis, komisi-komisi, pengurus kelompok difasilitasi untuk belajar dan belajar), juga program-programnya (hati-hati kalau sebuah gereja, tiap tahun program kegiatannya sama hanya copy paste dari tahun yang sebelumnya).
Gereja yang berhenti belajar, berhenti berinovasi, berhenti bereksperimen itu tanda-tanda gereja yang “mandeg/stagnan-tidak bertumbuh”. Juga sebuah gereja yang sudah merasa mampu, merasa besar, merasa hebat, merasa mapan itu justru sangat berbahaya. Dan itulah tantangannya. Sebuah gereja harus terus berani bertanya dan bertanya, apa yang bisa dilakukan oleh gereja agar semakin menjadi berkat bagi umat, bagi lingkungan sekitar, bahkan bagi dunia. Hati-hati kalau ada sebuah gereja yang anti dengan hal-hal yang baru. Itu tanda-tanda gereja yang tidak bertumbuh!
Yang kedua, gereja yang nampak adem ayem itu justru perlu dipertanyakan. Apakah benar adem ayem, rukun tenterem? Jangan-jangan ibarat peribahasa, “diam-diam menghanyutkan”. Sebenarnya ada banyak persoalan tetapi merasa tidak ada persoalan. Moto hidup gereja tersebut: “waktu akan menyelesaikan setiap persoalan”. Ibarat dari luar kelihatan adem ayem tetapi sebenarnya sangat panas. Ada banyak luka, sakit hati, kebencian, perselisihan antar anggota jemaat. Tangan memang berjabat tangan, bibir memang tersenyum tetapi hati tak bisa dibohongi. Ada rasa benci, dendam yang belum terselesaikan. Sangat berbahaya, kalau semua persoalan akhirnya menumpuk-numpuk, ibarat bom waktu, kapan saja bisa meletus dan berakibat fatal.
Gereja yang bertumbuh dewasa adalah gereja yang peka terhadap setiap persoalan/masalah, sekecil apapun persoalan tersebut. Gereja yang bertumbuh dewasa tidak hanya memakai pendekatan formalistik-legalistik melainkan belajar mengatasi setiap persoalan dengan bijak, pertimbangan yang mendalam, tentu yang utama, berlandaskan kasih Kristus yang tanpa batas.
Yang ketiga, gereja yang hanya usreg ke dalam dan tidak pernah ikut ambil bagian pada persoalan-persoalan di luar gereja, berarti gereja tersebut belum bertumbuh dewasa. Masih berpikir untuk dirinya sendiri. Alasan yang seringkali dipakai: “Lha bagaimana mau berpikir untuk keluar sementara di dalam masih banyak persoalan yang belum terselesaikan. Membenahi ke dalam dulu baru ke luar”. Pertanyaannya adalah “kapan selesai membenahi persoalan di dalam gereja?” Persoalan di dalam gereja sangat penting dan harus dipikirkan, tetapi jangan sampai, membuat gereja tidak ambil bagian dalam persoalan-persoalan masyarakat sekitar. Gereja harus berani ke luar dan menjadi berkat bagi masyarakat.
Bacaan yang kedua, Yakobus 3:13-4:3, 7-8a berbicara tentang ciri-ciri orang yang bijak dan berbudi. Dalam sejarah Yunani, orang yang bijak dan berbudi disebut sebagai Filsuf atau filosof artinya orang yang mencintai kebijaksanaan. Dan jelas, filsuf adalah seorang yang dewasa. Ciri-ciri sikap hidup orang yang dewasa adalah lemah lembut (bukan lebay atau KW), murni (tulus-tidak ada udang dibalik batu), pendamai (bukan biang kerok-biang keributan), peramah (bukan pemarah), penurut (bukan pembangkang), penuh belas kasihan (tidak egois), tidak memihak (ada di tengah-tengah, tidak pilih kasih), tidak munafik (berintegritas).
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih, secara pribadi, sebagai murid Kristus, apakah kita benar-benar sudah dewasa? Atau masih kekanak-kanakan? Sudahkah kita memiliki sikap kelemahlembutan, ketulusan, mencintai perdamaian, peramah, penurut, penuh belas kasihan, tidak memihak dan tidak munafik?  Sebagai sebuah jemaat Kristen, apakah kira-kita kita sudah layak disebut dewasa? “Belum mas. Kan memang kita belum mandiri, masih tahun 2014”.
Kedewasaan bukan suatu benda yang tiba-tiba jatuh dari langit, kedewasaan bergereja adalah sebuah proses belajar yang membutuhkan waktu, kemauan, niat, kesungguhan hati. Berani bertanya, berani mencoba hal-hal yang baru, jangan takut berinovasi, hadapi masalah jangan sembunyi dari masalah, selesaikan dengan hati yang bijak setiap konflik ada. Dan mari kita belajar melihat ke luar dan menjadi berkat bagi dunia. Selamat bertumbuh menjadi dewasa! Tuhan Yesus Memberkati! Amin.
Bersama kita nyanyikan “Bertumbuh Dalam Kasih” dengan berdiri!      


Minggu, 7 Oktober 2012 
Persiapan Perjamuan Kudus

MENGHADIRKAN KRISTUS 
MELALUI INTEGRITAS ANGGOTA KELUARGA
DANIEL 6:4, 11-27; MATIUS 22:15-22

Integritas berasal dari kata latin integrate yang berarti komplit (tanpa cacat, tanpa kedok, sempurna). Apa yang kita ucapkan, pikirkan dan lakukan semuanya berlandaskan nilai-nilai, keyakinan dan prinsip hidup yang kita pegang. Lawan integritas adalah hipocrisy (hipokrit atau munafik). Apa yang diucapkan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Dalam istilah bahasa Jawa disebut mencla-mencle, esuk dele awan tempe. Integritas adalah salah satu karakter yang semestinya dimiliki oleh para pemimpin. Pemimpin yang berintegritas akan lebih mudah mendapatkan trust (kepercayaan) dari orang-orang yang dipimpinnya.
Daniel salah satu contoh orang yang berintegritas. Di antara para pejabat tinggi dan wakil raja, Daniel-lah yang paling menonjol (ayat 4). Karena itulah sang Raja sangat mengasihi dan menaruh kepercayaan lebih kepada Daniel. Raja bermaksud mengangkat Daniel menjadi pemimpin dari para pejabat tinggi dan wakil raja. Kondisi inilah yang akhirnya membuat rekan-rekan Daniel iri hati sekaligus benci kepadanya. Bahkan mereka mempunyai hidden agenda yaitu mencari-cari kesalahan sekaligus sebagai alasan menyingkirkan Daniel. Sungguh terbukti, Daniel adalah pribadi yang benar di hadapan Allah sebab tidak ada satu pun kesalahan Daniel yang ditemukan oleh rekan-rekannya (ayat 5). Hanya ada satu alasan yang dipakai untuk menjatuhkan Daniel yaitu tentang ibadah kepada Allah.
Saat mengetahui sepak terjang rekan-rekannya, Daniel tidak takut-tidak gentar, ke-integritasan Daniel sungguh terbukti, di tengah bahaya yang terus mengintai, ia tetap beribadah kepada Allah. Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya.
Seperti yang direncanakan rekan-rekannya, Daniel akhirnya dijatuhi hukuman oleh Raja. Meskipun sebenarnya sang Raja terpaksa menghukum Daniel (lih. Ayat 19---> sang raja berpuasa semalam-malaman, tidak menghibur diri dengan para “selirnya”dan  lek-lekan). Sang Raja tahu persis siapa Daniel dan bagaimana kualitas hidup Daniel selama ini. Akan tetapi hukum harus tetap ditegakkan. Barangsiapa tidak menyembah Sang Raja tetapi menyembah Allah lain, ia akan menerima hukuman yaitu dimasukkan ke dalam gua singa. Yang terjadi-terjadilah, Daniel akhirnya dijebloskan ke dalam gua singa.
Apa yang terjadi? Singa-singa buas seperti sedang sakit gigi. Singa-singa pemakan daging berubah menjadi singa-singa vegetarian. Daniel keluar gua dengan selamat, tanpa gores luka sedikit pun. Allah sungguh meyertai dan menolong Daniel. Tentu karena Daniel adalah pribadi yang berintegritas. Taat, setia kepada Allahnya, meskipun tantangan, ancaman, penderitaan harus ia hadapi.
Pertanyaannya adalah bagaiamana caranya Daniel bisa menjadi pribadi yang berintegritas? Sebuah proses yang panjang, tidak instan, tidak dadakan. Benih-benih integritas dalam diri Daniel mulai tumbuh dalam lingkungan keluarga. Daniel berasal dari keturunan raja dan bangsawan (Daniel 1:3). Di usia mudanya ia sudah hidup benar di hadapan Allah, tidak bercacat-cela, berhikmat dan berpengetahuan. Pendidikan dalam keluarga menjadi cikal-bakal untuk menumbuhkan nilai-nilai positif dalam diri Daniel. Ditambah lagi, pada usia mudanya, Daniel mendapat kesempatan belajar selama 3 tahun sebelum bekerja di istana raja Nebukadnezar (Daniel 1:5). Ujian dan tantangan untuk tetap memiliki hidup berintegritas selalu berhasil dilewati oleh Daniel. Hingga akhirnya terbentuklah sosok pribadi Daniel yang memiliki integritas luar biasa.   
Matius 22:15-22 juga berbicara tentang integritas. Yesus Kristus sebagai model pribadi yang berintegritas. Seperti Daniel, Yesus juga tengah menghadapi kelicikan, akal bulus orang-orang Farisi yang setiap saat ingin menjatuhkannya. Murid-murid orang Farisi bertanya kepada Yesus, “Guru kami tahu Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?”
Yesus tahu persis isi hati orang-orang yang mengajukan pertanyaan. Mereka tidak bertanya dengan tulus, murni tidak tahu, melainkan ada udang di balik batu, ada maksud dan tujuan jahat dibalik pertanyaan yang diajukan. Yesus juga tidak terbang ke atas awan alias menjadi sombong ketika pertanyaan itu sebenarnya mengandung beberapa pernyataan tentang kehebatan Yesus (orang yang jujur, tidak takut kepada siapapun alias pemberani, pribadi yang tulus-tidak mencari muka)
Terhadap pertanyan yang menjerumuskan itu, Yesus tidak tertipu. Seandainya Yesus berkata bahwa membayar pajak kepada Kaisar tidak sesuai dengan Hukum Taurat, maka penguasa Roma yang mendengar pernyataan itu bisa menuduh Yesus sebagai orang yang melawan pemerintah Roma. Sebaliknya jika Yesus berkata bahwa itu tidak melanggar hukum Taurat maka Ia menyinggung perasaan orang-orang Yahudi yang anti terhadap penjajahan. Barangkali Yesus akan dicap sebagai pribadi yang menyetujui penjajahan.
Situasi yang sebenarnya tidak mudah, akan tetapi karena memiliki hikmat, Yesus mampu menjawabnya dengan sangat bijak. Memakai sarana uang dinar bergambar wajah kaisar, Yesus tidak melarang pembayaran pajak kepada kaisar karena mata uang Roma—dinar adalah milik kaisar.    "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" menunjukkan bahwa tiap-tiap orang mempunyai kewajiban terhadap negara dan terhadap Allah. Kewajiban terhadap negara tidak harus dipertentangkan dengan nilai-nilai kekristenan, sebab kekuasaan suatu pemerintahan diberikan oleh Allah demi kesejahteraan seluruh manusia.
Memiliki hidup yang berintegritas memang bukan hal yang mudah. Apalagi di zaman sekarang, betapa sulitnya mencari pemimpin yang berintegritas. Buktinya ialah semakin merosotnya nilai-nilai moralitas di semua lapisan masyarakat, tidak hanya rakyat kecil, bos besar-para pejabat tinggi juga belum mampu memiliki hidup yang berintegritas. Banyak orang mudah diombang-ambingkan oleh hawa nafsu, kepentingan pribadi dan kelompok. Nilai-nilai kebenaran, keadilan, kejujuran, kesetiaan, ketaatan acapkali menjadi produk usang yang tidak diminati oleh masyarakat. Keluarga-keluarga Kristen masa kini semestinya menjadi wadah paling kecil dalam menumbuhkan nilai-nilai integritas kepada seluruh anggota keluarga. Hidup berintegritas baik di dalam lingkup keluarga, masyarakat, gereja dan negara.
Mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam perayaan Sakramen Perjamuan mengingatkan kita semua pada teladan hidup Yesus, manusia sejati yang berintegritas. Kesetiaan,  ketaataan dan pengorbanannya di kayu salib guna menebus dosa-dosa manusia semestinya mampu memotivasi kita untuk belajar memiliki hidup yang berintegitas. Selama hidup, apa yang dikatakanNya itulah yang dilakukanNya. Dan, apa yang dilakukanNya, itulah yang dikatakanNya. Konsisten! Berintegritas! Satu kata dan perbuatan. Sehingga tidak ada satu pun lawan yang mampu menunjukkan kesalahan Yesus. Selamat belajar memiliki hidup yang berintegritas! Tuhan Yesus Memberkati, Amin.  

LIDAH SEORANG MURID
Yesaya 50:4-9a ; Yakobus 3:1-12

Ada seorang ibu datang kepada pendeta. Ia bercerita kalau beberapa hari yang lalu sudah memfitnah teman kantornya, sampai-sampai teman kantornya itu di diberhentikan. Sang ibu datang ke pendeta untuk meminta doa pengampunan. Menanggapi cerita tersebut, sang pendeta tersenyum kecil, lalu berkata kepada sang ibu. “Ibu yang baik, lakukan apa yang saya perintahkan. Saat ini juga, ibu harus pergi ke pasar, dan belilah seekor ayam. Dan ketika ibu pulang dari pasar, cabutilah bulu ayam tersebut satu persatu dan biarkan jatuh di sepanjang jalan yang ibu lewati”. Tentu sang ibu sedikit kaget, kok aneh-aneh ya, perintah sang pendeta. Tapi, karena yang memerintahkan pendeta, sang ibu mematuhinya. Ia pergi ke pasar, membeli seekor ayam dan mencabuti bulu-bulunya dan memjatuhkannya di sepanjang jalan yang ia lalui. Segera setelah semuanya selesai, ia kembali ke pak pendeta. Ia melapor, “Pak, semua yang bapak perintahkan sudah saya kerjakan”.
Pendeta tersebut tersenyum kemudian berkata, “sekarang, ibu lakukan lagi apa yang saya perintahkan, pergilah ke sepanjang jalan menuju pasar dan kumpulkanlah kembali bulu-bulu ayam yang sudah ibu cabuti tadi”. Saking taatnya kepada pendeta, ibu tersebut menuruti apa yang diperintakan pak pendeta. Apa yang terjadi? Semua bulu-bulu ayam yang ada di sepanjang jalan menuju ke pasar sudah tidak ada lagi, karena bulu-bulu itu sudah diterbangkan oleh hembusan angin. Ibu ini kembali ke pak pendeta dan menceritakan semuanya.
Pak Pendeta berkata, “seperti bulu-bulu ayam yang sudah diterbangkan oleh angin, seperti itu pula kata-kata fitnah, kebohongan yang sudah ibu sebarkan kepada seluruh orang sehingga membuat salah seorang teman di kantor ibu diberhentikan. Betapa sulitnya menarik kembali setiap perkataan yang sudah keluar dari mulut kita. Mulai sekarang, jagalah setiap perkataan yang ibu ucapkan”.
Tuhan menciptakan lidah tentu tidak hanya untuk merasakan lezatnya makanan. Tidak hanya berfungsi sebagai indera pengecap. Tidak hanya untuk merasakan manis dan gurihnya gado-gado jogya, bagi yang baru pulang dari Jogya. Tidak hanya untuk merasakan pedas dan maknyusnya mie ayam di depan GKJ Bekasi. Melainkan mempunyai fungsi-kegunaan yang sangat penting.
Dalam Kitab Yakobus dikatakan bahwa lidah itu adalah salah satu bagian tubuh yang paling kecil tetapi besar pengaruhnya bagi manusia. Diibaratkan lidah itu seperti kemudi kapal. Kapalnya besar tetapi kemudinya kecil. Kecil-kecil cabe rawit. Kecil-kecil punya fungsi yang sangat penting. Ibarat kekang dimulut kuda. Ibarat api yang nyalanya kecil, hanya puntung rokok “tegesan rokok” tapi mampu membakar berhektar-hektar hutan belantara yang sangat luas.
Juga dikatakan dalam kitab Yakobus, manusia itu maklhuk yang paling berkuasa atas semua ciptaan Allah, segala binatang dan tumbuh-tumbuhan di dunia ini. Akan tetapi manusia, tidak mampu berkuasa atas lidahnya sendiri. Lidah seringkali jauh lebih buas dari binatang yang sangat buas. Makanya ada istilah, “mulutmu harimaumu”. Kadangkala, lidah jauh lebih beracun daripada racun yang paling beracun yang ada di dunia ini.
Melalui suratnya, Yakobus menegor dengan keras, beberapa orang yang ada di tengah jemaat, mereka yang saling berebut untuk menjadi seorang guru/pengajar di tengah jemaat. Yakobus menegor mereka bukan karena Yakobus melarang mereka menjadi guru/pengajar, melainkan Yakobus mengingatkan tentang motivasi mereka menjadi seorang guru. Banyak orang saling berebut menjadi seorang guru/pengajar, karena pada masa itu, guru merupakan salah satu jabatan gerejawi yang sangat terhormat.
Almarhum Pendeta Eka Darmaputera dalam bukunya menuliskan bahwa guru merupakan jabatan gerejawi nomor 3 pada masa itu, setelah Rasul dan Nabi. Akan tetapi seringkali banyak orang yang akhirnya menjadi nabi-nabi palsu dan guru-guru palsu. Karena motifasi mereka sudah tidak benar. Yakobus mengingatkan orang-orang tersebut untuk memiliki motifasi yang benar jika ingin menjadi seorang guru. Sebab, semakin tinggi status, jabatan gerejawi seseorang, akan semakin banyak tantangan, godaan khususnya tentang tanggung jawab mengendalikan perkataan. Apalagi sebagai seorang guru yang setiap waktu harus siap sedia mengajarkan pengajaran yang benar dan tidak boleh menyesatkan.
Yakobus mengingatkan umat Kristen pada masa itu untuk berhati-hati dalam menggunakan lidah. Hati-hati dalam berkata-kata. Semestinya lidah dipakai untuk memuji Tuhan, bukan untuk mengutuk, lidah untuk memberkati bukan untuk mengucapkan sumpah serapah, kata-kata hinaan, caci maki.
Di ayat 11 dan 12, Yakobus menyampaikan bahwa seharusnya orang-orang Kristen itu baik-baik semua. Mampu menjaga setiap perkataan yang ia ucapkan. Mengapa? Karena orang-orang Kristen meminum air dari sumber kebenaran yang sejati. Yaitu firman Tuhan. Dikatakan, “adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?”. Dulu di desa saya ada toko bangunan, namanya “Sumber Agung”. Baru buka beberapa bulan kemudian tutup karena tidak laku. Lalu orang-orang berkata: “itu salah memberi nama, “sumber agung”: sumbernya memang agung tapi nggak pernah di cidok”, tidak pernah diambil sumbernya itu. Banyak orang Kristen yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi Kristen tetapi hidupnya jauh dari firman Tuhan. Dekat dengan sumber kebenaran yang sejati, yang memancarkan air tawar, yang menyehatkan jiwa, akan tetapi tidak pernah berusaha untuk meminum-mencicipi sang sumber kebenaran sejati tersebut. Ibarat pohon, orang-orang Kristen berasal dari pohon yang berkualitas yang tumbuh subur oleh karena siraman Firman Tuhan. Dan tentu ketika menghasilkan buah, buah yang sangat berkualitas, bukan buah yang busuk.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Nabi Yesaya juga sangat berharap kepada umat Israel agar mereka bisa memiliki lidah seorang murid. Di ayat 4 disebutkan ciri-ciri lidah seorang murid yaitu setiap perkataan yang memberikan semangat baru kepada orang yang letih lesu. Perkataan yang memberikan semangat bukan mematahkan semangat. Perkataan yang mampu memotivasi, membangun, bukan hanya mengkritik, mencela, menyalahkan, memojokkan, menjatuhkan orang lain.
Dan yang menarik untuk kita ketahui, masih di ayat 4, Nabi Yesaya menyampaikan bahwa syarat utama supaya kita bisa memiliki lidah seorang murid adalah belajar memiliki pendengaran seorang murid. Untuk bisa memiliki lidah seorang murid kita harus juga memiliki telinga seorang murid.  Mengapa? Nabi Yesaya mengkaitkannya dengan kebiasaan mendengar suara Tuhan di pagi hari. Seperti Tuhan Yesus yang memiliki waktu pribadi bersama dengan Allah, setiap pagi sebelum mengawali karya di dunia, Tuhan Yesus selalu mendengar suara Allah. Memiliki waktu pribadi bersama dengan Allah. Bagaimana dengan kita semua? Biasanya apa yang kita lakukan di pagi hari? Sebelum kita memulai semua aktifitas kita? Punya waktu berdoa khusus, saat teduh di pagi hari? Atau buru-buru menyalakan TV takut ketinggalan berita? Atau buru-buru mencari koran yang ada di halaman rumah? Atau segera membuka laptop, ipad, BB, update status?
Bercerita sedikit tentang pengalaman live in di salah satu pondok pesantren di Pleret, Bantul namanya Pondok Pesantren Al-Mahali. Dulu dipimpin oleh seorang kyai, penulis buku dan pernah disebut sebagai kyai KB karena menjadi satu-satunya kyai yang menyetujui Gerakan KB di Yogyakarta. Namun sekitar 5 tahun yang lalu beliau meninggal dunia dan luar biasanya, kepemimpinan pondok pesantren tersebut digantikan oleh sang isteri, dipanggil Nyai. Kami sekitar 10 orang di pesantren tersebut, para pendeta, vikaris dan beberapa orang teman dari Universitas Islam Negeri Yogyakarya yang tengah studi Psacasarjana.
Yang menggelikan, biasanya kami bangun minimal jam 5.30, tiba-tiba di Pondok Pesantren tersebut kami dibangunkan jam 4 pagi. Untuk bersama-sama mengikuti semacam doa pagi bersama. Ada seorang kyai yang membaca Alquran dan para santri mendengar sambil mencatat. Seringkali ketaatan kita kepada Sang Khalik, jauh tertinggal, dibanding dengan ketaatan mereka. Pagi hari mereka datang kepada Tuhannya, tidak dengan muka kusut, rambut acak-acakan melainkan dengan pakaian rapi, tubuh wangi, pakai jilbab dan peci. Mereka lakukan itu tidak hanya pas waktu-waktu khusus tetapi setiap hari. Mereka bukan orang dewasa, tetapi anak-anak SMP, SD bahkan ada yang masih di bangku TK-PAUD. Lucu, menggemaskan tetapi juga salut dan kagum, membuat saya dan teman-teman terkesima.
Sungguh sekali lagi, bijaksanalah dalam berkata-kata. Dan ketika kita rindu memiliki lidah seorang murid, kita harus terlebih dahulu belajar memiliki telinga seorang murid. Telinga yang peka akan suara Tuhan.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih, untuk mengakhiri firman Tuhan di siang hari ini, saya undang bapak, ibu untuk bangkit berdiri. Dan kita akan bernyanyi bersama, salah satu lagu sekolah Minggu. Semua harus bernyanyi!

Hati hati gunakan lidahmu! Jangan Fitnah!
Hati-hati gunakan lidahmu! Jangan gosip!
Allah Bapa di Sorga melihat semuanya, hati-hati gunakan lidahmu!

Hati-hati gunakan lidahmu! Jangan bohong!
Hati-hati gunakan lidahmu! Jangan sombong!
Allah Bapa di sorga melihat semuanya, hati-hati gunakan lidahmu!
Jangan fitnah, jangan gosip, jangan bohong, jangan sombong!


Minggu, 26 Agustus 2012 (Perayaan & Penutupan HUT GKJ Bekasi)                    
Tema               : Menjadi Berkat Untuk Kemuliaan Allah
Bacaan           : Roma 15: 1-9; 1 Korintus 10:29-11:1

Jemaat Kristen di Roma adalah kelompok minoritas, yang harus hidup berdampingan dengan orang-orang Yahudi. Kita semua tahu, orang-orang Yahudi punya keunggulan dalam hal ketekunan, kepandaian dan ketaatannya akan Kitab Taurat. Namun, di sisi lain, orang-orang Yahudi sangat buruk dalam hal relasi antar sesama manusia. Apalagi kepada mereka yang bukan sebangsa. Orang Yahudi menganggap mereka sebagai bangsa yang tidak mengenal Allah. Dengan kata lain, orang Yahudi hanya mementingkan relasi personal-vertikal dengan Allah dan mengesampingkan relasi horizontal-antar sesama manusia.
Orang-orang Yahudi sangat betah berlama-lama membaca dan mempelajari Kitab Taurat. Sebaliknya, mereka enggan menolong, membantu orang lain, meski hanya beberapa saat. Tentu kita masih ingat cerita orang Samaria yang baik hati. Para ahli Taurat dan orang Farisi hanya diam, berpangku tangan, lalu melanjutkan perjalanan kembali, meski melihat ada seorang yang tergeletak di tengah jalan, penuh luka, membutuhkan pertolongan. Dari kisah itu, semakin jelas bahwa menolong sesamanya, bukanlah prioritas bagi orang-orang Yahudi.
Rasul Paulus paham benar tantangan dan pergumulan yang harus dihadapi jemaat Kristen di Roma. Manakala harus hidup berdampingan dengan komunitas Yahudi di Roma. Melalui Suratnya, khususnya pasal 15:1-9, Rasul Paulus memberikan 3 nasehat kepada jemaat Kristen di Roma. Pertama, jemaat Kristen di Roma harus terus bertekun dalam pengajaran Kitab Suci. Orang Yahudi saja begitu tekun mendalami Kitab Suci, demikian pula seharusnya orang-orang Kristen di kota Roma, harus lebih tekun. Bukan untuk menyaingi orang Yahudi, tetapi dengan belajar Kitab Suci orang-orang Kristen mendapatkan penghiburan dari Allah. Dan penghiburan itulah yang akan membuat orang Kristen terus berpegang teguh pada iman pengharapannya kepada Kristus Yesus (ayat 4,5).
Kedua, jemaat Kristen di Roma, diingatkan untuk terus memelihara kerukunan di tengah persekutuan orang-orang Kristen. Bila di tengah jemaat ada orang yang lemah, memerlukan pertolongan, biarlah mereka yang kuat mau menopangnya. Masing-masing anggota persekutuan, diharapkan tidak mencari kesenangan pribadi sebaliknya mengusahakan kesenangan orang lain. Dengan kata lain, jemaat Kristen di Roma, tidak boleh meniru kehidupan orang Yahudi yang hanya memikirkan relasi personal dengan Allah. Tanpa mau peduli dengan sesamanya.
Ketiga, jemaat Kristen di Roma, harus berjuang mewartakan rahmat-cinta kasih  Allah kepada bangsa-bangsa lain. Agar semua bangsa di dunia ini, dapat memuliakan Allah. Jangan sampai orang-orang Kristen di Roma, menjadi sama seperti orang Yahudi yang cenderung menyepelekan bahkan membenci bangsa-bangsa lain. Dan berusaha, menutup berkat Allah untuk bangsa-bangsa lain.
Khusus bagian yang ketiga, yaitu mewartakan rahmat Allah kepada bangsa lain, Paulus mempunyai segudang pengalaman dalam memberitakan Injil di tengah Bangsa Non Yahudi. Salah satu contohnya adalah kehidupan orang Kristen di Korintus. Di sana,  orang-orang Kristen harus berhadapan dengan orang-orang non Yahudi, dengan berbagai bentuk budaya hellenis, yaitu budaya campuran Yunani dan Romawi). Salah satu contoh dari kebudayaan Hellenis adalah banyaknya penyembahan kepada berhala-berhala.
Dan permasalahan itulah yang coba dijawab oleh Paulus dalam suratnya di pasal yang 10. Dengan tegas, di ayat 14, Paulus berkata, “karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah berhala!”. Permasalahan tidak hanya sampai di sana, karena ternyata di tengah jemaat muncul persoalan tentang, “makanan yang dipersembahkan kepada berhala”. Apakah orang-orang Kristen boleh memakannya atau tidak?
Pertanyaan yang tidak mudah dijawab oleh Paulus. Di satu sisi Paulus mencoba mengajak jemaat untuk membangun relasi-kebersamaan dengan orang-orang di luar persekutuan Kristen, akan tetapi di sisi lain, ia harus tegas dan memberikan pengajaran yang benar agar umat Kristen di Korintus tidak terombang-ambing oleh budaya yang tidak sesuai dengan iman Kristen. Di ayat 27, Paulus katakan, “kalau kamu diundang makan, oleh seorang yang tidak percaya, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa perlu untuk diperiksa”. Ayat 28, “tetapi kalau ada orang yang mengingatkan kepadamu, bahwa makanan itu persembahan berhala, janganlah engkau memakannya”.
Artinya, ketika seorang Kristen diundang makan/ bertamu dan disuguhi makanan, mereka tidak perlu bertanya/repot-repot memeriksa makanan tersebut, karena hal itu bisa menimbulkan sakit hati bagi si tuan rumah. Orang Kristen baru berhak tidak memakannya, jika ada orang yang tahu dan mengingatkan,  bahwa makanan itu dipersembahkan kepada berhala. Tentu, dari pemberitahuan tersebut, seorang Kristen yang diundang makan, punya kesempatan untuk memulai percakapan dengan si tuan rumah, untuk menjelaskan bahwa sebagai orang Kristen tidak makan-makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Tidak mudah memang, tetapi Paulus mencoba mencari cara yang tepat, supaya orang-orang Kristen tidak di cap sebagai kelompok yang tertutup.
Akan tetapi yang lebih utama dari semua cara tersebut, Paulus berkata: “jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah menimbulkan syak (kebimbangan) dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat”.
Ini berarti, apapun yang dilakukan Paulus ketika membangun relasi-kebersamaan dengan bangsa lain, semata-mata untuk mewartakan rahmat Allah kepada semua orang. Paulus ingin, agar semua orang melihat kehidupan orang Kristen yang terbuka kepada semua orang, namun keterbukaan itu tidak menjadikan orang Kristen sama seperti orang-orang Non Kristen. Terbuka dalam relasi, teguh dalam iman.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, belajar dari pergumulan jemaat Kristen di Roma dan Korintus, bagi kehidupan gereja masa kini, di tengah pergumulan dan tantangan yang jauh lebih komples, khsusunya bagi GKJ Bekasi yang kini tengah berulang tahun yang ke-17. Nasehat Rasul Paulus, tentu masih sangat berharga bagi kehidupan umat di GKJ Bekasi. Menjadi berkat bagi kemuliaan Allah. Berarti harus mempunyai 3 un. Yaitu tekun, rukun, dan santun. Menjadi jemaat yang tekun dalam mendalami, menggumuli, belajar akan Kitab Suci. Menjadi jemaat yang rukun, antar anggota jemaat”. Dan yang terakhir, menjadi jemaat yang santun, dalam membangun relasi kebersamaan, komunikasi, kerjasama dengan pihak-pihak lain di luar jemaat.     
3 un ini, bukan pilihan, melainkan sebuah keharusan, yang semestinya ada di tiap-tiap anggota jemaat. Tidak boleh hanya menjadi warga gereja yang tekun membaca Alkitab, semangat kalau ada kegiatan PA, sarasehan, kelas-kelas Alkitab. Akan tetapi kurang antusias kalau ada kegiatan-kegiatan yang lebih kepada upaya memupuk kebersamaan, olahraga, kuliner, jalan-jalan, apalagi semakin tidak cocok kalau ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial-diakonia, membantu korban banjir, gempa, membagikan tajil, dsbnya. Juga tidak boleh menjadi warga gereja yang hanya mau ikut kegiatan-kegiatan kebersamaan, misalnya sangat rajin ke gereja kalau ada acara olahraga, tenis meja, futsal, kuliner, jalan-jalan, dsbnya. Tetapi kalau ada undangan untuk hadir PA, sarasehan, seminar Alkitab, dialog interaktif yang datang hanya sedikit. Juga tidak boleh menjadi warga gereja yang hanya mau bergiat dalam pelayanan sosial, diakonia ke luar, tetapi melupakan esensi dasar dari kehidupan orang Kristen yaitu bertekun dalam pengajaran Kitab Suci. Berpikir bahwa, yang penting sudah menolong banyak orang, tidak perlu lagi ke gereja, tidak penting yang namanya PA, Sarasehan, dll. Sekali lagi 3 kun itu bukan pilihan melainkan keharusan, kemestian bagi orang-orang Kristen yang benar-benar mau menjadi berkat bagi kemuliaan Allah.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan, di usianya yang ke-17 tahun, saya pribadi yakin, 3 un tadi, sudah dilakukan oleh setiap warga jemaat di GKJ Bekasi. Tekun mendalami alkitab? Sampun nggih? Sudah. Wong tahun kemaren pernah ada gerakan Baca Habis Alkitab Perjanjian Baru (BHAPB). Pasti saya yakin, panjengan masing-masing melanjutkan dengan gerakan Baca Habis Alkitab Perjanjian Lama (BHAPL). Saya percaya, di tiap-tiap keluarga juga ada waktu-waktu khusus, orang tua dan anak untuk bersama-sama membaca Alkitab. Saestu nggih?
Rukun antar sesama warga jemaat? Sampun? Saestu? Ya percaya, di GKJ Bekasi semua rukun-rukun, beda pendapat, beda pemikiran itu mah biasa, perbedaan tidak merusak persatuan dan kesatuan umat di GKJ Bekasi. Perbedaan justru memperkaya dan menumbuhkan kreatifitas.
Santun dalam berkomunikasi, bekerjasama dengan pihak di luar gereja? Sampun? Sudah parkir mobil dengan santun? Sudah menyapa, senyum kepada orang-orang yang kita temui di sekitar gereja? Sudah! Bahkan sekarang sudah ada tim atau badan khusus yang dibentuk untuk mulai membangun komunikasi, kerjasama dengan pihak-pihak luar gereja.
Semuanya sudah dilakukan oleh umat Tuhan di GKJ Bekasi! Apalagi, bagi panjenengan, anggota majelis yang mau diteguhkan hari ini, saya yakin 3 kun itu sudah pasti panjenengan miliki. Tekun mendalami firman Tuhan? Pasti. Biasanya kalau sudah terpilih jadi anggota majelis, belajar Alkitabnya luar biasa. Rukun? Pasti. Pas mau dicalonkan sebagai majelis, pasti sudah memberi maaf, pengampunan kepada orang-orang yang pernah bermasalah dengan panjenengan. Santun? Tentu.  Wow, hebat! Jika semuanya sudah, berarti tinggal kualitasnya saja yang terus ditingkatkan. Kualitas ketekunannya kerukunannya dan kesantunannya.
Dan juga mari kita terus mengingat, kata-kata Paulus, “jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”. Kalau GKJ Bekasi, jemaatnya tekun-pandai akan pengetahuan Alkitab, warga jemaat semuanya rukun-damai-tenteram, santun dalam membangun komunikasi-kerjasama dengan pihak luar, semua kebaikan, keberhasilan tersebut, biarlah bukan untuk kebesaran nama pribadi per pribadi, bukan untuk kebesaran nama anggota majelis, bukan untuk kebesaran nama para pendetanya, bukan untuk ketenaran komisi-komisinya atau panitia-panitianya, melainkan sungguh, kebesaran-kemuliaan-ketenaran itu kita persembahkan hanya untuk Tuhan.

Seperti kata Yohanes pembaptis, “Ia (Kristus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Biarlah segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Selamat Ulang Tahun GKJ Bekasi yang ke-17. Selamat Ulang Tahun Bagi Kita Semua. Selamat Menjadi Berkat Bagi Kemuliaan Allah. Amin.

 GKJ Gandaria, 26 Agustus 2012

BERDIRI TEGAP
Yosua 24:1, 14-18; Mazmur 34:16-23; Efesus 6:10-20; Yohanes 6:60-71

“Apa yang dicari orang? Uang! Apa yang dicari orang? Uang! Apa yang dicari orang pagi siang sore malam? Uang..uang..uang..s’mua cari uang!”

Yang saya nyanyikan barusan adalah sepenggal syair lagu anak-anak Sekolah Minggu. Pertanyaannya adalah benar atau tidak, teks lagu tadi? Yang mengatakan bahwa pagi, siang, sore, malam semua orang cari uang. Kalau kita lihat di tengah kehidupan modern saat ini, isi nyanyian Sekolah Minggu tadi, sungguh tepat! Semua orang cari uang. “Lha kalau tidak cari uang, nanti mau makan apa?!”.
Saudaraku yang terkasih, melalui nyanyian tadi, saya bukan bermaksud mengajak saudara-saudara untuk anti dengan yang namanya uang, tidak! Tetapi saya mengajak saudara-saudara untuk berpikir dan melihat sejenak kepada kehidupan kita di zaman sekarang ini. Apa yang menjadi prioritas utama dalam kehidupan kita? Apa yang menjadi pusat dari kehidupan kita? Khususnya bagi kita para pemuda Kristen, anak-anak Tuhan, khusus lagi di GKJ Gandaria.
Uang adalah salah satu saja dari sekian banyak hal yang menjadi prioritas di dalam kehidupan manusia. Mungkin ada di antara kita yang prioritas utamanya adalah pekerjaan, studi, hobi, relasi pertemanan, sahabat, pacar, trend zaman, gaya hidup dan masih banyak yang lain. Ketika fokus utama dalam hidup kita adalah hal-hal yang saya sebutkan tadi, seringkali membuat kita lupa akan Tuhan.
Acapkali kita lebih mengutamakan pekerjaan kita dibanding melayani Tuhan. Kadangkala kita lebih mementingkan hobi kita, entah itu futsal-nonton-game, dibandingkan ke gereja mencari Tuhan. Jangan sampai hal-hal tadi, ibaratnya menjadi ilah-ilah (tuhan-tuhan) lain dalam kehidupan kita. Dan justru menggantikan Tuhan Yesus Kristus, sebagai Tuhan dan juruselamat kita. Bekerja dengan tekun-punya hobi-bersahabat-pacaran tentu boleh, asalkan itu tidak mengganggu, merusak bahkan meniadakan relasi kita dengan Tuhan Yesus Kristus.
Saudaraku yang terkasih, kalau pada masa kini, kita diperhadapkan pada ilah-ilah (tuhan-tuhan) modern, pada masa kepemimpinan Yosua, bangsa Israel juga diperhadapkan pada ilah-ilah lain (khususnya, berhala-berhala yang dipuja oleh masyarakat asli negeri Kanaan). Di akhir kepemimpinan Yosua, sebelum Yosua emiritus/pensiun, ia berbicara kepada seluruh umat Israel. Yosua mengajak umat untuk memilih, apakah akan tetap setia dan taat menyembah Allah Israel atau beralih menyembah ilah-ilah lain. Seakan umat Israel berada di persimpangan jalan. Mau tidak mau mereka harus menentukan pilihan, mau lurus terus-hidup taat, setia, beribadah kepada Allah atau berbelok ke kanan-ke kiri menyembah ilah-ilah lain.
Yosua sungguh-sungguh membebaskan umat untuk memutuskan pilihannya. Meskipun begitu, Yosua sebagai seorang pemimpin, mencoba menceritakan kembali kisah-kisah kebersamaan umat Israel dengan Allah. Bagaimana Allah Israel adalah Allah yang selalu setia, menemani umat baik suka maupun duka. Allah Israel tidak pernah meninggalkan umat seorang diri. Yosua sebagai seorang pemimpin, juga berani menyatakan dengan tegas, bahwa dirinya akan terus setia beribadah kepada Allah Israel, di ayat 15 “tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”.
Akhirnya, dengan kesungguhan hati, umat Israel menyatakan bahwa mereka akan terus setia-taat beribadah kepada Allah. Mereka berjanji tidak akan menyimpang ke kanan maupun ke kiri.
Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan, belajar dari Bangsa Israel, yang dengan sepenuh hati, berjanji akan tetap setia, taat beribadah kepada Allah meskipun diperhadapkan pada ilah-ilah lain. Bagaimana dengan kita? Para pemuda-pemudi Kristen, GKJ Gandaria, masih setiakah saudara kepada Tuhan? Ketika saudara diperhadapkan pada pilihan, lebih taat-setia kepada Tuhan Yesus Kristus atau lebih memilih setia kepada pacar/sahabat/ teman saudara? Apakah saudara berani berkata tidak, atas pengaruh-pengaruh buruk dalam lingkungan, pergaulan, pekerjaan saudara? Yang seringkali tidak sesuai dengan iman Kristen kita.
Ada banyak orang, pada masa kini, lebih merasa aman, tenang manakala memiliki teman/sahabat orang yang punya jabatan/kekuasaan. Ada juga orang yang merasa damai, nyaman, tenteram ketika mereka bersahabat dengan minuman keras, narkoba. Atau ada juga anak-anak muda yang seakan menikmati kehidupannya, hanya dengan pacarnya, seakan-akan di dunia ini hanya mereka berdua, yang lainnya kontrak, ibaratnya, “tanpa kekasih hati di sampingnya, seakan separuh hidupnya hilang”.
Ada banyak orang yang seringkali menggantungkan diri, terikat sepenuhnya kepada hal-hal atau orang-orang tertentu. Padahal kalau kita mau melihat dengan jernih, tidak ada satu pun hal/ orang di dunia ini yang memiliki kesetiaan sejati. Kita bisa ditinggalkan oleh sahabat dekat kita, atau seorang sahabat yang sangat dekat bisa berubah menjadi seorang musuh yang menikam dari belakang. Narkoba, miras justru menjerumuskan kita, bukan menolong kita. Banyak pacar yang tidak setia, di depan baik-baik, ternyata di belakang sudah punya yang lain. Banyak pacar yang berprinsip, “ada uang abang disayang, tak ada uang abang di tendang”
Saudaraku yang terkasih, Mazmur 34:19 katakan, “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya”. Ini janji Allah yang luar biasa kepada kita semua. Allah kita bukan seperti sahabat-sahabat kita yang tidak setia, Allah kita bukan jawaban sementara seperti miras dan narkoba yang justru menjerumuskan kita ke jurang dosa. Allah kita adalah Allah yang setia, yang mau bersama dengan kita, suka maupun duka. Ia adalah tempat perlindungan yang sejati. Ia tidak pernah membiarkan kita seorang diri.
Saudaraku yang terkasih, tantangan-pergumulan kehidupan orang-orang Kristen masa kini tidak semakin ringan, namun kian berat. Tidak mudah untuk berdiri tegap, dalam iman dan pengharapan kita kepada Yesus Kristus. Rasul Paulus mengibaratkan kehidupan orang-orang percaya di dunia ini, seperti seorang prajurit yang tengah berperang. Sebelum seorang prajurit berperang, mereka harus menyiapkan diri, khususnya membawa perlengkapan senjata. Orang-orang percaya, harus memakai perlengkapan senjata Allah, secara lengkap, secara utuh. Tidak hanya memilih salah satu saja. Bayangkan kalau hanya memilih memakai ketopong saja, untuk melindungi bagian kepala, bagaimana jika pedang itu mengenai bagian kaki? Pasti luka bahkan bisa mati! Tidak hanya memakai baju zirah, dan melupakan ikat pinggang. Apa yang akan terjadi? Dipastikan akan “mbrojol” pas dipakai berperang. Pakailah perlengkapan senjata itu dengan utuh.
Seseorang ditetapkan menjadi prajurit dan diberi perlengkapan sejata oleh komandannya, setelah melalui proses berlatih. Tidak tiba-tiba bisa menjadi seorang prajurit, tidak tiba-tiba memiliki perlengkapan senjata. Melalui proses berlatih, seseorang baru bisa mendapatkan perlengkapan senjata itu.
Sama dengan perlengkapan senjata Allah, orang-orang percaya harus berlatih, berproses, agar di dalam hidupnya, mereka bisa memiliki hati yang terus mengusahakan kebenaran, keadilan, hati yang rela melayani, iman yang teguh, keselamatan, dan tekun dalam mendalami firman Allah. Dan dari kesemuanya itu, doa menjadi bahan bakar- spirit- yang terus menopang kehidupan orang-orang percaya.
Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan, ibarat sebuah bangunan, makin tinggi bangunan, makin kencang angin yang menerpanya. Dibutuhkan pondasi yang dalam. Diperlukan juga tiang-tiang penyangga yang kokoh. Sehingga bangunan yang tinggi dan megah itu berdiri tegap, tidak goyah oleh apapun. Bangunan itu berdiri tegap, tak lekang oleh waktu. Biarlah kesetiaan dan ketaatan kita kepada Tuhan Yesus Kristus, sahabat sejati, sang  pelindung sejati, Allah sejati benar-benar sekuat bangunan dengan pondasi yang dalam dan tiang-tiang penyangga yang kuat.
Mari sesekali menoleh ke belakang, untuk mengenang campur tangan Allah yang luar biasa dalam perjalanan sejarah kehidupan kita, dan terus berdiri tegap, menatap ke depan, berproses, berjuang untuk tetap setia-taat kepada Allah.
Kesetiaan dan ketaatan itu sebuah pilihan. Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk tetap setia kepadaNya. Seperti Yesus, memberikan pilihan itu kepada Yudas Iskariot. Mau setia atau mau berkhianat. Sayang, Yudas iskariot, memilih untuk tidak setia. Bagaimana dengan kita, pilih setia atau berkhianat?
Lagu sekolah Minggu tadi, kalau di awal semua orang cari uang, sekarang kalau kita benar-benar mau berdiri tegap, setia kepada Allah, syair lagunya akan berubah.
“Apa yang dicari orang? Tuhan! Apa yang dicari orang? Tuhan! Apa yang dicari orang pagi, siang, sore, malam? Tuhan, Tuhan, Tuhan. Bukan uang saja! 
Tuhan Yesus memberkati. Amin.     



LEWAT PUJI-PUJIAN KEMAHAKUASAAN ALLAH DINYATAKAN
(Daniel 6:11-25; Kisah Para Rasul 16:23-26)
Om Swasti Astu...
Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, sekitar tahun 60 an ada sebuah gerakan Kekristenan di China, yang disebut gerakan gereja bawah tanah. Ini hanya gambar ilustrasi saja. Karena pada masa itu, belum ada alat-alat dokumentasi yang canggih seperti saat ini. Dan memang, gerakan gereja bawah tanah, sifatnya sangat rahasia, tersembunyi. Dikarenakan, pada masa itu, pemimpin pemerintahan China sangat membatasi pergerakan-perkembangan gereja.
Jumlah gereja dan anggota gereja sangat dibatasi. Tentu itu terkait dengan ideologi komunis yang akhirnya mengarahkan warga negaranya pada konsep “ateis”. Salah satu konsep yang terkenal pada masa itu adalah pemahaman bahwa agama adalah “candu” masyarakat. Semua yang berkaitan dengan hidup keagamaan harus sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah komunis China pada masa itu. Jika kedapatan orang berkumpul dan beribadah yang tidak sesuai dengan aturan pemerintah, mereka akan ditangkap, dimasukkan dalam penjara bahkan dibunuh.
Yang sungguh menarik ialah meski himpitan-tekanan terus dihadapi gereja-gereja bawah tanah di China, gerakan mereka tidak mati, langkah mereka tidak surut, tetapi justru semakin berkembang pesat. Semakin dibabat-semakin merambat. Persekutuan-persekutuan, ibadah-ibadah mereka selalu dirindukan dan dihadiri oleh banyak orang Kristen. Padahal, ibadah mereka cukup unik dan sangat sederhana. Ibadah dilakukan di gua-gua sempit, di sana mereka tidak saling berbicara, mereka membaca firman dalam hati begitu pun dengan menyanyi, mereka menyanyi dalam hati. Hanya di batin saja. Tetapi yang sungguh luar biasa, perkembangan gereja bawah tanah di China sungguh dahsyat. Allah sungguh-sungguh berkuasa dalam doa-doa mereka. Allah bertakhta di atas puji-pujian yang mereka nyanyikan, meskipun hanya dalam hati. 
Dari kisah nyata Gerakan Kekristenan di China tadi, saya mau katakan bahwa kemahakuasaan, kedahsyatan Allah akan dinyatakan, yang utama, bukan terletak pada indah atau tidak suara kita pada waktu bernyanyi, bukan karena alat-alat musik tertentu, yang canggih-yang modern, bukan juga karena permainan musik yang handal-hebat, bukan karena keras-pelannya suara nyanyian atau musik kita. Namun yang utama adalah bagaimana nyanyian itu benar-benar kita jiwai, kita hayati, bagaimana setiap syair nyanyian tersebut sungguh-sungguh kita hidupi. Dengan kata lain, bernyanyilah dengan hati. Meski hanya bernyanyi dalam hati, kalau kita sungguh-sungguh melakukannya, kemahakuasaan Allah sungguh-sungguh dinyatakan. Bukan berarti lalu, kita tidak mau menyanyi dengan mengeluarkan suara.
Belajar dari kedua kisah di dalam bacaan kita tadi, kisah Daniel dan juga kisah Paulus-Silas. Ada 2 hal yang bisa kita pelajari tentang bagaimana caranya supaya pujian yang kita naikkan sungguh-sungguh punya kuasa dari Allah. 2 K, K yang pertama, kita harus menjadi seorang pemuji yang punya ketaatan. Contohnya, Daniel. Dalam keadaan tertekan, menghadapi fitnahan rekan-rekannya, Daniel tidak mengandalkan kekuatannya sendiri, ia mengandalkan kekuatan Allah dengan cara hidup taat kepada Allah. Dikatakan, di ayat 11, “tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya...” Meskipun, ketaatan tersebut menjadi jurus ampuh bagi musuh-musuhnya untuk menuduh dan menghakimi Daniel. Bahkan karena ketaatannya kepada Allah, Daniel dimasukkan ke dalam gua singa. Tapi yang sungguh luar biasa, kisah Daniel berakhir happy ending. Karena kemahakuasaan Allah, Daniel diselamatkan dari terkaman singa-singa yang buas. Kemahakuasaan Allah dinyatakan kepada Daniel, karena Daniel adalah seorang pemuji yang punya ketaatan.  
Saudaraku yang terkasih, seorang pemuji harusnya juga seorang yang taat kepada Allah. Sayang sekali, ketika ada seorang pelayan Tuhan, entah itu pendeta, pengiring musik di gereja, song leader, singers, anggota paduan suara, kelihatan hebat ketika melayani Tuhan di tengah kebaktian. Sangat hebat bermain musik, suaranya sangat bagus, ikut dalam paduan suara yang hebat, tapi kehidupan sehari-harinya jauh dari Tuhan. Semuanya menjadi percuma, hanya kelihatan hebat, di depan manusia, namun sebenarnya Tuhan sedih melihat kehidupan kita.
Jangan sampai, di gereja, seseorang memakai mulut-bibirnya untuk memuji Tuhan, menjadi singers, song leader, anggota paduan suara, namun di luar sana, bibir dan mulut kita, penuh dengan caci maki, umpatan, perkataan kotor, fitnah, dsbnya. Atau di tengah kebaktian, tangan dan kaki kita, kita pakai untuk bermain musik, akan tetapi di luar sana, di sekolah, justru kita pakai untuk memukul, menendang teman kita. Sangat disayangkan. Puji-pujian yang kita naikkan kepada Allah, akan sungguh berkuasa, manakala kita sebagai seorang pemuji, sungguh-sungguh memiliki ketaatan kepada Allah.  
K yang kedua adalahkesehatian. Kita bisa melihatnya dari kisah Paulus dan Silas. Ketika menghadapi penderitaan yang hebat, mereka dimasukkan ke dalam penjara yang paling tengah, kaki mereka dibelenggu dalam pasungan yang kuat, Paulus dan Silas tidak saling menyalahkan, mereka tidak merasa takut, tetapi justru mereka memiliki kesehatian untuk menghadap Allah. Dikatakan, pada tengah malam mereka berdoa dan menyanyikan puji-pujian. Dan sungguh dahsyat kemahakuasaan Allah, tembok di dalam penjara itu runtuh karena gempa yang sangat dahsyat.
Saudaraku yang terkasih, kesehatian di antara para pemuji menjadi harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar. Entah itu dalam PS, Vokal Group, Band pengiring, song leader-singers, Tim ibadah, ataupun jemaat saat bernyanyi dalam rangkaian kebaktian. Percuma pelayanan musik kita hebat, PS kita dahsyat, tim ibadah kita sangat kreatif, sayang kalau hanya hebat di mata manusia, tetapi tidak dimata Allah. Karena di tengah PS kita, VG kita, band atau tim ibadah kita, masih ada rasa dendam, cemburu, sakit hati, luka batin, ada perseteruan, ketidak rukunan, ketidak harmonisan. Satu dengan yang lain saling menyalahkan, ada yang merasa paling penting, paling berperan, paling dibutuhkan dan ada yang merasa tidak berharga, tidak penting. Kalau itu sungguh terjad, dapat ipastikan pelayanan saudara, pujian yang saudara naikkan bagi Tuhan, musik yang hebat yang saudara-saudara suguhkan dalam setiap ibadah akan terasa hambar, kering, dan tidak akan mendatangkan kuasa dari Allah.
Saudaraku yang terkasih, pujian yang bisa mendatangkan kuasa dari Allah, tidak terletak pada volume suara, keras atau pelan. Bukan terletak pada hingar bingar iringan musik yang dipakai. Atau sebaliknya bukan juga karena, teduh, lembutnya alunan musik. Allah bisa bertahkta di atas pujian yang hingar bingar, yang semangat tetapi Allah juga bisa bertakhta di atas pujian yang lembut, teduh. Tidak boleh kita mempertentangkan satu dengan yang lain. Tidak bisa kita katakan, Roh Kudus mau datang kalau musiknya pakai band, sebaliknya Roh Kudus tidak mau datang kalau hanya pakai gitar/ organ. Itu sangat menyempitkan makna teologis sebuah pujian yang berkuasa. Roh Kudus, Allah tidak melihat alat musiknya lengkap atau tidak, tetapi Ia melihat kesungguhan kita di dalam menyanyi.
 Seperti Daniel, dia memuji di ruang yang sunyi, seberapa keras suara yang dihasilkan? Tidak keras. Tapi ia lakukan itu dengan penuh ketaatan. Hasilnya luar biasa. Singa yang ganas, seakan menjadi singa ompong. Singa pemakan daging, berubah selera menjadi singa pemakan buah-buahan. Begitu juga dengan kisah Paulus-Silas, mereka hanya bernyanyi berdua di dalam penjara itu. Suaranya tentu lebih pelan dari suara nyanyian kita saat ini, tetapi suara itu bisa menggoyahkan setiap sendi-sendi penyangga bangunan penjara itu. Sungguh dahsyat karya Allah.
Mari kita belajar untuk mengerti dan memahami bahwa nyanyian, musik, alat musik, sound sistem  itu hanya sarana saja, Allah bisa memberikan kuasanya lewat sarana-sarana itu, tetapi Allah juga bisa memberikan kuasanya dengan cara yang lain. Meski hanya bernyanyi dalam hati, hanya bertepuk tangan, hanya memakai iringan gitar saja, kuasa Allah bisa terjadi dengan hebatnya. Yang terpenting, sebagai seorang pemuji, kita harus memiliki ketaatan hidup dan kesehatian di anatara para pemuji.
Untuk mengakhiri kotbah ini, saya mengajak saudara-saudara untuk berdiri, dan menghayati serta menyanyikan, salah satu nyanyian rohani, berjudul “Anak Terang”. Mari kita nikmati setiap lirik/syair nyanyian ini.


-->
Minggu, 19 Agustus 2012 (Induk 17.00)      
Tema                : Menjadi Berkat Bagi Semua Orang
Bacaan            : Kejadian 39:1-6a, Matius 5:13-16

Kejadian 39:5 katakan, “sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas miliknya kepada Yusuf, Tuhan memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat Tuhan ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang”.
Dalam konteks Perjanjian Lama, ada satu keyakinan bahwa berkat Allah hanya diperuntukkan bagi umat pilihan Allah yaitu Bangsa Israel. Akan tetapi dalam kisah Yusuf ini, kita melihat bahwa melalui kehidupan Yusuf berkat Allah juga bisa dinikmati oleh bangsa lain. Khususnya bagi Potifar dan keluarganya. Meskipun Potifar adalah orang Mesir. Bahkan ia bekerja di istana Firaun. Salah seorang keturunan raja yang memiliki catatan sejarah kelam bagi umat israel. Melalui kehidupan Yusuf, Allah berkenan mencurahkan berkatNya, tidak hanya terbatas kepada Bangsa Israel, tetapi juga kepada orang-orang di luar Israel.
Pertanyaannya adalah apa “kunci keberhasilan” kehidupan Yusuf, sehingga ia diberkati oleh Allah dan berkat itu juga bisa memberkati semua orang? Saya menemukan ada 3 kunci keberhasilan kehidupan Yusuf:
1)   Spiritualitas
Yusuf memiliki spiritualitas (kehidupan rohani) yang baik. Ia hidup melekat pada Allah;  bergaul akrab dengan Allah; ia bergantung penuh pada janji dan pertolongan Allah. Bahkan Allah memberikan hikmat-kemampuan rohani kepada Yusuf, sebagai pribadi yang kerapkali mendapat penglihatan-petunjuk dari Allah melalui mimpi. Dan Yusuf bisa menafsirkan mimpi tersebut.
2)   Integritas
Yusuf pribadi yang taat, setia menjalankan perintah-hukum Tuhan, tidak mudah menyerah, tidak mudah kalah meski banyak tantangan-godaan yang kerapkali harus ia hadapi. Salah satu contohnya, Yusuf bisa tetap tegar, tidak menjadi frustasi,  tidak menyimpan atau memiliki keinginan membalas dendam kepada saudara-saudaranya. Yusuf bisa mengatasi segala kepahitan hidupnya, dan tetap menjadi pribadi berhati murni. Bahkan ke-integritasan Yusuf, benar-benar teruji, saat ia digoda oleh isteri Potifar.
3)   Kompetensi
Untuk bisa menjadi orang kepercayaan Potifar tentu bukan hal yang mudah. Secara manusiawi Yusuf harus banyak belajar, Yusuf harus mau mengasah-meningkatkan kemampuannya-skill-kompetensinya. Dalam usianya yang masih sangat muda dengan latar belakang sebagai seorang gembala, tentu ia belum punya pengalaman bekerja sebagai kepala rumah tangga. Tetapi Yusuf dengan tekun mau berproses meningkatkan kompetensinya.

Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, semestinya, orang-orang Kristen yang ingin hidupnya menjadi berkat bagi semua orang, harus juga memiliki ke-3 hal tadi, seperti yang ada dalam diri Yusuf. Spiritualitas yang baik, integritas yang kuat dan kompetensi yang unggul. Menjadi orang Kristen yang bisa memberkati semua orang tidak cukup hanya dengan memiliki spiritualitas yang baik artinya tidak cukup dengan menjadi pribadi yang rajin berdoa, tekun berpuasa, rajin ke gereja. Tidak mungkin juga orang punya integritas yang kuat jika ia tidak memiliki dasar kehidupan spiritualitas yang baik. Dan juga, tidak cukup hanya memiliki segudang kemampuan-skill, tanpa di dasari oleh spiritualitas dan integritas yang baik. Karena tanpa spiritualitas dan integritas, orang akan mudah jatuh, menggunakan kompetensinya-kemampuannya bukan untuk memberkati orang lain tapi untuk memberkati dirinya sendiri. Bukan untuk kepentingan orang lain tapi untuk kepentingan dirinya sendiri. Bahkan untuk memperdaya, menipu orang lain.
Misalnya, orang punya skill membuat senjata api, kalau ia tidak punya kehidupan spiritualitas yang baik dan ia tidak punya integritas, pasti ia akan gunakan senjata api itu untuk tindak kriminalitas. Atau karena iming-iming uang yang banyak, dengan gampangnya ia menjual senjata api itu kepada orang yang tidak tepat.
Bapak, ibu dan saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, belajar dari kehidupan Yusuf yang sebenarnya hanya sebagai seorang “budak/hamba”. Dan pada konteks zaman itu, seorang budak, “doulos” (budak belian) semestinya tidak memiliki hak-wewenang atas dirinya sendiri, apalagi atas orang lain. Tetapi Yusuf berbeda, ia punya pengaruh yang luar biasa atas kehidupan Potifar dan seisi rumahnya. Menjadi teladan bagi kita semua, misalnya, di tengah kehidupan pekerjaan kita, mungkin saat ini, kita tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi atasan, kita bekerja hanya sebagai staff-bawahan yang mungkin rasanya tidak terlalu diperhitungkan-tidak terlalu penting.
Tapi saat ini mari belajar dari kehidupan Yusuf, statusnya memang sebagai seorang “budak” tetapi ia bisa mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Ia menjadi berkat bagi banyak orang di sekitarnya. Status boleh staff, bawahan, tetapi kehidupan kita harus bisa menjadi berkat-punya pengaruh, menginspirasi orang-orang di tempat kerja kita. Tentu melalui spiritualitas kita, ketekunan, ketaatan, kejujuran, kesetiaan, keramah tamahan kita, dan juga kemauan-kerja keras kita.  Dengan kata lain, jadilah orang-orang Kristen yang luar biasa. Bukan yang biasa-biasa saja. Apapun pekerjaan kita dan dimanapun kita ditempatkan.
Ulangan 28:13, katakan, TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia”. Menjadi orang-orang Kristen luar biasa adalah orang Kristen yang bermental kepala bukan ekor. Orang Kristen yang berkarakter pemimpin, bukan hanya sebagai anggota. Berkarakter pemain, bukan hanya penonton. Menjadi orang Kristen yang tidak hanya sedang-sedang saja. Menjadi orang Kristen yang bermental kepala, misalnya: ada kesempatan, menjadi ketua RT/ RW, minimal pengurus di lingkungan,  ambillah kesempatan itu. Karena itu adalah kesempatan bagi kita untuk semakin bisa menjadi berkat bagi banyak orang. 
Matius 5:13-16, katakan, “kamu adalah garam dunia dan terang dunia”. Bukan, “kamu harus menjadi garam dunia dan terang dunia”. Artinya apa? Garam dunia dan terang dunia itu bukan harapan, cita-cita, tujuan hidup orang Kristen melainkan sebuah status yang sudah paten bagi orang Kristen. Orang Kristen adalah garam dunia dan terang dunia.
Orang Kristen yang bermental ekor, ibarat terang yang ditaruh di bawah gantang, yang terangnya tidak menerangi sekitarnya. Ibarat garam yang sudah menjadi tawar, tidak ada lagi gunanya. Orang Kristen yang luar biasa, adalah orang Kristen yang bermental kepala, seperti garam yang mengasinkan, yang melezatkan makanan. Ibarat terang yang sungguh-sungguh menerangi sekitarnya.
Saya mengajak bapak, ibu dan saudara semua untuk berdiri. Kita akan melakukannya bersama-sama. Tangan ke atas (Spiritualis). Tangan menyilang ke dada (integrity). Tangan mengepal dan memutar (Kompetensi-Belajar & Belajar). Tuhan Yesus Memberkati. Amin.





2 komentar:

  1. Ga sengaja lihat sharing blog ini di fb mbak oki.
    Blogwalking yaaahh...
    Semangat menulis bapa pandita ...!

    BalasHapus